7 Hal Menarik dari Puasa dan Pantang Katolik

Selamat memasuki masa Prapaskah! Gereja menganjurkan kita untuk lebih memperhatikan hidup doa, puasa, pantang, dan beramal kasih pada masa ini. Berikut tujuh hal yang perlu kita ketahui tentang pantang dan puasa Katolik, dalam kaitannya dengan doa dan amal kasih.

Yesus berpuasa di padang gurun | Foto: google.com

Pertama, yuk kita lihat sejarahnya! Lama puasa prapaskah orang Katolik, meneladani lama puasa Tuhan Yesus. Kalian ingat Yesus berpuasa selama empat puluh hari. Sesudah Tuhan Yesus dibaptis, Dia menyepi ke padang gurun dan berpuasa (lih. Mat. 4:1-2; Luk. 4:1-3).

Selama empat puluh hari kita berjalan ke padang gurun Bersama Tuhan. Ingat kan, Tuhan Yesus dicobai iblis di padang gurun. Maka, kita di padang gurun kehidupan ini juga memohon kekuatan dari Tuhan untuk kuat menghadapi godaan-godaan yang ada.

Puasa dan Pantang Katolik | Foto: google.com

Kedua, apa itu puasa dan pantang?

Puasa orang Katolik adalah makan kenyang satu kali sehari. Jadi, jika kalian makan tiga kali sehari, maka kalian boleh milih, mau makan kenyang di jam yang mana. Apakah kita ada jam buka puasa seperti saudara-saudari kita Muslim? Tentu model puasa kita tidak sama. Sehari artinya dari hari yang satu berganti ke hari berikutnya. Apakah kita boleh puasa tidak makan sama sekali, boleh saja, asal kuat. Namun Gereja menganjurkan minimalnya makan kenyang satu kali.

Lalu, pantang adalah tidak mengkonsumsi daging. Namun, kita juga bisa menambahkan pantangan lain yang kita sukai. Misalnya pantang jajan, merokok, gosip, kopi, main game, shopping yang tidak terlu, dan pantang ke tempat hiburan.

Usia pantang dan puasa Katolik | Foto: google.com

Ketiga, apakah puasa dan pantang itu wajib?

Puasa dan pantang diatur dalam Kitab Hukum Kanonik, which is sifatnya wajib.

Puasa wajib bagi kita yang telah berusia dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (Kan. 1252). Nah, seturut Konferensi Waligereja Indonesia, usia wajib puasa adalah 18 tahun sampai awal tahun ke-60, atau 59 tahun.

Lalu, pantang wajib bagi kita yang berumur genap empat belas tahun, which is empat belas tahun ke atas (Kan. 1252).

Lantas bagaimana dengan mereka yang sudah berada di umur puasa dan pantang tapi karena sakit dan lain hal tidak bisa puasa dan pantang? Tentu ada pengecualian, khususnya untuk mereka yang sakit dan hamil misalnya.

Saat puasa dan pantang Katolik | Foto: google.com

Keempat, kapan kita puasa dan pantang?

Puasa wajib dijalankan Hari Rabu Abu dan Jumat Agung, memperingati hari Sengsara dan Wafat Tuhan Yesus (Kan. 1251). Sedangkan pantang daging dan makanan lain dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu jatuh pada hari raya (Kan. 1251). Mengapa setiap Jumat sepanjang tahun? Karena Jumat adalah hari dan waktu tobat, termasuk (Kan. 1250) Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaskah sampai dengan Jumat Agung.

Berpuasa mengekang nafsu daging | Foto: pinterest.com

Kelima, apa manfaat puasa dan pantang?

Menurut St. Thomas Aquino, puasa dapat membantu kita dalam mengekang nafsu daging, memusatkan pikiran kita untuk merenungkan hal-hal surgawi, dan sebagai laku tobat atas dosa-dosa yang kita lakukan, seperti yang tertulis dalam Yoel 2:12, “Bertobatlah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dalam berpuasa dan menangis dan berkabung” (ST, II-II, q.147, a.1).

Puasa mengarahkan hati kita ke Tuhan | Foto: pinterest.com

Keenam, apa yang penting dari puasa dan pantang?

Puasa dan pantang adalah sarana yang mengarahkan kita kepada pertobatan yang sejati. Tobat karena kita sudah menyedihkan hati Tuhan lewat perbuatan-perbuatan kita baik langsung kepada Tuhan maupun kepada sesama kita.

Maka puasa dan pantang bukan soal fisik tidak makan, beda dengan diet. Namun, puasa dan pantangnya orang Katolik harus dipandang dari sisi spiritual. St. Thomas Aquino mengatakan, saat berpuasa, kita memaksa tubuh untuk patuh, yang membangun pengendalian diri dan penguasaan diri, dua kebajikan penting dalam kehidupan Kristiani. St. Paulus berbicara tentang bagaimana keinginan daging bertentangan dengan roh, juga sebaliknya (bdk. Gal. 5:17).

Mereka yang sakit dan hamil boleh mengatur puasa dan pantang sendiri | Foto: pinterest.com

Ketujuh, tentang batasan usia, puasa, dan pantangan, Gereja memang mengatur makan kenyang satu kali dan pantang daging sebagai standar minimum. Artinya, sebagai orang Katolik, boleh saja menambahkan jenis pantangan, maupun misalnya hanya makan sekali dalam sehari, tentu itu dibolehkan. Namun, baiknya kita juga bijak menjalankannya, seperti dengan memperhatikan kesehatan kita.

Puasa harus berbuah lewat aksi nyata amal kasih dan doa | Foto: google.com

Kesimpulannya, puasa dan pantang haruslah mengarahkan hidup kita pada Tuhan Allah, yang tentunya lewat aksi nyata dalam doa dan amal kasih. Doa, misalnya saat kita pantang main game, nonton film, kita kan jadi punya banyak waktu kosong. Nah, waktu kosong itu kita ganti dengan berdoa maupun dengan membantu orang lain.

Beramal kasih, misalnya, hari ini kita puasa mengurangi makan kan? Nah, yang kita kurangi itu misalnya bernilai Rp10.000,00, lalu kita pantang ke mall dan jajan, biasanya kalau jajan bisa Rp50.000,00. Maka uang ini kita sisihkan untuk dana Aksi Puasa Pembangunan. Diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Itulah ketujuh hal yang harus kita pahami tentang puasa dan pantang Katolik.

** Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.