Sebelum pulang ke Indonesia, kami menutup ziarah ini dengan menuju Ein Karem. Di sana kami berziarah ke 3 situs, yakni Gereja Kelahiran Yohanes Pembaptis, Gereja Visitasi, dan Air mata Maria. Mengapa? Tradisi Kristen menempatkan kelahiran Yohanes Pembaptis yang mengumumkan kedatangan Yesus Kristus, sepupunya di desa Ein Karem yang indah, 7,5 km barat daya Yerusalem.
Lukas menceritakan tentang keadaan kelahiran Yohanes. Malaikat menampakkan diri kepada Zakharia ketika dia melayani di bait Allah dan mengatakan kepadanya bahwa istrinya Elisabet akan melahirkan seorang putra. Zakharia skeptis, jadi dia menjadi bisu dan tetap demikian sampai bayi Yohanes lahir. Sementara itu, Gabriel menampakkan diri kepada Perawan Maria di Nazareth, memberitahunya bahwa dia akan menjadi ibu Yesus. Sebagai buktinya, dia mengungkapkan bahwa Elizabeth, sepupu tua Maria, sudah hamil enam bulan.
Maria kemudian “pergi dengan tergesa-gesa ke kota Yudea di pegunungan” yang jaraknya sekitar 120 km, di mana dia memasuki rumah Zakharia dan menyapa Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya. (Lukas 1:39-41).

Pesan Iman Dari Ein Karem: ‘Jangan Skeptis’
Dua situs utama di “kota Yudea” Ein Karem terkait dengan pemahaman bahwa Zakharia dan Elizabeth memiliki dua rumah di Ein Karem. Rumah musim panas diyakini sebagai tempat Elizabeth yang hamil untuk mengasingkan diri selama lima bulan” (Lukas 1:24) dan tempat Maria mengunjunginya. Rumah di lembah itu adalah tempat kelahiran Yohanes Pembaptis. Di sini juga, Zakharia akhirnya mendapatkan kembali kemampuan bicaranya setelah putranya lahir, ketika dia dengan patuh menulis di papan tulis bahwa nama bayi itu adalah Yohanes.
Ein Karem masih merupakan tempat yang tenang dengan pepohonan dan kebun anggur, tetapi kotamadya Yerusalem telah menyebar hingga mencakup bekas desa Arab. Sekarang menjadi kota pengrajin dan pengrajin Yahudi, tetapi gereja dan biara Kristen berlimpah.

Gereja Kelahiran St. Yohanes Pembaptis
Ada dua gereja utama St Yohanes Pembaptis di kota ini. Yang paling terkenal adalah Gereja Katolik Kelahiran St John, dapat dikenali dari menaranya yang tinggi dengan puncak menara bundar. Gereja ini juga disebut “St John di pegunungan”.

Gereja menggabungkan sisa-sisa gereja dari periode sebelumnya. Sebuah gereja awal di situs ini digunakan oleh penduduk desa Muslim untuk ternak mereka sebelum Fransiskan memulihkannya pada abad ke-17. Para Fransiskan membangun gereja yang sekarang dengan bantuan monarki Spanyol. Altar tinggi didedikasikan untuk St Yohanes Pembaptis.
Di sebelah kanan adalah altar Elizabeth. Di sebelah kiri adalah tangga menuju ke gua alami yang diidentifikasi sebagai tempat kelahiran Yohanes Pembaptis dan diyakini sebagai bagian dari rumah orang tuanya. Sebuah kapel di bawah beranda berisi dua makam. Sebuah prasasti di panel mozaik berbunyi, dalam bahasa Yunani, “Salam para martir Tuhan”. Siapa yang dimaksud tidak diketahui. Guide berefleksi bahwa para martir itu adalah kita, manusia yang tidak skeptis atas rencana Tuhan.

Gereja Visitasi
Kunjungan Perawan Maria ke Elizabeth digambarkan dalam mozaik fasad, di gereja dua tingkat, di lereng bukit di selatan Ein Karem. Gereja selesai dipugar pada tahun 1955 dengan desainan Antonio Barluzzi. Church of the Visitation yang dihias secara artistik dianggap sebagai salah satu yang terindah dari semua situs di Tanah Suci. Gereja ini diyakini sebagai situs rumah musim panas Zakharia dan Elizabeth, tempat Maria datang mengunjungi sepupunya. Di dinding seberang gereja, plakat keramik Berisi kidung pujian Maria, Magnificat (Lukas 1:46-55) dalam sekitar 50 bahasa. Di kapel bawah, lorong berkubah mengarah ke sumur tua. Sebuah tradisi kuno menegaskan bahwa mata air keluar dari batu karang di sini ketika Maria menyapa Elizabeth.

