Dipanggil untuk Semakin Rendah Hati

Kamis (8/9), kelima biarawati Kongregasi Suster-suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) mengikrarkan profesi sementara. Mereka adalah Sr. M. Avelina FCh dari Unit Pastoral St. Yohanes Don Bosco Rumbia, Keuskupan Tanjung Karang;  Sr. M. Genoveva FCh, dari Paroki St. Yusuf Pekerja Tulang Bawang, Keuskupan Tanjung Karang; Sr. M. Eveline FCh; Sr. M. Filomena FCh; dan Sr. M. Franzeina FCh, yang ketiganya berasal dari Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari, Keuskupan Agung Palembang.

Kelima biarawati Kongregasi FCh mengikrarkan kaul yang diterima oleh Pimpinan Umum Kongregasi, Sr. M. Henrika FCh

Profesi sementara ini dilangsungkan dalam Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Dalam profesi pertama ini, mereka mengikrarkan kaul ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan selama tiga tahun.

Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono memberikan homili tentang teladan Bunda Maria

Tepat pada Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria, Uskup Harun mengisahkan sikap-sikap Bunda Maria yang dapat diteladani oleh para suster.

“Kita mengetahui kalau Maria adalah seorang perempuan biasa. Dalam usia remaja, barangkali berusia 17 tahun menurut Hukum Yahudi, ia bertunangan dengan Yosef. Ia taat pada orangtua, taat pada hukum Taurat. Ia tersembunyi dalam kebiasaan sehari-hari orang desa. Seorang perempuan barangkali memasak, mencuci, mengambil air ke sumur, belajar Taurat di rumah, dan pada hari Sabat, pergi ke Sinagoga. Namun sejarah hidupnya berubah saat dia mengalami peristiwa yang tak pernah dipikirkannya. Dia dikunjungi Malaikat Gabriel yang menawarkannya tugas, ‘Maukah engkau mengandung seorang anak laki-laki, yang akan kauberi nama Yesus, yang akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi?’,” kisahnya di Kapel Postulat Novisiat St. Bonaventura Palembang.

Bukan tanpa risiko. Meski demikian, Bunda Maria tetap menerima tawaran Malaikat Tuhan, sekalipun ia tidak tahu bagaimana masa depannya. “Maria tak pernah sekolah tinggi, tak pernah belajar discernment, dan tak pernah ikut aneka kursus, ternyata dalam keadaan seperti itu Maria menjawab, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.’,” tutur uskup agung.

Maria lewat perkataannya, menunjukkan kualitas pribadinya sebagai seorang sederhana, rendah hati, dan selalu bersedia mencari tahu kehendak Allah. Bahkan ia tetap menyimpan segala sesuatu dalam hatinya atas sikap-sikap Yesus, yang tidak seperti anak pada umumnya.

Beberapa suster sekongregasi yang mengikuti Ekaristi Profesi Sementara kelima suster FCh

“Yesus menunjukkan tanda-tanda yang kurang menyenangkan terhadapnya (Maria) sejak kecil sampai Dia besar. Di Bait Allah ketika umur 12 tahun Yesus hilang dan ketika ditemukan setelah susah payah dicari, Yesus malah mengatakan, ‘Mengapa engkau mencari Aku? Bukankah Aku harus berada di rumah Bapa-Ku?’ Setelah dewasa, bukannya mengurus ibu-Nya, Yesus malah sibuk mengajar orang-orang yang disingkirkan masyarakat, pengemis, pelacur, orang-orang cacat, kusta, pemungut cukai, orang-orang kerasukan roh. Apakah Maria langsung mengerti Anaknya ini?” tanya Uskup Harun.

Para calon suster Kongregasi FCh sedang bertugas menjadi putri altar

Maria, katanya, mungkin tidak mengerti sikap Yesus. Namun, ia tetap taat. “Kita juga belajar dari Maria arti ketaatan. Ketaatan penuh dengan rendah hati hanya berarti, ketika kita harus rela mengorbankan kehendak sendiri, betapapun tampaknya kehendak itu begitu bagus, rasional, dan masuk akal. Itulah kualitas Maria. Semoga para saudari kita juga demikian. Setia pada janji yang akan diucapkan,” harapnya.

Sama seperti komitmen Bunda Maria akan janjinya kepada Malaikat Tuhan, menjadi suster pun adalah sebuah komitmen. Ini dikatakan Pimpinan Umum Kongregasi FCh, Sr. M. Henrika FCh.

Sr. M. Filomena FCh mengikrarkan kaul publik di hadapan Pimpinan Kongregasi, disaksikan pimpinan Gereja dan umat yang hadir

“Menjadi suster adalah sebuah komitmen, dengan berani memberikan diri untuk Tuhan dalam pelayanan dan tidak akan pernah menikah untuk selamanya,” katanya.

Lebih dari itu, menjadi suster adalah sebuah panggilan.

“Dan kita yang mempersembahkan diri, memang sudah dipanggil dan dipilih oleh Allah. Oleh karena itu, kita harus terus-menerus membangunkan semangat kita, membangunkan keyakinan kita bahwa kita adalah orang-orang pilihan, bukan untuk suatu kesombongan tetapi untuk semakin rendah hati seperti Bunda Maria. Semakin sederhana dan rendah hati agar kita sungguh-sungguh dibimbing oleh Roh Tuhan sendiri dalam perjalanan hidup untuk memberikan persembahan diri yang total,” pesan Sr. Henrika FCh. ** Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.