Kita, sebagai Imam-imam Hati Kudus Yesus, sekarang ini menghayati warisan Pater Dehon di dalam Tarekat kita. Kita adalah kaum religius yang dibaktikan bagi Tuhan melalui kaul kita, dalam sebuah pandangan rohani yang diakui oleh Gereja, yakni pandangan rohani Bapa Pendiri kita. Mengikuti dia, berkat rahmat khusus dari Allah, kita dipanggil dalam Gereja untuk mencari dan mengarahkan hidup persatuan kepada pemberian diri Kristus sebagai satu-satunya yang perlu (Konstitusi SCJ No, 26).

“Manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba,” kata Pengkhotbah (9:12).
Ada seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan yang jauh. Perjalanan itu baginya merupakan sesuatu yang melelahkan. Namun dia ingin mencoba, karena dia memiliki tujuan untuk menimba pengalaman hidup sebanyak mungkin. Dia punya keyakinan bahwa dia akan meraih keinginannya.
Namun di tengah perjalanan, ia menghadapi banyak tantangan. Kelelahan menjadi salah satu tantangan yang paling berat. Dia ingin berhenti di tengah perjalanan. Namun dia akhirnya bangkit kembali. Dia menjalaninya tahap demi tahap. Ketika dia merasa kelelahan, dia berhenti sejenak. Dia bermalam bila diperlukan.
Hasilnya, musafir itu meraih impiannya. Dia sampai di tempat tujuan dengan sukses. Dia merasakan hidup ini semakin bermakna bagi dirinya berkat nilai-nilai yang ia peroleh dalam perjalanan itu.
Peduli terhadap Hidup
Hidup di dunia ini adalah suatu perjalanan yang mesti kita tempuh setapak demi setapak, detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari. Tidak ada yang instan. Selalu ada tantangan yang mesti kita lewati. Ketika kita gagal melewati tantangan itu tidak berarti kita sudah habis. Masih ada kesempatan untuk meraih impian atau cita-cita kita.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk terus melangkahkan kaki kita ketika ada tantangan yang menghadang perjalanan hidup kita. Musafir itu tidak berhenti di kala ada tantangan yang menghadang perjalanannya. Dengan sabar, dia menanggapi tantangan itu. Dia berhenti di kala dia merasa capek. Dia tidak memaksakan diri.
“Perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,” kata St Paulus (Ef.5:15). Artinya, kita mesti menjalani hidup ini dengan sangat berhati-hati. Kita mesti teliti dalam hidup kita, tidak gegabah. Kita mesti arif dalam hidup ini.
Orang yang berlaku bebal adalah orang yang tidak bijaksana, yang menjalani hidup dengan sembrono. Orang yang hanya memusatkan perhatian pada dirinya sendiri. Orang yang hanya mengandalkan kekuatan sendiri dan hidup menyimpang dari kehendak Tuhan.
Orang yang berlaku arif adalah orang yang memperhatikan langkahnya dengan penuh hati-hati. Orang yang selalu menyikapi setiap keadaan atau peristiwa dengan hati yang tenang, damai dan benar.
Orang beriman senantiasa mengandalkan kebaikan dan kehendak Tuhan atas hidupnya. Dengan demikian, hidupnya menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
