Damai sejahtera dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Romo Teja, saya seorang cowok berusia 18 tahun sedang dirundung masalah. Sewaktu di STM saya pernah berpacaran delapan bulan dengan seorang gadis sampai pada putusnya hubungan kami. Sejak saat itu saya tidak pernah berpacaran lagi.
Sejak duduk di bangku kuliah saya pernah naksir seorang cewek. Sudah lama saya memperhatikan dia di kampus. Tetapi saya takut untuk mengajaknya berkenalan, karena kata teman-teman ia adalah cewek yang materialistis yang selalu dijemput cowok dengan mobil sedangkan saya hanya membawa sepeda motor.
Hal itu membuat saya kecut, tetapi untunglah ada kawan yang selalu memberi saya suport agar jangan putus asa dulu. Temanku inilah yang mencarikan biodata cewek yang aku taksir sampai selengkap-lengkapnya mulai dari tempat dan tanggal lahir, alamat, nomor telephon, asal SMA. Tetapi meski sudah ada alamat dan nomor telephon saya tetap tidak berani untuk mengajak dia kenalan. Saya bingung harus memulai apa bicara di telephon.
Mau tanya basa-basi lagi ngapain, sekolah di mana dulunya, boleh tidak main ke rumah, kuliahnya ngambil apa, bagaimana indeks prestasi semesternya, dll.. Hal-hal yang sudah saya tahu itu malas saya tanyakan lagi. Kalau lagi main-main bersama teman saya begitu mesranya, tapi begitu bicara di telephon saya bingung sendiri mau bicara apa.
Sekarang ada perempuan lain lagi yang saya taksir. Nomor telephonnya pun sudah aku dapatkan. Tapi masih saja aku tidak berani untuk menelphonnya. Aku tidak tahu kelainan apa yang aku miliki atau karena aku terlahir di antara saudara-saudaraku yang semuanya perempuan, sehingga aku lebih banyak menggunakan perasaan daripada pikiran.
Yang ingin saya tanyakan. Pertama, apakah yang saya alami ini wajar, dapat terjadi untuk orang yang seusia saya? Kedua, langkah-langkah apa yang harus saya tempuh untuk bisa mendapatkan orang yang saya sukai?
Yusuf, Palembang

Saudara Yusuf yang terkasih, sebelum saya menjawab pertanyaanmu, saya ingin balik bertanya kepada Anda. Apakah cinta pertama Anda dengan temanmu waktu masih di STM itu begitu membekas dan mendalam? Apakah Anda merasa sangat ‘sakit hati’ ketika putus dengan pacarmu itu? Apakah Anda sangat mencintai dia? Well, tentunya Anda tidak akan bisa menjawab langsung pertanyaan ini. Seandainya Anda merasakan dan menjawab ya atas pertanyaan ini, berarti Anda mengalami suatu ‘trauma’ ringan untuk memulai berpacaran lagi.
Anda takut mengalami kegagalan seperti yang Anda alami. Anda mungkin merasa takut mengambil resiko disakiti lagi. Anda tidak ingin mengalami sakit hati, karena putus bercinta dan gagal lagi dalam bercinta. Akibatnya, perasaan ini bisa jadi membuat Anda tidak percaya diri lagi. Anda kehilangan keberanian untuk melangkah dan memulai suatu perjalanan cinta. Anda kehilangan ‘self confidence’ dalam diri Anda.
Apakah ini wajar? Tentu saja wajar, terutama bila ditempatkan dalam suatu proses perkembangan kepribadian dalam kehidupan manusia. Dalam arti banyak orang mengalami perasaan seperti ini. Bukankah hidup manusia itu mengalami ‘ups and downs’ dalam proses menuju kedewasaan pribadi? Hal ini menjadi tidak wajar bila ‘trauma’ ini mengganggu perkembangan pribadi Anda dan membuat Anda mengalami kesulitan untuk ‘jatuh cinta’.
Langkah apa yang perlu dibuat? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya teringat pepatah orang bijak, ‘bila engkau ingin berjalan seratus kilometer, maka yang pertama dan utama yang mesti kamu buat adalah memulainya dengan langkah pertama terlebih dahulu’.
