“25 tahun yang lalu, kami ditahbiskan di Tugumulyo, menerima berkat imamat dari Mgr. Aloysius Sudarso SCJ. Saya ingat kata-kata Mgr. Aloysius saat itu. ‘25 tahun lalu saya ditahbiskan di sini. Lalu setelah 25 tahun, saya menahbiskan di sini,’ di Tugumulyo maksudnya,” kenang Romo Laurentius Suwanto SCJ dalam homili sore itu.
Rabu sore, (16/11) bertempat di Rumah Retret Giri Nugraha Palembang, dirayakan Ekaristi syukur atas 25 tahun imamat tujuh orang imam. Empat yang hadir adalah Romo Antonius Dwi Pramono SCJ, Romo Laurentius Suwanto SCJ, Romo Andreas Suparman SCJ, dan Romo Yohanes Bosco Sumisran Pr. Tiga lainnya yang tidak hadir adalah Romo Thomas Eddy Susanto SCJ, Romo Robertus Sutopo SCJ, dan Romo Yustinus Slamet Antono Pr.

Tahbisan, bagi Romo Suwanto, adalah anugerah Tuhan bagi Gereja-Nya. Ini sekaligus kepercayaan yang diberikan Allah kepada mereka untuk “seperti dalam Injil tadi, memperkenalkan gembala yang baik dan membawa orang menuju pintu yang benar. Ini menjadi tantangan bagi kami, untuk bisa membawa orang-orang yang dipercayakan kepada kami, kepada Pintu Keselamatan.”

Lain Romo Wanto, lain Romo Yohanes Bosco Sumisran Pr. Bagi Romo Misran, begitu ia akrab disapa, tahbisan melahirkan sukacita dan kegembiraan sejati. Sukacita, karena ia merasakan mukjizat Tuhan dalam hidupnya.
“Mukjizat itu terjadi kalamana saya selesai bedah kepala. Pada 22 Mei 1999, dengan proses yang begitu panjang. Saya di ruang operasi 13 jam. Lalu masuk ICU. Perkiraan saya 3 atau 4 hari, rupanya 8 hari. Masuk dalam alam ketiadaan. Dan ketika sadar apa yang terjadi? Semuanya saya lihat, saya rasakan terjungkir semua. Semua terbalik,” cerita Romo Misran, yang saat ini melayani sebagai pastor rekan di Paroki Katedral Santa Maria Palembang.

Romo Misran, mendapat mukjizat kesembuhan, usai melihat Yesus yang bercahaya menyentuh sekujur tubuhnya. “Karena kala itu ada 2 biarawati bertarekat CB. Setiap saat hadir jam 15.00 kurang 5 menit. Kalau tidak memegang tangan saya, memegang kaki saya. Mereka berdua mengatakan, romo kita berdoa. Saya tidak tahu doa apa. Tapi setelah 3 hari, baru saya pahami, ternyata mereka doa Koronka Kerahiman,” kisahnya.
“Pada hari ke-9 inilah yang saya rasakan. Ada sebuah sinar kemerahan dan kebiruan menyinari kepala saya sampai ke kaki. Dan pada saat itu, badan saya yang pakai pakaian rumah sakit, basah kuyup. Lalu tiba-tiba saya bisa melompat dari tempat tidur,” kenang Romo Misran. Dari sejak itu, Romo Misran mengaku tidak pernah absen berdoa Kerahiman Ilahi.

Hal yang luar biasa juga dirasakan Romo Antonius Dwi Pramono SCJ. Baginya, tahbisan adalah berkat Tuhan yang luar biasa.
“Saya bilang gini, saya ini orang biasa, tapi rahmat Tuhan, berkat Tuhan luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena Tuhan memampukan saya untuk bisa menjadi imam dan setia sampai 25 tahun ini,” katanya.
Perak hidup imamat dimaknainya sebagai pesta umat.
“Kalau saya merayakan 25 tahun imamat, harusnya semua merayakan, karena imam hadir untuk umat. Jadi umat harusnya yang pesta. Imam dipilih oleh Tuhan, diberkati dan dikhususkan untuk umat.”
Tahbisan adalah sebuah kasih dan kesetiaan, begitulah Romo Andreas Suparman SCJ memandang perjalanan tahbisannya.
“Kasih dan setia. Selalu saya katakan itu dalam peristiwa-peristiwa. Semua itu karena kasih Tuhan dan kesetiaan-Nya. Kasih Tuhan yang menciptakan hidup kita. Panggilan juga karena kasih Tuhan. Sampai bertahan itu karena apa? Itu karena kesetiaan Tuhan,” kata Romo Provinsial Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus Provinsi Indonesia ini.

Seperempat abad dilaluinya dengan sukacita.
“Maka kalau (ditanya) apa yang membuat saya bahagia? Yang membuat bangga dalam panggilan? Itu kalau melihat Tuhan setia, walaupun saya tidak setia. Dan yang membuat saya sangat sedih, kalau saya tidak setia pada Tuhan, tidak setia pada umat-Nya, pada Gereja,” kata Romo Suparman.


Ekaristi syukur sore itu dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Romo Felix Astono Atmaja SCJ, dan dihadiri oleh sekitar 300 umat, biarawan-biarawati, dan imam. Usai Ekaristi, acara dilanjutkan dengan ramah tamah. **Kristiana Rinawati










