Misteri Sakramen Mahakudus (15)

Cinta dan Korban

(Sumber: Buku Visitasi kepada Sakramen Mahakudus dan Bunda Maria Yang Terberkati karya St. Alphonsus Maria de Liguori)

“Dalam derita bagai malam gelap,

Hatiku dibakar oleh kasih.

Kuberikan diriku dalam tetesan darah,

Tumbuh hidup baru pada kekasih”.

Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus | Foto: https://id.pinterest.com/

Sharing Iman

St. Molina, seorang Carthusian, membagikan imannya begini, “Seluruh hidup Penyelamat kita adalah penggenapan Perjanjian Lama; hidup kekal-Nya, penderitaan-Nya di kayu salib, kemuliaan-Nya dan hidup persembahan diri-Nya di surga dan di altar kudus adalah Misa yang terus-menerus, cinta dan pengorbanan yang tak kunjung henti.

Memang pesembahan diri secara manusiawi dan yang berdarah itu hanya terjadi satu kali ketika Ia dikorbankan di kayu salib demi cinta-Nya kepada kita. Tetapi dengan cara yang misteri ungkapan kasih dan pengorbanan Hati Kudus Yesus terus terjadi dalam Ekaristi!”

Cinta dan pengorbananNya kepada kita telah dan terus Dia wujudkan maka Tuhan Yesus mempunyai kerinduan, “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala” (Luk 12:49).

Pater Francis Olimpio pernah berkata, “Tidak ada api yang mampu menerangi atau menghangatkan dunia ini selain nyala api cinta kasih Ilahi dalam hati manusia dan dalam Sakramen Mahakudus. Realita seperti ini telah diperlihatkan oleh Tuhan Yesus kepada Santa Katharina dari Siena dalam Sakramen Mahakudus. Ia melihat Sakramen Mahakudus memancarkan kasih Ilahi seperti nyala api. Api Ilahi itu menyebar ke seluruh bumi, sampai orang kudus ini tertegun total melihat penampakan yang mengagumkan itu. Dia menyimpulkan bahwa tidak mungkin ada orang yang bertahan hidup di atas bumi ini tanpa kasih Allah atau bila memisahkan diri daripada-Nya.

Tanggapan Jiwa

Ya Tuhan Yesus, buatlah aku terbakar oleh keinginan mencintai-Mu saja. Mampukan aku mengarahkan pikiran, mata dan kehendakku hanya kepada-Mu saja! Betapa bahagianya aku tatkala api kasih surgawi-Mu menguasaiku secara total dan terus-menerus berkembang dari saat ke saat sampai seluruh perangkat kodratiku dibakar oleh api dari surga itu.

Oh, Sabda Ilahi! Ya Tuhanku Yesus! Aku melihat-Mu mengorbankan diri, merendahkan diri dan rela dipecah-pecah di atas altar demi cinta-Mu kepadaku. Engkau telah merelakan diri-Mu menjadi korban cinta kepadaku.

Sungguh aku berniat untuk membalas cinta-Mu itu; aku ingin mempersembahakan seluruh diriku kepadaMu. Ya, sungguh, Tuhan dan Allahku, aku bertekad untuk mengorbankan diri kepadaMu. Ya…. hendak kukorbankan diriku, semua kehendakku dan hidupku kepada-Mu.

Aku hendak menyatukan korbanku yang tak berharga ini dengan korban Tuhan Yesus Putera-Mu dan penyelamatku yang telah mengorbankan diri-Nya di kayu salib dan yang sekarang setiap hari, beberapa kali di mana-mana, di atas altar.

Terimalah persembahanku ini demi kemuliaan Hati Kudus Yesus; dan anugerahilah aku rahmat untuk selalu membarui semangat berkorban dan persembahan diri. Sampai matiku pun aku ingin mempersembahkan diri demi kemuliaan nama-Mu. Aku ingin memiliki rahmat yang telah dicurahkan kepada para martir yang rela mati demi kasihnya kepada-Mu.

Tetapi aku menyadari bahwa aku tidak pantas menerima rahmat sebesar itu! Maka paling tidak curahilah aku rahmat untuk berani berkorban demi kemuliaan-Mu dan menerima kematian yang Engkau tetapkan bagiku. Tuhan, aku sungguh merindukan rahmat itu! Aku rindu diperkenankan mati demi melakukan kehendak dan demi kemuliaan-Mu. Sejak saat ini, aku berniat untuk mengorbankan hidupku kepada-Mu dan mempersembahkan kematianku kepada-Mu kapan saja dan di mana pun Engkau kehendaki.

Tuhan Yesus, aku ingin mati untuk menyenangkan dan memuliakan nama-Mu.

Visitasi kepada Bunda Maria

Bunda Maria, perkenankanlah aku menyapamu seperti St. Bernadus, “Engkau ratu termanis yang menjadi dasar andalanku!”

Perkenankan juga aku mengikuti St. Yohanes Damascene, “Kuletakkan semua harapanku padamu saja, ya Bunda!”

Mohonkan aku pengampunan atas dosa-dosaku; bebaskan aku dari siksa api penyucian. Semua orang yang mengandalkan engkau pasti selamat! Oh, Maria Bundaku, engkau pasti menyelamatkan semua saja yang berlindung padamu. Aku senantiasa berlindung padamu dan berteriak: “Oh Bunda Penyelamat, selamatkanlah aku! Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.