Murah hati mampu terjaga selama kita mengalami kemurahan hati Tuhan.
Suatu hari seorang bapak berjumpa dengan pembimbing rohaninya sewatu masih muda. Perjumpaan itu terjadi setelah belasan tahun. Mereka berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka saling berbagi cerita tentang masa-masa hidup mereka masing-masing.
Ketika berhenti di sebuah toko, pembimbing rohani itu berkata, “Kamu ambil satu yang cocok, nanti saya yang bayar.”
Bapak itu segera memilih baju yang dia inginkan. Tetapi tidak ada ukuran yang sesuai. Sekalipun tidak jadi memiliki baju baru, dia bersyukur mendapati kemurahan hati pembimbing rohaninya itu masih terjaga, seperti yang dahulu dia kenal.

Meneladan Tuhan yang Murah Hati
Sering kita mendapati banyak orang berubah karakter setelah masa tertentu. Perubahan itu terjadi bahkan dari yang baik hingga yang buruk. Ada banyak alasan yang bisa diungkapkan. Namun yang jelas hal seperti ini menjadi keprihatinan bagi hidup kita.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk senantiasa memiliki kemurahan hati dalam hidup ini. Kemurahan hati itu memberi semangat kepada orang lain untuk melakukan hal-hal yang baik bagi hidup bersama. Pembimbing rohani itu tetap menghidupi semangat murah hati. Meski orang yang dibimbing itu telah memiliki segalanya, dia tetap menampilkan kemurahan hatinya.
Pertanyaannya, bisakah kemurahan hati seseorang memudar? Bisa sekali! Namun sebaliknya, karakter murah hati dalam diri seseorang juga bisa bertahan dalam waktu lama. Mengapa? Karena Tuhan sendiri meneladankan hal ini. Tuhan senantiasa murah hati kepada ciptaanNya. Dia memberikan apa saja yang dibutuhkan bagi kelanjutan hidup ciptaanNya.
Mari kita meneladan Tuhan yang murah hati. Kita memberi apa yang kita miliki demi hidup yang lebih baik bagi sesama kita. Dengan demikian, hidup kita menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan sesama. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
