Beberapa waktu lalu, saya diminta oleh Pak Rahmat menjadi pendamping rohani kelompok ziarek (ziarah dan rekreasi) di Vietnam. Ia adalah orang asli Vietnam tetapi bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Ia sudah lebih dari 10 tahun memandu kelompok-kelompok orang Indonesia dalam ziarek ke Vietnam. Kali ini, ia memimpin 29 orang umat Katolik dari lingkungan Santa Maria Magdalena, paroki St. Laurentius, Jakarta, selama delapan hari.

Saya sangat menikmati ziarek ini. Saya hanya diberi tugas memimpin misa dan memimpin doa rosario serta doa-doa lain setiap hari. Selebihnya, saya hanya duduk manis di bis; makan minum ringan, mendengarkan Pak Rahmat berkisah tentang Vietnam, mendengakan musik atau sekedar bermain handphone, menghabiskan kuota internet hehehehehe…
Saya juga mengikuti seluruh acara peserta dalam berziarek, di beberapa tempat istimewa. Kami keliling Kota Hanoi, (Ibu Kota Vietnam) lalu ke Kota Sapa; kota yang paling sejuk dan dingin di Vietnam, bahkan ada salju saat musim dingin. Kami juga ke daerah Fansipan Legend, negeri di atas awan, karena berada di ketinggian 3143 meter di atas permukaan laut.
Kami juga ke Halongbay, pantai terunik di Vietnam yang juga menjadi saksi kemenangan tantara Vietnam saat perang melawan China, pada waktu lampau. Kami juga menyusuri daerah wisata di Propinsi Danang, di Banahil: sebuah kompleks wisata di pegunungan yang memiliki bangunan-bangunan gaya Eropa.
Kami juga berziarah ke Bunda Maria La Vang, di Vietnam Tengah. Kami juga menyempatkan untuk menjelajahi Kota Hue, dan tidak lupa menikmati Kopi Kelapa, kopi khas-nya kota Hue. Dan, tentu saja, kami menjelajahi kota Ho Chi Minh, kota terpadat penduduknya di Vietnam, yang juga menjadi kota pusat industri dan pariwisata.

Bagi saya, dari seluruh acara ziarek ini, hari keenam adalah hari yang paling berkesan. Sebab, pada hari itu, kami berziarah di Bunda Maria La Vang (dalam Bahasa Vietnam disebut Đức Mẹ La Vang). Ini adalah kali pertama saya berziarah ke sini, walaupun saya sudah tiga tahun tinggal di Vietnam. Memang ada beberapa orang yang mengajak saya ziarah ke sini, tetapi memang belum bisa. Selain itu, karena ada banyak orang yang berkisah tentang Bunda Maria La Vang, membuat saya penasaran dan ingin sekali ke sana. Pernah juga, saya membaca artikel yang mengatakan bahwa La Vang, Vietnam adalah Lourdes-nya Asia. Hmmmm….
Jika kita membaca sejarah umat Katolik di Vietnam, kita akan tahu bahwa antara tahun 1745-1886 umat Katolik di Vietnam dianiaya oleh pemerintah. Pemerintah melarang Agama Katolik hidup dan berkembang. Selama tahun-tahun itu, lebih dari 100.000 umat katolik Vietnam dibunuh. Dari sumber tertulis, kita juga bisa menemukan kisah tentang umat Katolik di Vietnam Tengah, yang bersembunyi di hutan-hutan, yang jauhnya sekitar 60 km dari perkampungan mereka. Mereka hidup sangat susah karena cuaca yang dingin, ada ancaman serangan binatang buas, serta dilanda berbagai penyakit karena tinggal di alam liar dan kekurangan makanan. Namun, dalam situasi sulit itu, mereka tetap bertekun dalam iman. Setiap malam, mereka berkumpul untuk mendaraskan Doa Rosario.

