“Di dalam anugerah Tuhan kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Tuhan,” kata St Paulus (Roma 5:2).
Robert Wolter Monginsidi, pahlawan nasional, lahir di Malalayang, 14 Februari 1925, Sulawesi Utara. Dia adalah anak keempat dari Petrus Mongisidi dan Lina Suawa. Pendidikannya ditempuh pada sekolah-sekolah berbahasa Belanda dan Jepang. Lantas dia mengajar bahasa Jepang di Liwutung, Minahasa, dan Luwuk, sebelum ke Makassar.
Setelah Proklamasi kemerdekaan RI, Belanda kembali masuk ke Indonesia melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Hal ini membuat rakyat marah. Terjadi perlawanan di mana-mana di negeri yang baru ini. Di Makasar, Robert Wolter Monginsidi bersama Ranggong Daeng Romo dan lainnya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS).
Mereka menyerang Belanda. Robert Wolter Monginsidi ditangkap Belanda pada 28 Februari 1947, tetapi berhasil kabur pada 27 Oktober 1947. Belanda menangkapnya kembali. Ia dijatuhi hukuman mati melalui eksekusi oleh tim penembak pada 5 September 1949. Jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar, pada 10 November 1950.
Satu hal yang patut disimak dari sosok Robert Wolter Mongisidi adalah semangat pantang menyerah saat berjuang demi NKRI. Hal itu terungkap melalui pernyataan yang ditulisnya, ketika ia jatuh ke tangan penjajah, “Jika jatuh sembilan kali, bangunlah 10 kali. Jika tidak bisa bangun, berusahalah untuk duduk dan berserah pada Tuhan.”

Butuh Proses
Tidak mudah orang berserah diri kepada Tuhan. Banyak orang mau berjuang sendiri dalam hidupnya. Orang merasa kuat, sehingga tidak membutuhkan bantuan orang lain. Bahkan orang merasa tidak perlu mendapatkan pertolongan dari Tuhan. Tentu saja hal ini merupakan suatu kesombongan.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berani berserah diri kepada Tuhan. Robert Walter Monginsidi menyatakan keterbatasan hidupnya dengan berserah diri kepada Tuhan. Dia yakin, Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu akan memberikan kekuatan baginya.
Namun banyak orang kurang yakin akan penyelenggaraan Tuhan. Mengapa? Karena mereka merasa diri mampu menyelenggarakan hidup ini. Padahal manusia adalah makhluk yang terbatas. Manusia hanya bisa berdaya, ketika Tuhan ikut campur tangan dalam hidupnya.
Mari kita terus-menerus berserah diri kepada Tuhan. Dengan demikian, hidup kita menjadi kesempatan untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