Sebuah batu besar yang dipasang di ceruk dikenal sebagai Batu Persembunyian. Menurut tradisi kuno, batu itu dibuka untuk menyediakan tempat persembunyian bagi bayi Yohanes selama Pembantaian Orang-orang tak bersalah oleh Herodes. Peristiwa itu digambarkan dalam sebuah lukisan di dinding.

Mata Air Maria
Di sebuah lembah di selatan desa terdapat mata air tawar yang dikenal sebagai Mata Air Maria. Menurut tradisi, Maria memuaskan dahaganya dari mata air ini sebelum mendaki bukit untuk menemui Elisabet. Saat ini air telah terkontaminasi dan tidak lagi aman untuk diminum. Mata air itu menjadi latarbelakang nama desa itu dari bahasa Arab “ein” (mata air) dan kerem (kebun anggur atau kebun zaitun).

Ziarah: Menjumpai Batu Hidup
Peziarah pertama yang tercatat ke Tanah Suci adalah seorang uskup bernama Mileto, dari Sardis di Asia Kecil, sekitar tahun 160 M. Sejarawan Gereja abad ke-4 Eusebius menceritakan bahwa Uskup Mileto mengunjungi tempat-tempat suci “di mana Kitab Suci telah dikhotbahkan dan digenapi”.
Selama berziarah bersama Magdatama di tanah suci dalam bingkai napak tilas hidup Yesus, saya bertemu dengan para peziarah dari berbagai negara. Tentu juga berjumpa dengan orang-orang Kristen Palestina di tempat-tempat seperti Yerusalem, Bethlehem, Nazareth, dan tempat lainnya.
Dalam perjumpaan itu saya merasa bertemu dengan Batu Hidup. Iman mereka kokoh, tak tergerus zaman. Di mata mereka, saya melihat kasih Kristus. Saya kembali dari Tanah Suci dengan perasaan terberkati. Pada intinya, saya semakin sadar bahwa ziarah adalah perjalanan menuju Tuhan. Tetapi meskipun semua peziarah memiliki rencana perjalanan yang sama, masing-masing memiliki tikungan dan belokan yang unik. Semua terukir indah dengan kata ‘ziarah’.

Sebuah ungkapan menarik dari guide bahwa Umat Kristen di Israel menyebut Tanah Suci sebagai “Injil Kelima”. Mereka mengatakan bahwa Yesus berbicara melalui situs rohani dan sapaan hangat sehingga membuka keempat Injil lainnya. Kami menemukan ini benar dengan cara yang tidak terduga. Di sanalah kami, 22 peziarah Katolik Magdatama Group (Pasutri, 1 Bruder, 19 Imam) mempunyai cara pandang masing-masing membaca ‘injil kelima’ tersebut.
Kedatangan kami dari Jakarta ke bandara Tel Aviv dengan transit di Hongkong ternyata sangat mudah. Untuk mendorong pariwisata, otoritas Israel telah melakukan pemeriksaan keamanan yang tidak terlalu mengintimidasi. Kami berjalan keluar dari bea cukai dengan hati lega. Pada saat bus kami melewati jalan-jalan Tiberias ke pantai Galilea, kami antusias memandanginya sedetail mungkin. Seakan tak ingin berkedip agar tak terlewatkan satu hal pun.


Setelah mengunjungi situs bersejarah dalam kacamata iman kekatolikan, Saya merenungkan “sisi lain” yakni Yesus benar-benar hadir dalam Injil Kelima. Dia hadir menemui para peziarah melalui batu hidup yang sangat welcome menerima. Yesus menyapa hangat melalui situs-situs bersejarah yang tak muda lagi usianya. Sapaan itu menyadarkan bahwa saya adalah seorang peziarah! peziarahan hati yang terus dilakoni dalam perutusan sehari-hari. Menjumpai Yesus dalam diri batu-batu hidup, yakni sesama manusia.
Seperti para peziarah sejak zaman Constantine, kami melakukan perjalanan ke Tanah Suci untuk mengalami panggilan baru, untuk memurnikan pemuridan dengan berjalan mengikuti jejak Yesus. Kami mengunjungi tempat-tempat seperti Kapernaum, Bukit Sabda Bahagia, Tabgha, Nazareth, Bethlehem, kota Yerusalem, Via Dolorosa, Gereja Makam Suci, Temple Mount, Sungai Yordan, Bukit Zaitun, Getsemani, Laut Mati, dan tempat lainnya. Kami mengunjungi tempat-tempat suci ini dengan mata dan telinga rohani terbuka, berharap bahwa Yesus akan menemui kami dengan cara yang segar dan baru, dan memang demikian adanya. Dia sungguh ada, hidup, menyejarah dalam ruang dan waktu semasa hidupnya di dunia.


