Romo Teja yang terhormat. Saya seorang gadis berusia duapuluh tahun. Saya baru mengikuti ajaran Kristus satu tahun terakhir dan menerima Bakramen Baptis tanggal 12 September 1999 lalu di gereja Sang Penebus Batuputih.
Yang jadi masalah saya Romo, dulu alasan saya masuk gereja Katolik karena saya mau menikah dengan orang katolik. Tetapi buat saya saat ini, itu sudah menjadi panggilan yang tidak tergantung pada siapa pun. Anehnya setelah menerima Sakramen Baptis, daya tarik saya hilang pada pria tersebut.
Akhir-akhir ini saya semakin aktif di gereja, sementara rasa cinta saya pada pria itu semakin hari semakin jauh sedangkan rencana pernikahan kami sudah dekat. Haruskah saya menikah tanpa cinta? Atau saya tidak jadi menikah walau dianggap saya telah mengecewakan keluarga si pria? Romo, saya justru tertarik untuk menjadi suster. Bagaimana ini? Tolonglah saya, Romo.

Saudari di Batu Putih yang terkasih, pertama-tama romo mengucapkan ‘proficiat’ atas kelahiran baru dalam Gereja lewat Baptisan suci yang telah diterima beberapa bulan lalu. Semoga kehidupan baru semakin membuat Anda menjadi lebih mantap, dewasa, bahagia dan penuh harapan menatap masa depan.
Sepertinya masalah Anda begitu sederhana, namun sebenarnya tidak bisa dijawab dengan satu kata atau kalimat. Perlu mengetahui secara konkret situasi Anda, baik menyangkut masa lalu, maupun sekarang. Karena yang sedang Anda hadapi sekarang ini suatu hasil dari proses peristiwa yang alami. Karena itu, pertanyaan Anda tidak bisa dijawab hanya dengan kata ‘ya atau tidak’. Mengapa? Karena hal ini menyangkut keputusan hidup dan mati, sekarang dan masa depan dan melibatkan beberapa pihak.
Kiranya perlu disadari, daya tarik Anda hilang pada pria tersebut bukan pertama-tama karena Baptisan yang telah Anda terima. Tetapi bisa jadi Anda sedang mengalami suatu pengalaman hidup baru yang begitu mengesankan dan mungkin membahagiakan. Daya tarik Anda terpusat pada yang baru itu. Kegiatan gereja yang Anda tekuni sekarang ini kiranya tidak juga menjadi penyebab cinta Anda kepada pria itu semakin pudar. Sepertinya Anda sedang menghadapi dua bentuk panggilan hidup: menikah atau hidup membiara.
Mengingat perkawinan Anda yang sudah mendekat, sekaligus Anda tidak ingin mengecewakan mereka, maka ada beberapa hal praktis yang perlu Anda pertimbangkan. Pertama, ujilah cintamu. Banyak cara menguji kesucian cinta ini. Bertanyalah pada diri Anda sendiri adakah Anda sungguh sudah siap menikah dengan pasangan Anda itu? Kesiapan di sini bukan hanya dalam arti lahiriah, tetapi lebih-lebih rohaniah, batin dan mental Anda. Romo sedikit curiga, pudarnya ’rasa cinta’ pada pacarmu itu bisa jadi disebabkah karena ‘rasa tidak siap’ untuk menikah yang Anda simpan di dalam hati. Dalam arti, Anda tidak pernah berani mengatakah kepada siapa pun.
Kedua, perlu disadari unsur hakiki perkawinan adalah cinta. Bila dalam persiapan perkawinan ini sifat hakiki ini Anda ragukan, maka lebih baik Anda berpikir dua kali untuk menikah dalam waktu dekat.
Ketiga, berbicaralah terus terang dan terbuka terhadap pacar Anda itu, terutama perasaan yang sedang bergulat dalam diri Anda saat ini. Hal ini penting, supaya kesempatan untuk saling mengerti dan menerima menjadi lebih berkembang. Sekaligus keterbukaan ini juga untuk menghindari salah paham bila terjadi hal yang tidak diinginkan.
Keempat, perlu tindakan ‘discernment’atau pembedaan roh. Artinya, menyadari ke arah mana Tuhan sekarang ini memimpinmu. Hal ini perlu untuk bisa mengambil keputusan penting secara bijaksana. Untuk hal ini ada baiknya bila Anda mempunyai orang untuk bersharing atau kemampuan untuk mendengarkan perasaan dan pengalamanmu. Apakah itu romo parokimu atau suster atau teman yang dekat dengan Anda tidak menjadi masalah.
Bila Anda merasa yakin dengan keputusan Anda, apakah itu berarti harus menunda perkawinan atau melangsungkan perkawinan di saat hati Anda gundah karena cinta yang pudar, hadapi resiko yang akan terjadi dengan mantap. Bila Anda berpikir menunda perkawinan yang bagi Anda adalah keputusan yang paling baik dan tepat, yakin dan jalanilah. Mengingat pula, umur Anda pun belum begitu terlambat untuk menunda perkawinan itu, mungkin hal ini lebih baik. Bila Anda merasa menjadi suster merupakan jalan panggilanmu, Anda membutuhkan waktu untuk menguji ‘panggilan hati’ ini.
Untuk menjadi seorang biarawati, paling tidak Anda dituntut telah menerima baptisan kurang lebih tiga tahun lamanya. Sementara itu, kurang dari satu tahun Anda menerima baptisan itu.
Kiranya hanya ini yang bisa romo sampaikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda. Berkat Tuhan melimpah. Romo menyertai perjuanganmu dalam doa.
Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
Pertama, tempatkan diri Anda sebagai pria yang hendak menikah dengan pemudi yang tidak mau mencintainya setelah menjalin hubungan beberapa lama. Bagaimana sikap Anda terhadap pemudi itu?
Kedua, relakah Anda menikahinya meski ia tidak mencintai Anda? Mengapa Anda mau menikahinya?
Ketiga, tempatkan diri Anda sebagai pemudi yang tidak tertarik lagi untuk menikahi orang yang pernah ia cintai. Apakah keputusan Anda berdasarkan suatu bisikan suara hati yang murni? Mengapa Anda mengambil keputusan seperti itu? **
V. Teja Anthara SCJ
