“Everybody can become angry that is easy, but angry with the right person, right degree, right time, right purpose, and the right way is not easy” – Aristotele

Saat ini orang itu mudah banget marah. Ibu-ibu ditilang, nggak terima ngelabrak polisi. Keluar dari parkir tempat ibadah marah. Di traffic light marah-marah. Sama istri, suami dan anak adanya marah-marah.
Emang sih marah itu adalah pemberian Tuhan yang luar biasa. Marah juga adalah bagian dari 6 emosi dasar. karenanya perlu kita mengelola marah agar jadi berkah.
Pertama, Marahlah dengan cerdas. Pikirlah jangka panjang. Jangan sampai udah marah menyesal pula. Marahnya 3 menit menyesal 30 tahun.
Kedua, Pikirkan harga diri sebelum marah. Jangan sampai karena selalu marah, malah kita nggak dihargai. Pikirkan juga harga diri orang lain. Boleh marah, tapi yang mengembangkan, bukan yang keluar kebun binatang.
Ketiga, Marahlah fokus pada solusi, bukan mau menang sendiri. Saat marah kadang logika nggak bisa dikendalikan, tapi cobalah tuk fokus pada solusi. Misal sopir terlambat, berapa menit kita buang waktu tuk ngomel. Daripada ngomel ajak sopir berpikir bagaimana mencari jalan agar tak terlambat sampai tempat.
Keempat, marahlah dengan bijaksana. Perhatikan orang marah. Dia ada di depan kita tapi nada dan suara tinggi dan keras, seolah jauh. Dari pada membuang energi buat marah yang ujungnya bikin susah, lebih baik lakukan hal positif. Tarik nafas, tenangkan hati, tenangkan diri dan bicara dari hati kehati. Pasti akan selalu ada solusi. Deo gratias. **Edo/ Rio SCJ
