In Memoriam: Romo Andrzej (Andreas) Lukasik SCJ

Romo Andreas Lukasik SCJ | Foto: Arsip SCJ Indonesia

Data diri:

Lahir: Weglowka, 03 Agustus 1936
Kaul I: Stadniki, 02 September 1953
Kaul Kekal: Krakow, 20 September 1957
Tahbisan: Stadniki,18 Februari 1962
Misi ke Indonesia: 15 Oktober 1967


Tugas:

1970-an: Pastor di Paroki St Maria Tak Bernoda, Tegal Rejo, Belitang.
1978: Magister Novis di Novisiat Integral Yogyakarta
1980: Paroki St. Yohanes Bengkulu
2001: Komisi Spiritualitas dan Kerasulan
2003: Magister Novis St. Yohanes Gisting
2004: Pembimbing Rohani bagi religius di Keuskupan Tanjung Karang
2015: Kembali ke Polandia
2018: Tinggal di BGB, Gisting
2019: Mempelajari spiritualitas Hati Kudus konteks masyarakat dan budaya Indonesia
2022: 16 Oktober 2022 pindah ke Palembang tinggal di komplek KM 7, 24 September 2023 wafat di Rumah Damai Dehon pukul 19.10 WIB

Romo Lukasik saat muda | Foto: Arsip Majalah FIAT

Masa Kecil

Jan Lukasik (1878 – 1941) dan Maria Lukasik (1896 – 1956) dikaruniai 7 anak. Anak bungsu mereka bernama Andrzej Lukasik. Namanya ketika ditulis dalam bahasa Indonesia menjadi Andreas
Lukasik. Ia lahir di Weglowka, 03 Agustus 1936. Weglowka adalah desa kecil yang terletak jauh dari
Warsawa, Ibu Kota Polandia, sekitar 285 kilometer.

Dari keluarganya, ternyata melahirkan panggilan selain Romo Andreas Lukasik. Ada 2 saudaranya yang juga menjadi Imam SCJ. Stanislaw Lukasik, adalah mantan misionaris di Zaire Afrika telah meninggal dunia pada tahun 2010 lalu. Sedang seorang lagi, Wladyslaw Lukasik, yang lahir pada tahun 1930, berarti usianya sudah 90 tahun lebih, menjadi anggota SCJ paling tua di Polandia dan tinggal di novisiat di Polandia. Kakaknya ada yang menjadi suster dan telah meninggal pada tahun 2001 lalu.

Andreas masuk ke seminari di Stadniki. Seminari di Stadniki cukup popular dalam melahirkan misionaris pada tahun 50-an. Ia mengikrarkan kaul di Stadniki pada 2 September 1953. Setelah menjalani masa pendidikan imamat, ia ditahbiskan pada 18 Februari 1962 di Stadniki.

Persiapan Bermisi ke Indonesia

Ia bersama rombongan misionaris dari Polandia, yang sebanyak 12 orang diutus ke Indonesia. Ia mulai bermisi pada 15 Oktober 1967, setelah belajar bahasa di Yogyakarta. Mereka meminjam tempat tinggal di
MSF. Para misionaris ini selama di Yogyakarta menghayati natal dengan menyiapkan pohon cemara. Para misionaris Polandia ini mengendarai sepeda ke Kaliurang untuk mencari cemara.

Memulai karya di Indonesia, Romo Lukasik pernah menjadi pastor paroki di Tegal Rejo, Belitang 1971 dan melayani paroki St. Yohanes Penginjil Bengkulu sekitar tahun 1980. Namun sebagian besar waktunya ialah untuk mendalami warisan spiritual kongregasi.

Ia tekun menulis permenungan, meditasi, membuat bahan rekoleksi dan memberi konferensi. Didukung
dengan karakternya yang lembut ia mendedikasikan panggilannya di tanah misi Indonesia untuk pendidikan kaum religius. Sebagai formator ia pernah menjadi magister novis SCJ Integral Yogyakarta (1978) dan Magister Novis St. Yohanes Gisting (2003).

Sebagai bapa rohani para imam dan religius, tugasnya cukup banyak, seperti melayani konferensi dan mendengarkan pengakuan dosa. Pengalamannya sebagai magister, membuatnya kadang diundang ke Novisiat St. Yohanes untuk memberi konferensi dan kadang menggantikan magister resmi, yang tengah bepergian agak lama.

Pernah suatu ketika saat menjalani karya di Indonesia, ia bersama rekan imamnya cuti ke Polandia Waktu itu sekitar tahun 80-an. Malangnya, kala itu terjadi huru hara di Polandia, sehingga membuat mereka tidak bisa masuk Polandia dan harus tinggal di Belanda dan Roma.

