Menyongsong 100 tahun kehadiran SCJ di Indonesia, Minggu (7/05) lalu diadakan misa kirab salib satu abad SCJ di Gereja Sanfrades (St. Fransiskus de Sales) jl. Urip Sumoharjo, Palembang Sumatra Selatan. Misa dihadiri oleh kurang lebih 300 umat. Rm. Yoseph Sustrisno Sutrisno Amirullah SCJ pastor paroki Sanfrades menjadi selebran utama dan didampingi oleh tujuh imam SCJ lainnya. Misa yang dimulai pada pukul 08.00 WIB ini diawali dengan perarakan salib dari depan pintu masuk gereja menuju altar.

Disebut sebagai hari istimewa bagi umat paroki Sanfrades yang menjadi salah satu tempat yang dipercayakan untuk menghantar salib satu abad SCJ ini. Melalui salib yang diarakan umat diundang untuk mengenal lebih dalam tentang Yesus dan kemurahan hatinya.
“Kita semua diundang untuk pergi ke tempat yang lebih dalam. Masuk lebih dalam ke hati Yesus untuk mengenal kemurahan hatinya, agar kita memperoleh rahmat yang dibutuhkan untuk menghadapi kesulitan sekaligus menjadi saksi Allah bagi dunia,” tutur Rm Yoseph dalam homilinya.

Rm. Yosep mengajak umat untuk jangan gelisah hati karena Yesus selalu mengerti hati umatnya dan coba untuk belajar dari Yesus yang bahkan mengalamai kegelisahan yang luar biasa.
“Kita sering gelisah mulai dari hal kecil hingga hal besar. Janganlah gelisah hati. Yesus tau kegelisahan kita dan Ia mengerti kita. Karena Yesus pernah menjadi manusia sama seperi kita. Maka Ia dikatakan sungguh Allah sungguh manusia. Apalagi ketika kita merenungkan bagaimana Yesus di taman Getzemani. Ia mengalami kegelisahan yang lebih besar dari pada kita. Bagaimana tidak ketika ia tahu ia akan ditangkap dan diadili,” jelasnya.

Ia pun melanjutkan bahwa meskipun sedang mengalami kegelisahan kita hendaknya tetap bersikap tenang seperti Yesus.
“Kenapa ketika ditangkap sikap dan wajah Yesus beitu tenang? Kalau hal itu terjadi pada kita tentu saja kita lari bersembunyi. Uong dikejar depcolector bae kito sembunyi. Tetapi Yesus maju dan berkata: Akulah yang kamu cari,” Ucap romo yang berasal dari Tanjung Sakti ini.
Yesus berani berkata seperti itu karena Ia percaya bahwa semuanya terjadi atas kehendak Tuhan. “Dimana kekuatan Yesus? Kekuatan itu ada di dalam kata-katanya: ‘Ya Bapa-ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’ Itulah gambaran iman dari seorang Yesus kepada Bapa-Nya. Yesus percaya Bapa-Nya tidak akan pernah meninggalkan dia,” tuturnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa mungkin kita juga sudah punya sedikit iman. Sudah ada benih-benih itu. Tetapi kita harus tumbuh kembangkan terus. Jangan sudah tau lalu ya sudahlah. Itu tanda kita tak berdaya. Bahkan disaat kesulitan sekalipun Allah hadir dan dia selalu mengingatkan damai yang ia berikan. Damai yang Tuhan berikan berbeda dengan damai yang ada dalam pikiran kita.

“Damai sejahtera yang dipikirkan kita adalah tidak sakit, segalonyo ado. Damai yang diberikan Tuhan bukan hanya fisik tetapi juga damai dalam hati. Kedamaian dimana kita merasakan sukacita walau sakit secara fisik,” tandas Rm. Yosep
Belajar dari sabda Yesus “Akulah jalan kebenaran dan hidup” Rm. Yosep mengajak kita juga harus memilih jalan yang dipilih Allah untuk sampai kehidupan yang kekal. Hal ini juga dilakukan oleh para misionaris SCJ dari yang memilih jalan yang dipilih Allah untuk sampai ke Indonesia.
“Mengingat perjalanan 100 tahun para SCJ di Indonesia. Para misionaris datang karena kepercayaan iman akan Tuhan Yesus. Mereka dipilih untuk bergagi sukacita. Seperti Abraham yang dijanjikan Tuhan akan diberikan bangsa yang besar tetapi tidak tahu dimana. Para misionaris ini jugo idak tau dimano Sumatra itu. Tetapi mereka tetap melakukan perjalanan dan melayani sampai akhirnya berbuah banyak. Banyak yang mengenal Yesus dan dipanggil untuk berbagi sukacita dan kegembiraan. Kita juga mari berbagi sukacita mulai dari keluarga kita masing-masing.”
**Kristina Yuyuani Daro
