“Jangan pernah takut untuk mengasihi Perawan Maria yang terberkati secara berlebihan. Anda tidak pernah bisa mencintainya lebih dari yang Yesus lakukan,” – St. Maximilianus Kolbe.

Bertepatan dengan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria, Jumat (08/09), tujuh suster mengikrarkan kaul sementara dalam Kongregasi Suster-suster Santo Fransiskus Charitas (FCh). Mereka adalah Sr. Maria Anggi FCh, Sr. Maria Feliciany FCh, Sr. Maria Euginia FCh, Sr. Maria Alleandra FCh, Sr. Maria Merlinda FCh, Sr. Maria Ferrelisa FCh, dan Sr. Maria Teresa FCh. Selain itu, ada pula ke-17 suster lain yang membarui kaul dalam kongregasi ini.

Kaul dalam Gereja Katolik berarti janji kepada Allah melalui suatu tarekat. Ketiga kaul yang diikrarkan para suster adalah kaul kemiskinan, ketaatan, dan kemurnian. Mereka mengikrarkannya di hadapan Sr. M. Henrika FCh, pimpinan umum Kongregasi Suster FCh dan disaksikan Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang, beberapa orang imam, dan umat.
Jangan Takut Menghormati Bunda Maria
Kutipan St. Maximilianus Kolbe dipakai Mgr. Harun, yang memimpin Ekaristi pagi itu. Dia mengatakan bahwa kita, orang Katolik, jangan pernah malu menghormati Bunda Maria, meski terkesan berlebihan. Ia justru menyayangkan umat Katolik yang tidak peduli dengan devosi kepada Bunda Maria.
Ia pun menegaskan apa alasan kita menghormati Bunda Maria.

“Sebab perempuan ini (Bunda Maria) memang istimewa. Perempuan ini yang membuka pintu Kerajaan Surga. (Bunda Maria adalah) co-redemptrix dari Puteranya. Penebus bersama Puteranya,” jelas Uskup Harun.
Co-redemptrix adalah istilah dalam Gereja Katolik tentang partisipasi Bunda Maria dalam karya penebusan Yesus. Ini terjadi saat Bunda Maria dengan bebas membagikan kehidupan ‘manusiawi’ kepada Kristus, yang juga berarti dia mengabdikan hidup, penderitaan, dan kematianya, seturut karya penebusan Sang Putera.
Maria Tabut Perjanjian Baru
Ini tentang peran St. Yosef, suami Santa Perawan Maria. Santo Yosef, tidak banyak dikisahkan dalam Alkitab, bila dibandingkan dengan Bunda Maria. Namun, menurut Bapak Uskup, imannya patut kita teladani.
Uskup Harun mengatakan bahwa Yusuf, sejak awal tahu bahwa Bunda Maria mengandung, ia sudah menghormatinya sebagai Tabut Perjanjian Baru.
“Maka dia bermaksud meninggalkan Maria diam-diam,” kata Bapak Uskup, mengutip Injil.








Ini berarti Santo Yosef tidak ingin calon istrinya malu atau mendapat hukuman sosial karena mengandung diluar perkawinan yang sah.
Tentang Tabut Perjanjian, dalam Perjanjian Lama, Tabut Perjanjian tidak boleh disentuh sembarang orang. Ini karena Tabut Perjanjian Lama berisi kedua loh perintah Allah.
“Orang biasa tidak boleh mengangkat Tabut Perjanjian, karena membuka Tabut Perjanjian sama dengan melihat Allah. Orang Perjanjian Lama takut. Menyentuh Tabut Perjanjian sama dengan mati.”

Bunda Maria mengandung Allah, karena itu, dia adalah Tabut Perjanjian Baru. Ini yang membuat Santo Yusuf tidak ‘menyentuh’ Bunda Maria.
“Diakhir Injil dikatakan Yosef tidak bersetubuh dengan Maria sampai dia melahirkan. Tidak berarti setelahnya dia ‘ngebut’, tidak! Karena dia manusia beriman. Saya mengimani, dia tidak menyentuh Maria sampai akhir hidupnya. Dia hanya melayani Maria, karena Maria mengandung Yesus, karena Yesuslah yang menjadi hal utama untuk hidupnya.”
Bunda Bagi Allah dan Manusia
“Jangan pernah malu! Jangan pernah menyesal menghormati Maria, pun kalau berlebihan. Maria adalah Bunda Allah, karena dia mengandung Allah. Maria, sekali mengatakan FIAT, dia setia, bahkan setelah Yesus wafat, Maria mengumpulkan kembali mereka (para rasul). Dia tidak pernah absen dari para rasul, juga kita.”

Kepada para suster yang mengikrarkan kaul, ia mengajak mereka untuk meneladani Bunda Maria.
“Kesediaannya bukan hanya mengabdi Allah sebagai hamba, tapi juga menolong sesama. Maria bersama Yesus, dia adalah co-redemptrix. Karena Puteranya dia dihormati oleh segala bangsa. Iman yang dia dapatkan dari Puteranya, yang (juga) adalah Tuhannya.”
**Kristiana Rinawati