Pada tahun 1988, ketika tinggal di Biara Rumah Damai Dehon, Romo Lukasik termasuk pribadi yang memperjuangkan adanya kas rumah. Siapapun yang memberi dan mengambil uang dari kas itu harus mencatat. Romo Lukasik termasuk pribadi yang setia membuat catatan.

Romo Lukasik adalah pribadi yang suka mengendarai motor. Konon kalau sudah naik motor Binter, ia bisa ngebut. Beberapa kali ia melakukan asistensi ke belitang dengan naik binter. Sayangnya, karena biaya SIM yang harus dibayarnya tiap tahun lumayan mahal, maka ia memutuskan berhenti menggunakan SIM dan motor. Sejak saat itu, Romo Lukasik menjadi penumpang yang baik.

Romo Suparman memberikan tumpeng kepada Romo Andreas Lukasik SCJ, misionaris SCJ Polandia | Foto: Maria Sylvista/ KOMSOS KAPal

Terpaksa Pulang ke Polandia karena Visa dan Izin Tinggal

Hingga suatu saat Romo Lukasik pada tahun 2015 harus kembali ke negaranya karena masalah visa
dan ijin tinggal. Hal ini sungguh membuatnya shock. Kecintaannya kepada Indonesia dan pelayanannya tidak bisa tidak mesti ditinggalkan. Saat sudah di Polandia, Romo Lukasik rindu berat dengan Indonesia. Ia menyatakan, bahwa ia ingin kembali ke Indonesia. Kemudian dengan berbagai cara akhirnya ia dapat kembali ke Indonesia.

Sekembali ke Indonesia

Ia mendapat tugas untuk mendalami spiritualitas Hati Kudus dalam konteks Indonesia. Ia membaktikan waktunya di Biara Gembala Baik dengan membaca dan menulis. Di sanalah tampak kecintaannya kepada binatang. Ia memberi perhatian kepada burung di sangkar dan kadang seolah-olah berbicara dengan burung itu.

Namun sesungguhnya perhatian kepada binatang sudah ada sejak dahulu. Ketika bertugas menjadi magister pengganti di Gisting, kolam ikan di novisiat mengalami kekeringan. Ia meminta para novis untuk menyelematkan ikan-ikan di kolam. Saat para novis menyelamatkan ikan gurami dan nila yang besar, romo Lukasik juga meminta agar ratusan ikan kecil juga diselamatkan, “Kasihan ikan-ikan itu, tolong diselamatkan…” Lalu para novis mengambil ikan kecil dan dimasukkan dalam ember.

Sebenarnya ketika tinggal di Biara Gembala Baik pada tahun 2022, romo Lukasik sempat mengalami panik karena masa tinggal di Indonesianya akan habis. Ia berharap kejadian tahun 2015 tidak terjadi lagi. Provinsi Indonesia sudah memikirkan agar romo Joseph Kurskwoski siap menemaninya kembali ke Polandia bila hal itu harus terjadi.

Di luar dugaan pada tahun 2022, tepatnya 16 Oktober, atas aneka pertimbangan kesehatannya maka romo Lukasik dibawa ke Palembang. Ia tinggal di rumah lansia Emanuel yang dikelola oleh para suster Charitas. Ingatannya yang melemah membuat ia tidak mengenal waktu dan tempat.

Kadang ia keluar malam hari dan masuk ke suatu ruangan sehingga hilang. Setelah kondisi berangsur baik, ia berpindah di Rumah Damai Dehon. Ia tinggal satu komunitas dengan Romo Thadeus Laton SCJ, yang adalah rekan seangkatan.

Tinggal di Rumah Damai Dehon membuatnya senang. Kegembiraannya bertambah karena pemerintah memberi ijin tinggal di Indonesia, negara yang ia cintai. Selain itu, ia memiliki konfrater yang selalu memperhatikannya. Kendati kadang pembicaraan tidak lagi nyambung dan ia sering berbahasa Polandia, ia tahu bahwa ia berada di tengah-tengah konfraternya.

Pada pertengahan September 2023, Romo Lukasik sempat menurun kondisinya dan menerima sakramen pengurapan orang sakit. Namun kondisinya setelah itu membaik. Ia masih dapat berkomunikasi dengan rekan serumah. Mulai tanggal 22 September, ia banyak berbaring di tempat tidur dan mengalami masalah dengan pernafasannya.

Pada Minggu malam tanggal 24 September 2023 pukul 18.20, ia sempat mendapat pertolongan medis. Ia diberi oksigen. Namun rupanya Tuhan yang mengasihinya berkehendak lain. Ketika para suster charitas dan dokter berusaha memberikan pertolongan, dengan penuh damai dan tenang Romo Lukasik pulang ke rumah Tuhan. Ia dihadapan pater provinsial yang baru tiba akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Waktu itu pukul 19.10 WIB, di kamarnya di Rumah Damai Dehon di Palembang.

**Sekretariat SCJ Provinsi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.