Seorang bijaksana berkata, “Hendaklah hidup kita selalu berbicara soal rencana Tuhan, bukan rencana kita.”
Seorang wisatawan bernasib kurang beruntung. Bersama rombongannya, dia tersesat saat mengikuti petunjuk dari aplikasi peta di ponselnya. Mereka diarahkan ke jalanan desa yang sempit dan penuh lumpur. Padahal pagi-pagi sekali mereka telah meninggalkan penginapan untuk menikmati matahari terbit.
Mobil yang mereka tumpangi tidak mampu melintasi jalan yang berlumpur itu. Berjam-jam mereka mesti berusaha untuk mengeluarkan mobil dari dalamnya lumpur. Akibatnya, mereka tidak bisa menikmati keindahan matahari terbit. Kekecewaan mereka bawa pulang.
Ternyata peta online yang seharusnya dapat diandalkan justru menyesatkan. Namun tidak ada yang bisa disalahkan, karena peta online selalu menunjuk jalan yang terdekat.

Jangan Terjebak
Kita hidup dalam dunia yang kadang-kadang menyesatkan kita. Ada iklan di media elektronik yang begitu hebat dan sempurna. Namun belum tentu produk yang diiklankan itu sesuai dengan iklan yang kita tonton. Banyak orang terjebak oleh iklan seperti ini. Mereka menjadi kecewa.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk senantiasa teliti dalam hidup. Semestinya kita mengarahkan hidup kita ke jalan yang benar, bukan orang lain yang mengarahkan hidup kita. Namun kita sering terlalu percaya pada tekhnologi yang kita gunakan. Bukankah teknologi itu juga bergantung pada yang lain?
Orang beriman senantiasa meminta bantuan Tuhan untuk mengarahkan hidupnya ke jalan yang benar. Ketika kita mengandalkan hidup kita, kita akan mengalami jalan buntu alias tersesat. Kita tidak tahu arah hidup kita. Kita membiarkan Tuhan menuntun langkah-langkah kaki kita.
Untuk itu, kita mesti menemukan rencana Tuhan bagi hidup kita. Hal ini tentu tidak mudah, karena kita sering mengandalkan rencana hidup kita. Kita menginginkan rencana kita yang terjadi, bukan rencana Tuhan. Padahal rencana Tuhan itu indah bagi hidup kita. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
