Pengacara dan peneliti Martha Patricia Molina menuduh rezim Nikaragua telah “menculik” Pastor Osman José Amador Guillén karena meminta doa untuk uskup Matagalpa, Rolando Álvarez. Prelatus itu mulai menjalani hukuman penjara 26 tahun empat bulan pada Februari, dengan tuduhan “pengkhianat tanah air.”
Para pembela hak asasi manusia di Amerika Latin menggunakan istilah “diculik” untuk penangkapan sewenang-wenang tanpa pembenaran hukum apa pun. Dalam pesan yang dikirim ke ACI Prensa, mitra berita CNA berbahasa Spanyol, Molina, penulis laporan “Nikaragua: Gereja yang Dianiaya?”, menyatakan bahwa imam tersebut “diculik oleh Polisi Sandinista” pada malam tanggal 8 September.
“Tidak ada perintah pengadilan yang membenarkan penangkapannya. Keberadaannya tidak diketahui. Dia baru-baru ini mendoakan dan meminta doa untuk Uskup Rolando Álvarez, dan itulah sebabnya mereka menculiknya,” katanya.
Menurut media Nikaragua El Confidencial, “sumber dari Keuskupan Esteli mengatakan bahwa penculikan itu terjadi sekitar pukul 10 malam, ketika sekelompok polisi anti huru-hara menyerbu ke dalam gereja Katolik tempat para imam sedang berkumpul.”
Imam tersebut adalah direktur terakhir Cáritas Esteli sebelum rezim Sandinista menutupnya pada Februari 2022. Molina kuatir Amador akan terlibat dalam kasus imam Eugenio Rodríguez Benavides dan Leonardo Guevara Gutiérrez, yang ditangkap pada Mei. Menurut pers lokal, mereka sedang diselidiki terkait “masalah administratif Caritas Keuskupan Esteli yang sudah tidak ada lagi” dan saat ini berada di Managua.

Para Imam Berada di Bawah Pengawasan
Dalam sebuah pernyataan kepada ACI Prensa pada Agustus, Molina menjelaskan bahwa di Nikaragua “paroki diawasi 24 jam sehari oleh penyusup” dari rezim.
“Faktanya, homili para imam selalu direkam dan dikirim ke tempat yang dikenal sebagai El Carmen, yang merupakan tempat tinggal pasangan diktator Ortega-Murillo” dan di mana kotbah para pastor paroki dianalisis.
Pengacara tersebut juga melaporkan bahwa rezim Sandinista telah “melarang penyebutan Uskup Rolando Álvarez dalam Misa dan doa.”
Kelompok awam, para imam, dan seminaris diam-diam mendoakan uskup Matagalpa, “karena siapa pun yang menyebut dia dalam homili, dalam Misa… dia langsung didatangi polisi” dan bahkan bisa ditangkap. **
Edoardo Berdejo (Catholic News Agency)
