Ujud Doa Paus Bulan April: Untuk Budaya Tanpa Kekerasan

Paus Fransiskus merilis ujud doanya untuk bulan April, dan mendesak semua orang untuk berdoa dan bekerja untuk budaya tanpa kekerasan yang mempromosikan perdamaian.

Saat Gereja memperingati 60 tahun sejak Paus St. Yohanes XXIII menerbitkan ensikliknya Pacem in Terris, Paus Fransiskus menyerukan umat Kristiani untuk berdoa bagi budaya tanpa kekerasan.

Paus merilis video yang menyertai ujud doanya untuk April 2023, yang diproduksi oleh Jaringan Doa Seluruh Dunia Paus.

Dia mengenang bahwa “perang adalah kegilaan” yang “di luar nalar”.

“Perang apa pun, konfrontasi bersenjata apa pun, selalu berakhir dengan kekalahan untuk semua,” kenangnya.

Budaya Non-Kekerasan

Paus Fransiskus mengontraskan mentalitas konfliktual dengan mentalitas non-kekerasan.

“Hidup, berbicara, dan bertindak tanpa kekerasan bukanlah menyerah, kehilangan atau menyerahkan apapun, tetapi mencita-citakan segalanya,” katanya.

Setiap orang, tambah Paus, dipanggil untuk “mengembangkan budaya damai.”

Non-kekerasan, katanya, dapat menawarkan panduan untuk tindakan kita, “baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam hubungan internasional.”

“Mari kita ingat bahwa, bahkan dalam kasus pembelaan diri, perdamaian adalah tujuan akhir, dan perdamaian abadi hanya bisa ada tanpa senjata,” katanya.

Paus Fransiskus menutup video ujudnya dengan seruan doanya.

“Dan mari kita berdoa untuk budaya non-kekerasan yang lebih luas,” katanya, “yang akan berkembang ketika negara dan warga negara semakin jarang menggunakan senjata.”

Damai di Hati Kita

Siaran pers yang menyertai video tersebut mengenang banyak orang yang telah mempromosikan tujuan perdamaian dan non-kekerasan, termasuk Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr., dan St. Teresa dari Kalkuta.

Selain Paus Fransiskus berbicara, video tersebut menampilkan adegan-adegan kehancuran dari berbagai perang yang sedang melanda dunia, bersama dengan potret hitam-putih para pendukung perdamaian.

Dalam Pacem in Terris-nya, Yohanes XXIII menyesalkan akibat-akibat yang sangat negatif dari kekerasan, yang “tidak menabur benih selain benih kebencian dan kekerasan.”

Pater Frédéric Fornos SJ, Direktur Internasional Jaringan Doa Paus Sedunia, mengatakan bahwa perdamaian di antara orang-orang dimulai “di bagian yang paling konkret dan intim dari hati kita”, sama seperti perang dan konflik berakar di sana.

“Injil menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan Yesus mengungkapkan jalan damai yang sejati dan mengundang kita untuk mengikuti Dia, kata Pater Fornos. “Dalam semangat inilah kita dipanggil untuk ‘melucuti’ diri kita sendiri, dalam arti ‘melucuti’ kata-kata kita, tindakan kita, kebencian kita.” **

Devin Watkins (Vatican News)

Leave a Reply

Your email address will not be published.