Sabtu (29/10) sekitar pukul 07.30 WIB, pelataran Auditorium Ballroom Asissi Charitas Hospital Palembang sudah dipadati lebih dari seratus orang. Mereka datang dari berbagai latar belakang: profesi, pendidikan, usia, maupun jenis kelamin.
Pagi itu, mereka mengikuti dua acara besar yang diselenggarakan Charitas Hospital Palembang, yaitu Seminar Awam serta Skrining Gangguan Tiroid dan Diabetes Mellitus. Pertama-tama, peserta seminar diarahkan ke meja skrining, guna mengisi butir-butir pertanyaan, untuk mengetahui apakah orang itu berisiko terkena gangguan tiroid dan diabetes mellitus. Mereka yang dinilai berisiko, berkesempatan mendapatkan pelayanan pemeriksaan gratis, melalui pengambilan sampel darah. Setelahnya skrining, para peserta diberi edukasi melalui seminar.

Seminar Skrining Awal Gangguan Tiroid dan Diabetes Mellitus merupakan bentuk kepedulian Charitas Hospital bersama dengan PT Merck, Tbk, terhadap kesehatan masyarakat. “Keberadaan Charitas Hospital merupakan bagian dari masyarakat Sumatera Selatan dan sekitarnya. Maka jangan segan kalau ada keluhan kesehatan, datang dan berkonsultasilah ke dokter-dokter kami. Kami juga menginformasikan kalau kami melayani pasien BPJS dan asuransi,” kata dr. Sutomo, direktur Charitas Hospital Palembang.
Seminar ini penting, karena menurut dr. Sutomo, MARS, dari hasil penelusurannya, risiko diabetes mellitus mencapai 10%. Artinya dari 10 orang, ada 1 orang yang mengidap penyakit ini. “Diabetes atau bahasa awamnya penyakit gula, ada yang menjuluki dalam bahasa Inggrisnya sebagai silent killer. Ini bahaya, karena dapat mengganggu organ tubuh lain, misalnya ke ginjal, yang berakibat harus cuci darah,” jelasnya.

“Begitu juga dengan kelainan tiroid. Kalau bicara soal tiroid, secara awam kita berpikir tentang gondok. Nah, ternyata, ini juga penting. Gejalanya mirip-mirip antara kedua penyakit ini (tiroid dan diabetes mellitus,” kata dr. Sutomo.
Seminar tentang gangguan tiroid diberikan oleh dr. Yulianto Kusnadi, SpPD, K-EMD, FINASIM; sedangkan dr. Yulianty Saulina Fransisca, SpPD, FINASIM, memberikan materi tentang diabetes mellitus.
Bahaya Pre-Diabetes: Apa yang perlu kita ketahui?
Diabetes mellitus adalah suatu penyakit kronis yang merupakan silent killer. Diabetes mellitus menyebabkan gangguan gula dalam darah. Sebelum mengidap diabetes, ada yang namanya pre-diabetes. Pre-diabetes adalah keadaan dimana konsentrasi glukosa darah HbA1C (Hemoglobin A1C) diatas normal, tapi belum memenuhi kriteria diabetes.
Tahu tentang pre-diabetes penting untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. Diabetes, dapat mengakibatkan makroagiopati maupun mikroagiopati, yaitu kerusakan atau gangguan pada pembuluh darah besar dan kecil. “Komplikasi kronik diabetes mellitus tipe 2 adalah retinopati diabetikum (kerusakan pembuluh darah pada retina) yang menyembabkan kebutaan, nefropati diabetikum (komplikasi diabetes mellitus pada ginjal, yang mengakibatkan gagal ginjal), amputasi, stroke, dan penyakit kardiovaskular (jantung),” jelas dr. Yulianty.

Siapa yang Berisiko Terkena Diabetes?
Menurut dr. Yulianty, mereka yang berisiko terkena diabetes adalah mereka yang “menderita hipertensi, riwayat kolesterol tinggi, sering mengonsumsi makanan dan minuman manis, punya kebiasaan merokok, berusia di atas 45 tahun lebih berisiko, kelebihan berat badan, adanya riwayat keluarga, kurangnya aktifitas fisik, saat hamil yang pernah diketahui mengalami gula darahnya tinggi atau melahirkan anak lebih dari 4 kilogram,” paparnya dr. Yulianty.