Manusia: Sebuah Ziarah
Manusia sesungguhnya merupakan sebuah ziarah panjang yang bermula dan kemudian berakhir di dalam ruang dan waktu. Jika ziarah dipahami sebagai upaya mendekatkan diri pada Pencipta, maka sepanjang hidup, kapan dan di mana pun manusia sebagai pribadi, terus melakukan ziarah. Lebih dari pada itu, manusia dianugerahi hasrat untuk berziarah secara bersama-sama dalam kelompok atau komunitas. Sebuah hasrat kolektif untuk menjejaki tempat-tempat suci yang diyakini memiliki kaitan dengan pembentukan dan perkembangan iman yang terpatri dalam sejarah. Tanah Suci adalah salah satu tempatnya.

Hasrat untuk berziarah telah menjadi bagian dari kehidupan umat Kristiani selama berabad-abad. Banyak tempat-tempat di Tanah Suci yang dipercaya memiliki kaitan erat dengan masa kehidupan Yesus di dunia, berikut tokoh-tokoh dan peristiwa sebelum dan sesudah Kristus bangkit mulia, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci. Inilah yang mendorong ratusan ribu peziarah menyusuri jejak suci setiap tahunnya.

Ziarah merupakan praktik religius yang dekat dengan kehidupan masyarakat, terbuka untuk semua orang termasuk orang-orang sederhana. Dengan menampilkan tempat ziarah yang khas dan unik, maka sebuah tempat ziarah akan mampu menarik perhatian para peziarah dari berbagai kalangan. Kekhasan dan keunikan tersebut tidak muncul begitu saja, tetapi melewati proses tarik ulur atau bahkan peniruan dengan tempat ziarah yang sudah ada sebelumnya.

Ziarah mencakup aktivitas manusia yang kompleks. Beragam makna terkandung dalam kata ziarah. Ziarah bisa berarti kunjungan ke makam seseorang yang telah meninggal dunia, bisa juga menunjuk pada kunjungan ke tempat yang dianggap suci, entah karena di tempat tersebut pernah terjadi peristiwa yang disucikan atau entah karena ada tokoh suci yang dimakamkan. Pengertian lain dari ziarah adalah perjalanan ke tempat suci yang dianggap sebagai tindakan kesalehan dalam agama. Pengertian tersebut memperlihatkan bahwa peristiwa ziarah melibatkan tiga faktor, yaitu peziarah, tempat yang dianggap suci, dan perjalanan peziarah menuju tempat (yang dianggap) suci tersebut. Perjalanan ziarah dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang menuju tempat tertentu untuk mendapatkan kekuatan rohani atau peneguhan hidup.

Peter Jan Margry, seorang etnolog dan Direktur Departemen of Ethnology di Meertens Institute, pusat penelitian Seni dan Ilmu Pengetahuan di Amsterdam menyebut ziarah sebagai perjalanan berdasarkan agama atau inspirasi rohani yang dilakukan secara individu atau kelompok. Mereka pergi ke tempat yang dianggap lebih sakral daripada lingkungan kehidupan sehari-hari. Tujuannya untuk bertemu dengan yang transendental dan memperoleh peneguhan rohani, penyembuhan emosional atau fisik.

Beragamnya cara memahami dan memaknai ziarah, saya pikir mungkin cara terbaik untuk meringkas pengalaman ziarah ini adalah dengan membagikan Syair Peziarah berikut ini. “Saya telah melihat tempat-tempat yang dulu hanya saya impikan. Saya telah melihat tempat-tempat yang dulu hanya saya baca. Saya telah melihat tempat-tempat yang hanya pernah saya dengar. Saya telah melihat tempat-tempat yang hanya saya doakan. Sekarang, saya telah berjalan ke tempat-tempat di mana dulu diimpikan dan dulu dibaca. Ternyata, Tuhan yang di imani itu sungguh ada, menyejarah dalam hidup manusia. Bolehkah saya ajak anda untuk berziarah? Menekuni peziarahan hati, menjumpai Sang Ilahi dalam hidup sehari-hari”. Mari berjalan bersama dalam peziarahan hati agar semakin beriman dan berbuah limpah.
**Widhy
