Romo Teja yang terkasih, saya seorang gadis yang baru menginjak masa remaja, tetapi saya sudah mulai memikirkan masa depan walau usia saya belum masuk usia nikah. Masalah yang saya hadapi begini, romo. Ada seorang lelaki beragama Islam, sebut saja namanya A. Kami sama-sama saling mencintai. Bahkan ia berjanji untuk menjadi pengikut Tuhan Yesus. Namun orangtua saya tidak merestui hubungan kami. Masalahnya, saya dan A masih memiliki titik darah persaudaraan.
Di saat itu juga datanglah seorang lelaki seiman sebut saja namanya B kepada saya. Ia menyatakan tertarik (mencintai) sama saya. Namun saya tidak mencintai dia. Sementara itu orangtua dan saudara-saudara saya merestui dan mendorong saya untuk menerima cinta B.
Romo, yang membuat saya bingung adalah pemuda A. Ia tidak rela kalau saya menikah tanpa didasari kasih sayang. Saya takut kalau ia nekat membawa saya pergi dari rumah orangtua saya. Saya takut berdosa kalau melarikan diri dari keluarga saya, walaupun kami saling mencintai. Tolonglah saya romo. Apa yang mesti saya buat?
Theresia

Theresia yang terkasih, betapa cinta itu mempunyai kekuatan yang maha dahsyat. Cinta membuat orang hidup, namun cinta bisa mematikan orang. Cinta penuh misteri, sulit diduga dalamnya dan tidak bisa dipaksakan. Ia bebas merasuk dan menyentuh siapa saja tanpa pandang umur, suku, bahasa, dan warna kulit.
Bersyukurlah, di kala Anda sedang berpacaran, Anda sudah memikirkan kemungkinan untuk secara serius menuju jenjang perkawinan. Namun Anda menyadari bahwa usia untuk menikah belum cukup. Ada hal yang agak sulit dimengerti. Kalau Anda sadar Anda belum cukup umur untuk menikah, kenapa Anda tampak begitu serius dengan pacar Anda?
Untuk menghindari rasa bingung, sekaligus menetralisir kekuatiran dan ketidaksetujuan orangtuamu terhadap hubungan Anda berdua, buatlah diri Anda tetap bebas dan tidak terikat oleh siapa pun. Jangan terlalu serius dalam berpacaran. Tetapi waspada, hati-hati dan dengan jujur serta terbuka mengenal calon pendamping hidup Anda. Jangan menikah bila tidak didasari kasih sayang. Namun saya juga mendukung prinsip orangtuamu: lebih baik menikah dengan orang yang seiman.
Yang penting adalah bagaimana Anda menempatkan diri secara sopan dan memanfaatkan masa pacaran ini dengan tepat guna. Artinya, pacaran selalu mesti dimengerti sebagai masa pengenalan. Masa Anda mengenal dengan jujur dan terbuka orang yang paling tepat menjadi pendamping seumur hidup.
Mendengarkan nasehat orangtua dengan bijak dan arif akan membantumu mengambil langkah dan keputusan secara baik. Apalagi orangtua itu berniat membantu anaknya mengatasi kesulitannya. Tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya sengsara. Dalam hidup berumah tangga mereka lebih berpengalaman dan lebih mengerti. Yang perlu dihindari adalah pemaksaan kehendak kepada anak-anak.
Dalam kasusmu, saya melihat orangtuamu mempunyai alasan kuat untuk tidak setuju. Maka sikap yang tepat adalah tidak terlalu serius dengan satu orang dalam berpacaran. Selain itu, tetap terbuka terhadap kemungkinan untuk menerima teman yang menaruh simpati terhadapmu. Perlu disadari dan diingat bahwa Anda belum sungguh berniat untuk menikah. Akan sangat berguna bila perhatian Anda dipusatkan pada pelajaran atau hal lain yang mambantu membangun masa depan yang lebih baik. Lebih baik membiarkan dirimu tidak terperangkap oleh ‘cinta emosi’.
Kalau Theresia tidak ingin ‘lari’ dari rumah, mengapa harus merasa takut akan dibawa pergi? Kalau Anda tidak mau melakukan itu, jangan menuruti kemauan temanmu itu. Seandainya mendapati tanda-tanda akan dibawa lari, katakan dengan jujur bahwa itu bukan jalan keluar yang baik. Katakan hal ini secara jujur kepada orangtuamu atau siapa pun yang bisa kamu percayai. Ingat, membawa lari ‘anak orang lain’ atau dalam hal ini menculik adalah tindakan kriminal. Pacarmu bisa dipenjara, karena tindakannya itu. Bayangkan, akibat dari tindakan yang tidak bijaksana itu. Hancurlah masa depanmu dan rusaklah nama baik keluagamu.
Kalau Anda yakin dan benar-benar mencintai teman pilihanmu itu, yang perlu Anda lakukan sekarang ini adalah bersabar dan menunggu jalannya waktu. Berpacaranlah secara wajar. Yakinkanlah kedua orangtuamu dengan tindakanmu yang baik dan terpuji. Kalau pacar pilihanmu itu benar ingin menjadikan kamu teman hidupnya, biarlah dia mulai belajar agama agar mulai mengenal Gereja dan kegiatannya. Ajak ia hadir dalam kegiatan gereja untuk mengenal agamamu. Selain itu, Anda harus tetap waspada dan hati-hati jangan sampai ‘kebablasan’ dalam berpacaran, apalagi sampai ‘hamil sebelum nikah’. Resikonya akan Anda tanggung sendiri. Masalahmu tidak akan selesai, karena akan menjadi semakin rumit.
Meski hatinya sekeras batu apa pun, saya tetap yakin bahwa tidak ada orangtua yang ingin melihat anaknya hidup sengsara. Kebahagiaan anak-anak adalah segala-galanya. Karena itu, mencintai mereka adalah lebih pantas dan utama. Kalau teman pilihanmu itu memang pendamping hidupmu, jodoh tidak akan lari ke mana-mana. Berkat Tuhan melimpah dan doaku menyertaimu.
Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
Pertama, apa yang Anda mengerti mengenai masa pacaran? Mengapa Anda sangat serius dalam berpacaran?
Kedua, ketika Anda menghadapi sikap orangtua yang begitu tegas dan keras, apa sikap Anda dalam menghadapinya?
Ketiga, cinta macam apa yang ada dalam benak Anda ketika Anda baru mulai berpacaran? **
V. Tejo Anthara SCJ

Romo Tejo yang terkasih, saya seorang katolik. Saya ingin konsultasi. Saya sebenarnya kurang nyaman dan tidak bahagia dengan agama katolik, namun saya berusaha tetap setia. Saya dari dulu, ingin masuk islam. Saya tetap berusaha bertahan sampai punya penyakit epilepsi karena begitu tertekan saya. Ketika ada agama, saya ingin sekali kalau pendebat dari agama kristen atau katolik kalah. Saya suka berharap ajaran islam benar. Walaupun agama islam mungkin juga tidak seratus persen membuat saya bahagia. Saya juga sering membela islam di depan orang katolik. Pertanyaan saya, apakah saya sudah dianggap mengikuti ajaran sesat? Apakah saya sudah keluar dari persekutuan Gereja Katolik? Apakah saya diekskomunikasi? Saya tidak mau melakukan dosa tersebut. Terimakasih romo.