Bagaimana Cara Mendeteksi Diabetes?
Cara mendeteksi dini pre-diabetes adalah dengan memeriksa gula darah. Jika sudah terdiagnosis pre-diabetes atau diabetes, dr. Yulianty menghimbau agar melakukan perubahan gaya hidup. “Melakukan aktifitas fisik secara teratur 30 menit setiap hari, lima hari dalam seminggu. Bila kelebihan berat badan, maka turunkan. Bila punya kebiasaan merokok, maka hentikan kebiasaannya,” katanya.
Bagi penderita kolesterol dan hipertensi, penting menurut dr. Yulianti untuk berkonsultasi ke dokter. “Kita bisa mengenali risiko dengan melakukan pemeriksaan gula darah awal. Mengupayakan pola hidup sehat, akan menurunkan risiko Anda terkena pradiabetes, bahkan diabetes tipe 2. Mulailah hari ini untuk hidup sehat dan bahagia,” pesan dr. Yulianty.
Mengenal Gangguan Tiroid
Penyakit tiroid adalah gangguan yang disebabkan oleh kelainan bentuk atau fungsi pada kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid terletak di bagian leher. Tidak hanya diabetes, gangguan tiroid pun cukup berbahaya.
“Kelenjar tiroid meskipun kecil, tapi fungsinya penting untuk memperoduksi dua hormon, yaitu t3 dan t4. Untuk memperoduksi kedua hormon tiroid itu, dibutuhkan yodium. Makanan yang mengandung yodium adalah ikan laut, makanan laut, garam beryodium, dan produk susu,” jelas dr. Yulianto.

Gangguan Tiroid: Fungsi dan Bentuk (Benjolan)
Hormon tiroid, berperan dalam seluruh usia kehidupan manusia. Misalnya pada masa anak-anak, hormon tiroid memengaruhi tumbuh kembang, termasuk kecerdasan anak. Secara singkat, gangguan fungsi hormon tiroid bisa dibagi menjadi dua, yaitu hipotiroid atau kekurangan hormon tiroid, baik t3 atau t4, dan hipertiroid kelebihan hormon tiroid.
dr.Yulianto mengilustrasikannya seperti ini. “Seperti bahan makanan yang harus kita masak, begitu juga hormon tiroid berfungsi mengubah protein, lemak, dan karbohidrat menjadi energi. Kalau hormon tiroid terlalu banyak (hipertiroid), seperti kalau kita masak, apinya kebesaran, maka akan gosong, begitu juga hormon tiroid. Sebaliknya kalau hipo, apinya kecil, maka lambat masaknya.”

Adapun beberapa gejala hipoteroid adalah tubuh cepat dan sering merasa lelah, perubahan pada kulit, sering kedinginan, tidak bisa buang air besar, sedangkan hiperteroid sebaliknya, penderita tidak bisa tidur, mudah marah, berat badan menurun drastis, dan tremor.
Gangguan bentuk tiroid, bisa dilihat secara fisik. Misalnya saja dengan meraba, apakah ada benjolan di sekitar kelenjar tiroid. “Ini harus diperiksa apakah ganas atau jinak,” kata dr. Yulianto.
Lebih lanjut, tentang gangguan tiroid, dr. Yulianto menjelaskan, “Gangguan tiroid dapat menganggu metabolisme tulang, kerja sistem jantung dan pembuluh darah, fungsi otot, kerja otak, sistem saraf dan psikis, berperan dalam kesuburan dan kehamilan, tumor jinak, kista, dan kanker,” lanjut dr. Yulianto.

Lakukan Deteksi Dini Gangguan Tiroid
Jika Anda ingin mengetahui potensi gangguan tiroid pada diri Anda, silahkan datang ke Charitas Hospital. Nantinya, dokter akan melakukan wawancara. Setelahnya, jika dibutuhkan, akan dilakukan pemeriksaan fisik. “Dapat dilakukan dengan perabaan pada kelenjar tiroid. Lalu melakukan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lain, misalnya memeriksa atibodi,” jelas dr. Yulianto.

Bagaimana Cara Mencegah Gangguan Tiroid?
“Cara mencegahnya bisa dengan meningkatkan konsumsi yodium, misalnya dengan konsumsi garam beryodium dan suplemen yodium. Jika benjolan kelenjar membesar, dengan gejala sulit bernafas dan sulit menelan, dan adanya kecurigaan terhadap adanya keganasan, bisa dilakukan dengan operasi maupun terapi,” jelasnya.
** Kristiana Rinawati
