Kamis (2/2) dilangsungkan tahbisan Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You. Ia merupakan uskup pertama berdarah Papua. Uskup Yan You, panggilan akrabnya, diumumkan penunjukkannya secara resmi menjadi uskup oleh Paus Fransiskus pada 29 Oktober 2022. Ia menggantikan kegembalaan Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, yang sudah pensiun. Sehari sebelum tahbisan berlangsung, diadakan Vesper Agung. Dalam prosesi ini, atribut uskup diberkati.

Pagi itu, tepatnya pukul 09.00 WIT, tahbisan uskup yang dipimpin oleh Mgr. Piero Pioppo, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia dilangsungkan. Perayaan sakral ini berlangsung di Katedral Kristus Raja Jayapura. Dalam acara ini hadir puluhan uskup dari seluruh penjuru tanah air bersama dengan para imam dan ribuan umat dari Keuskupan Jayapura.
Dari Nabi Yeremia
Bacaan pertama dalam liturgi tahbisan ini diambil dari Yeremia 1:4-10. Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo, memberikan homilinya tentang ini.
“Untuk tahbisan kali ini, Bapak Uskup memilih (kisah) Nabi Yeremia, karena mencerminkan riwayat panggilan beliau,” katanya mengawali homili.
Yeremia, kata kardinal, punya keistimewaan dibanding nabi-nabi lain. “Masa pelayanannya sangat panjang, 41 tahun. Dari usia yang sangat muda, 19 tahun sampai usia 60 tahun,” katanya.
Mgr. Suharyo menjelaskan tiga bagian pelayanan Yeremia dan menghubungkannya dengan Mgr. Yan. Periode pertama pelayanannya, Nabi Yeremia merefleksikan Allah yang mencintai umat-Nya. Dia sangat bersemangat mengajak umat berbakti kepada Tuhan.
“Keadaan menjadi sangat berbeda pada periode yang kedua. Seluruh usahanya untuk mewartakan kehendak Tuhan boleh dikatakan gagal total. Yang paling menyedihkan bagi Yeremia adalah pengalaman pribadinya, yang sampai pada kesimpulan Allah tidak ada,” kata Uskup Suharyo.

Ketiadaan Allah dalam pikiran Nabi Yeremia terjadi tatkala ia melihat kemujuran mereka yang tidak taat, sementara dirinya yang taat, justru sengsara.
“Sampai suatu Ketika, ia berkata kepada Tuhan dengan kata-kata ini, ‘Sungguh engkau seperti sungai yang curang bagiku. Air yang tidak dapar dipercaya (Yeremia 15:18).’ Dalam keadaan seperti itu, Tuhan memanggil Kembali Yeremia, dengan kata-kata ini, ‘Jika engkau mau kembali, engkau akan menjadi pelayan di hadapan-Ku. Engkau akan menjadi penyambung lidah bagi-Ku. Aku akan menyertai engkau.’”
Periode kedua ini, kata kardinal, adalah masa pemurnian. Ini adalah periode yang membentuk Yeremia menjadi pribadi yang kokoh kuat. “Dalam arti inilah saya bisa memahami semboyan Mgr. Yan: Ego Vobiscum Sum (Aku menyertai kamu),” katanya.
“Saya membayangkan bacaan dari Nabi Yeremia, Bapak Uskup You ingin menjadi seperti Nabi Yeremia, yang menemani umat dalam segala suka dan duka menuju tanah pengharapan. Yang di Papua ini dirumuskan dengan Papua Tanah Damai.”
Madah Veni Creator Spiritus membuka rangkaian ritus tahbisan. Dalam ritus ini, ditunjukkan pula surat pengangkatan Uskup Yan, oleh sekretaris duta besar. Setelah itu, acara disambung dengan pengikraran janji uskup, litani para kudus, penumpangan tangan pentahbis utama yang disusul para uskup lain, pengurapan minyak krisma, penyerahan Kitab Injil, cicin uskup, mitra, dan tongkat kegembalaan.



Mgr. Yan You: Saya Uskup Gereja Katolik
Uskup Yan memang uskup berdarah Papua, namun ia mengatakan bahwa ia adalah Uskup Gereja Katolik. Artinya, dia bukan hanya untuk orang Papua, tapi uskup bagi semua umat.
“Saya orang Papua, jadi uskup, bukan hanya untuk orang Papua. Saya adalah uskup dari Gereja Katolik, yang menghadirkan Gereja Universal di Gereja lokal,” tegas Uskup Yan.
Saat pertama kali diberitahu oleh nuntius tentang pegangkatannya menjadi uskup, dia terharu. “Saat Nuntius mengatakan itu, saya sambut dengan menangis. Saya terharu. Kok saya? Tapi pada akhirnya, saya tetap bersyukur.”

Tentang karya apa yang akan dilakukannya sebagai gembala yang baru di Keuskupan Jayapura, Mgr. Yan mengatakan bahwa ia akan meneruskan kegembalaan uskup sebelumnya. “Saya sebagai uskup baru meneruskan apa yang sudah dimulai oleh Uskup Leo, karena beliau sudah meletakkan fondasi yang sangat kuat dalam keuskupan ini. Pertama dan terutama adalah visi misi Keuskupan Jayapura, membangun Gereja mandiri yang misioner. Itu visi-misi kita. Sangat up to date,” katanya.
Dia akan selalu menghidupi nasihat Uskup Leo yang mengatakan bahwa seorang uskup adalah pemersatu umat.
“Tidak membeda-bedakan, kau dari sini dari situ, punya ini itu. Ini kita punya komitmen bersama. Kita laksanakan, lanjutkan visi misi ini. Membangun persekutuan dalam Keuskupan Jayapura. Membangun umat yang beranekaragam. Gereja punya ciri adalah satu, kudus, katolik, dan apostolik,” tegasnya.
Dia juga berkomitmen menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, baik internal maupun eksternal Gereja, termasuk pemerintahan, dalam mewujudkan Papua tanah damai. **
Kristiana Rinawati