Suatu malam, tahun 1798, Bunda Maria menampakan diri kepada mereka. Bunda Maria mengenakan áo dài (gaun tradisional Vietnam) dan menggendong kanak-kanak Yesus. Bunda Maria menyemangati dan menghibur mereka untuk tetap setia berdoa rosario. Bunda Maria juga menyuruh mereka merebus daun-daun yang ada di tempat itu dan meminum airnya sebagai obat. Bunda Maria juga berjanji bahwa sejak saat itu, mereka semua yang datang ke tempat itu untuk berdoa, doa-doanya akan didengarkan dan dikabulkan.
Setelah itu, Bunda Maria menampakkan diri beberapa kali di tempat ini. Beberapa tahun kemudian, sesudah penganiayaan berkurang, tahun 1800-an, umat kembali ke kampung-kampung mereka, tidak lagi bersembunyi di hutan. Umat juga mendirikan sebuah kapel kecil di tempat penampakan. Karena kabar penampakan ini tersebar, maka walaupun lokasinya terpencil dan sulit dijangkau, ada banyak orang yang datang untuk berziarah. Namun, pada tahun 1820 -1885 terjadi lagi penganiayaan umat Katolik. Pada tahun 1885 kapel Bunda Maria di La Vang dihancurluluhkan.

Setahun kemudian, setelah penganiayaan resmi berakhir, dibangun Gereja untuk menghormati Bunda Maria. Karena tempat yang sulit dan keterbatasan biaya dan peralatan, Gereja ini selesai dibangun setelah 15 tahun. Pada tahun 1901 Gereja ini diresmikan. Pada tahun 1928, sebuah gereja yang lebih besar dibangun untuk menampung para peziarah yang semakin hari semakin bertambah banyak.
Kemudian hari, 22 Agustus 1961, Paus Yohanes XXIII menaikkan status Gereja La Vang ini menjadi Basilika Minor La Vang. Tetapi, saat terjadi perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, tahun 1972, Basilika Minor La Vang ini hancur karena dibom. Namun, sebuah keajaiban terjadi, meskipun seluruh bangunan hancur, namun pintu utama masuk basilika ini masih utuh, dan dipertahankan sampai kini.
Untuk sampai ke tempat Ziarah Bunda Maria La Vang ini, kami naik bus selama sekitar 60 menit, dari tempat kami menginap di Kota Hue. Saya memimpin misa dalam Bahasa Indonesia. Ada belasan umat Vietnam yang juga mengikuti misa. Usai misa, kami berdoa sendiri-sendiri.

Kami juga berkeliling melihat sebagian kompleks ziarah yang luasnya sekitar enam hektare. Di belakang patung Bunda Maria, ada kompleks untuk berdoa Jalan Salib, yang juga di sebuah dinding sepanjang sekitar 15 meter ada relief 117 martir Vietnam yang dikanonisasi oleh paus Yohanes Paulus II, pada tanggal 19 Juni 1988. Sekitar 10 meter di samping kiri patung Bunda Maria, ada sebuah altar tempat kami misa.
Di kompleks ini juga ada Basilika La Vang, yang diresmikan tahun 1998, dalam rangka memperingati 200 tahun penampakan Bunda Maria di tempat ini. Masih di dalam kompleks ini, kita bisa melihat tanaman: “La Vang”, yang saat penampakan, Bunda Maria minta kepada umat untuk merebus dan minum airnya. Ada juga gedung dua lantai yang bisa digunakan oleh peziarah dari luar daerah untuk beristirahat atau bahkan bermalam (dengan biaya sukarela). Di kompleks ini hanya ada satu toko rohani yang dikelola oleh suster.
Selain itu, ada banyak kisah lisan yang beredar tentang penampakan Bunda Maria di la Vang dan banyak doa yang dipanjatkan di la Vang, dikabulkan. Hal itu membuat banyak orang ingin berziarah ke sini. Maka, jika pembaca sekalian ke Vietnam, luangkanlah waktu untuk ke La Vang. Tetapi, jika tidak ada kesempatan untuk ke La Vang, ya tidak apa-apa. Mari teruslah mendaraskan doa Rosario, kapan saja, tidak hanya saat musim doa Rosario atau saat bulan Maria. Se7? Tuhan memberkati kita semua. **
P. Aloysius Tri Mardani SCJ

Artikel ini menambah pengetahuan saya tetang penampakan Bunda Maria di Asia. Sebelumnya saya sama sekali tidak tahu tentang kisah ini.
Terima kasih banyak romo Dani ??
sama-sama mbk Tina
Selamat malam. Perkenalkan Saya Lisa dr Jkt. Apakah ada informasi mengenai toko rohani fi Vietnam yg menjual patung Bubda Maria?