Demikian pula yang mesti Anda buat. Bila Anda ingin berkenalan lebih dekat dengan gadis yang Anda taksir, mulailah mendekatinya. Bagaimana ia akan mengenal Anda bila Anda tidak pernah memperkenalkan diri? Bagaimana Anda akan bisa berbicara santai dan mesra lewat telephon, bila kamu tidak pernah membuka mulut dan melontarkan satu kata untuk mulai berbicara? Kalau Anda sudah merasa mendapat informasi yang Anda butuhkan, mulailah dengan yang sudah Anda persiapkan itu. Bertindak atau ’put it in action’ inilah yang Anda butuhkan sekarang. Bila Anda tidak berani memulai, di sinilah masalahnya.
Kalau tetap tidak bisa, pakai cara klasik. Ungkapkan isi hatimu itu dengan jasa perantara. Anda mengatakan Anda mendapatkan informasi mendetail tentang teman yang kamu taksir dari temanmu yang selalu ‘suport’ atas usahamu. Memohon bantuannya sebagai perantara bisa menjadi alternatif lain.
Dulu orang yang naksir seseorang tidak akan secara langsung bertemu dengan yang ditaksir, melainkan melalui surat. Lewat surat seseorang mengungkapkan isi hatinya. Mulai dari samar-samar menyatakan ingin kenal sebagai teman, kemudian keinginan hati untuk membina persahabatan lebih dekat lagi.
Kalau memang lewat surat tidak mendapat tanggapan yang diharapkan, berarti rasa cinta Anda tidak mendarat di hatinya. Jangan putus asa, karena memang cinta tidak bisa dipaksa. Namun Anda tidak perlu merasa malu, karena tidak banyak orang yang tahu bahwa cinta Anda ditolak. Relasi itu bersifat rahasia dan hanya engkau dan teman yang kamu percaya mengetahuinya.
Ingat dalam budaya timur, perempuan tidak akan pernah mendahului mengatakan ‘aku cinta kamu’. Kebanyakan dia lebih banyak bersifat menunggu dan menanti pria yang ungkapkan itu. Mungkin baik juga bila Anda membaca buku tentang psikologi perempuan, sehingga Anda lebih mengenal sifat-sifat dia. Diharapkan Anda akan tampil lebih percaya diri dan akhirnya bisa mencari ‘cara’ yang paling baik untuk mendekati perempuan.
Biasanya perempuan tidak begitu saja tertarik pada penampilan luar pria, tetapi dia akan lebih tertaik pada kepribadian. Perempuan pertama-tama tidak akan menaruh perhatian secara khusus pada wajah yang ganteng, tubuh yang atletis, rambut yang indah, badan yang ‘macho’, melainkan dia akan lebih tertarik pada dalamnya perhatian, tutur kata yang halus dan sikap hati yang terungkap dalam tindak-tanduk.
Dia tidak akan mudah jatuh cinta kepada seseorang yang dia belum kenal betul. Namun bila dia sudah jatuh cinta biasanya akan sulit sekali untuk melepaskan. Lebih-lebih terhadap pria yang sungguh sesuai dengan yang diharapkan, merasa terlindungi, bisa dipercaya dan mampu menerima kehadirannya.
Karena itu, berhentilah main perasaan dan datangi teman yang kamu taksir itu. Kirimi surat bila Anda tidak memiliki keberanian untuk bicara. Menaksir dari jauh tanpa mengungkapkan isi hatimu kepadanya itu bagai ‘pungguk merindukan bulan’. Tumbuhkan rasa percaya diri Anda. Jangan hanya percaya pada kesan dan kata orang lain bila Anda belum membuktikannya sendiri. Memang banyak perempuan yang materialistis, tetapi masih lebih banyak perempuan yang mempunyai cinta murni.
Selamat mencoba. Yakinlah, Anda adalah ‘pria’ normal yang membutuhkan cinta dan dicintai, kecuali terbukti sebaliknya.
Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
Pertama, apa yang sebenarnya menjadi persoalan Anda yang utama, sehingga Anda takut mendekati lawan jenis Anda?
Kedua, bagaimana Anda membangun rasa percaya diri untuk dapat membangun relasi kasih sayang dengan orang yang Anda cintai?
Ketiga, cinta itu butuh bukti, tidak hanya bertepuk sebelah tangan. Mampukah Anda mencintai lawan jenis Anda sebagai subyek yang juga membutuhkan cinta? **
V. Teja Anthara SCJ
