Romo Teja yang baik, saya seorang ibu rumah tangga. Saat ini, selain sibuk mengurusi rumah tangga, saya juga bekerja membantu suami untuk meningkatkan taraf hidup ekonomi keluarga. Maklumlah, suami saya seorang pegawai rendahan.
Saya punya beberapa orang anak yang sudah beranjak dewasa. Saat ini keadaan mereka masih labil. Saya takut kalau nanti setelah dewasa, mereka tidak mendapatkan figur yang dapat dicontoh untuk masa depan mereka. Maka, saya sekolahkan mereka keluar kota, sehingga dapat mencontoh teman-teman atau sosok lain. Tidak seperti di rumah. Ayah dan ibunya pulang larut malam, karena sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pertanyaan saya, apakah pandangan saya salah dengan menyekolahkan anak-anak keluar kota?
Christina

Ibu Christina, ada dua hal yang ingin saya tanggapi dari surat ibu ini. Pertama adalah perasaan takut dan kuatir terhadap anak-anak yang menginjak dewasa, karena bila tidak mendapat figur yang diharapkan. Kedua adalah masalah menyekolahkan anak-anak ke luar daerah.
Masalah pertama kurang saya pahami betul maksudnya. Apa yang sebenarnya ibu maksudkan dengan figur yang diharapkan oleh anak-anak bagi masa depannya? Kalau itu dimaksudkan sebagai orang yang bisa dicontoh dalam hidup, tentunya di mana pun anak bisa memperoleh figur seperti itu.
Lagi pula figur di sini kurang mempunyai pengaruh yang sangat menentukan bagi perkembangan kepribadian anak. Apakah figur di sini dimaksudkan semacam idola? Kalau idola, seringkali hanya sekedar suatu ‘latah’ yang muncul berdasarkan situasi dan perkembangan dalam dunia anak itu.
Memang idola bisa mempengaruhi hidup seseorang, tetapi itu pun semacam sesuatu yang dicita-citakan atau diinginkan. Jadi sesuatu yang harus dicapai dan diwujudkan. Biasanya idola juga datang dari dalam diri anak berdasarkan suatu personifikasi suatu tokoh.
Figur yang paling banyak berperan dan membantu perkembangan kedewasaan anak adalah kasih dan kehadiran orangtua dalam proses belajar dan hidup mereka.
Kalau ibu merasa bahwa selama ini kehadiran dan perhatian ibu lebih banyak tersita untuk bisnis, justru di sinilah letak masalah yang barus menjadi perhatian.
Betapa banyak kasus bisa kita lihat dalam hidup sehari-hari, misalnya anak yang kurang perhatian dan kasih sayang dari orangtua karena kesibukan mereka, menjadi nakal dan banyak yang bermasalah. Menanggapi pertanyaan ibu ‘apakah saya salah menyekolahkan anak ke luar kota?’ jawaban saya, bukan pada masalah ‘salah dan benar’, tetapi lebih pada melihat kembali alasan atau motivasi di balik menyekolahkan anak itu.
Saya yakin bahwa ibu mempunyai niat yang sangat baik, memberikan apa yang paling baik yang bisa ibu buat bagi anak-anak, walaupun ibu mesti rela bekerja keras untuk maksud itu. Hanya kalau motivasi menyekolahkan anak ini berdasarkan pada keinginan ibu agar mencari ‘figur’ pengisi yang tidak didapatkan di rumah, maka ibu harus mengoreksi diri. Alasan ini kurang bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana kalau anak-anak ibu tidak menemukan figur yang diharapkan oleh ibu? Malah sebaliknya, misalkan?
Hal paling penting yang ibu bisa buat sekarang adalah memberikan kesempatan dan kebebasan kepada anak-anak untuk berkembang sebagaimana adanya. Dengan demikian, kekuatiran itu tidak perlu terlalu terjadi bila ibu yakin bahwa anak bisa dipercaya. Selain itu, ibu mesti membina kontak dari hati ke hati bila mungkin lewat telephone atau WA tetapi bila itu dianggap terlalu mahal bisa juga lewat surat. Hal ini juga akan menjadi perhatian khusus yang akan membantu anak-anak menemukan jati diri dalam proses belajar. Semoga usaha ibu untuk mempersiapakan anak-anak yang mempunyai masa depan berhasil dengan baik dan lancar. Berkat Tuhan melimpah.
Untuk keluarga-keluarga atau pribadi, Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
Pertama, posisikan diri Anda sebagai orangtua. Apakah pilihan untuk menyekolahkan anak-anak keluar daerah merupakan satu-satunya pilihan atau masih ada alternatif lain?
Kedua, mengapa Anda mau menyekolahkan anak-anak Anda keluar daerah?
Ketiga, berhadapan dengan persoalan-persoalan jaman yang kian beragam, apakah sudah Anda pikirkan matang-matang tentang pengiriman anak-anak untuk menuntut ilmu di luar daerah?
Keempat, apakah Anda punya cukup waktu untuk mengontak anak-anak Anda? **
V. Teja Anthara SCJ
