30 Langkah Menuju Kesucian (22):

Kesucian Melalui Doa

Doa

“Tuhan, Engkau senantiasa siap untuk memberi apa yang aku butuhkan.
Engkau rindu senantiasa membantuku untuk hidup dalam kasihMu.
Aku sungguh rindu mencintaiMu;
Anugerahilah aku untuk tekun berdoa,
Hingga aku hidup dalam kasihMu yang suci!” Amin.

Kesucian melalui doa | Foto: Pinterest

Pengajaran

St Agustinus berkata, “Dinamika kesucian sejalan dengan semangat doa: Barangsiapa berdoa dengan baik, dia akan hidup baik!” Kita akan tetap berada di jalan kesucian bila setia menjadi sahabat Yesus dengan memupuk semangat doa. Bila kita menjadi sahabat Yesus secara benar, kita akan bisa meminta sesuatu yang benar kepadaNya. Dengan kata lain, untuk menjadi suci sekaligus sahabat Yesus, kita harus membangun relasi kasih yang akrab denganNya. Hal itu terwujud dalam doa yang baik, yaitu menyadari betapa pentingnya berdoa dan bagaimana cara berdoa sebagai sahabat Yesus.

Berdoa Itu Sangat Penting

Sang Penyelamat kita telah berjanji, “Apa saja yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya…!”(Yoh 14:13). Janji ini menjamin kita untuk meminta sesuatu dalam doa dan permohonan kita akan dikabulkan. Janji itu juga mendesak kita untuk berdoa tak kunjung henti. Sadar bahwa berdoa itu sangat penting demi kelangsungan kebutuhan hidup kita!

Dalam janji itu juga mengandung dua hal yang perlu kita perhatikan, yaitu “otoritas Allah terhadap manusia dan perlunya mengajukan permohonan” kepadaNya. Keduanya tidak bertentangan bila kita hidup “dalam semangat kasih!” Kita harus tetap taat kepada otoritas Allah – mematahi kehendakNya dan pada waktu yang sama kita diberi peluang untuk mengajukan permohonan.

Dalam semangat kasih sikap taat dan memohon akan bermuara pada satu kondisi yaitu keselamatan jiwa kita. Kita harus mentaati rencana Allah karena Allah-lah Sang Pencipta yang punya otoritas akan hidup ini. Namun kita juga harus meminta sesuatu kepadaNya karena Allah memiliki hati yang diarahkan kepada setiap individu. Bahkan Dia pernah mewahyukan Diri kepada St Margareta Maria sebagai yang haus akan kasih manusia dengan berkata: “Aku haus dikasihi!”

Dalam hal berdoa, banyak orang kecewa atau komplaint kepada Allah. Dirasa Allah tidak adil! Mengapa ada orang yang doanya dikabulkan dan ada yang tidak? Ada orang yang diberi anugerah berlimpah. Ada pula yang diberi kemudahan untuk mencapai kesucian. Tetapi ada pula yang terus-menerus hidup dalam derita. Sebetulnya dimana rahasianya? Betulkah Allah tidak adil? Jawaban dari Yang Mahakuasa sangat sederhana: “apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya” (Mat 21:22).

Dalam sabda itu diperlihatkan keterbukaan Allah. Semua kekayaan Allah ditawarkan kepada manusia asal kita memintaNya – tangan kita menengadah kepadaNya. Tetapi di sisi lain, Ia memberi syarat, yaitu “penuh kepercayaan!” Seolah-olah Dia memberi anak kunci kepada kita untuk menggunakannya secara benar.

Mari kita refleksi diri dan belajar dari orang kudus. Mengapa ada orang yang menjadi kudus, bahagia hidupnya? Ada pula yang biasa-biasa saja. Ada yang terus berbuat jahat dan terus-menerus menderita? Mengapa demikian? Dalam rekaman sejarah, tidak ada seorangpun yang menjadi kudus tanpa tekun berdoa. Semua orang menjadi kudus karena tekun berdoa.

Memang ada juga yang banyak berdoa dan tetap tidak menjadi kudus, mengapa? Karena: isi doanya penuh dengan kepentingan diri, ambisi murahan, kenikmatan jasmani dan aneka hal yang tidak bermanfaat bagi hidup yang luhur. Dan bila kita jujur, dari duapuluh empat jam sehari, berapa menit kita pakai untuk berdoa? Sedikit sekali! Bahkan ada yang tidak pernah berdoa.

Baik kaum awam maupun kaum religius dipanggil untuk menjadi suci, dan dari sejarah umat manusia, terbukti kesucian selalu berkaitan dengan ketekunan berdoa dan bermeditasi. St Claudius mengajak kita untuk bertanya diri, “Mengapa kita hanya sedikit memperoleh anugerah dari Allah? Jawabannya ialah karena kita kurang berdoa dan tidak minta kepadaNya dengan sepenuh hati!”

Doa Sebagai Sahabat Yesus

Kunci atau karakter doa sebagai sahabat Yesus adalah sederhana dan kepercayaan atau iman. Kalau kita amati, ada perbedaan besar antara umat di negara yang hampir kehilangan imannya dengan mereka yang masih menghidupi imannya. Mereka yang kehilangan imannya memiliki pikiran tersendiri tentang makna doa. Mereka cenderung memisahkan antara berdoa dan beramal kasih.

Mereka menganggap bahwa beramal kasih tidak ada hubungannya dengan semangat doa, kedekatan dengan Kristus. Mereka sedikit sekali berdoa atau malah tidak ada waktu untuk berdoa; mereka jauh dari Ekaristi walau mereka tetap beramal-kasih. Perbuatan amal kasih mereka tidak menghantarnya kepada kekudusan karena pada dasarnya “kekudusan adalah ketidakterpisahan dari Dia dan dari cintaNya” (Rom 8:35.38-39).

Sementara di mana negara yang rakyatnya masih menghidupi imannya, dan mencintai Kristus, relasi antar mereka sangat kuat, hangat dan intim. Mereka selalu mengaitkan antara amal kasih dan syukur mereka kepada Allah. Mereka juga senang berdoa, dekat dengan altar dan senantiasa rindu tinggal bersama Yesus. Mereka senang berkomunitas, bertemu teman dan krasan di rumah Allah. Mereka menyadari sebagai sahabat Yesus juga harus bersahabat dengan sesama.

Apa yang menjadi keistimewaan orang kudus? Mereka berdoa dengan antusias, khusuk dan bertanggungjawab. Apa yang bisa membuat mereka senang berdoa? Tidak ada lain kecuali LOVE, kasih. Mereka mengalami kasih Allah dan rindu untuk terus menikamti kasih itu serta membalas kasihNya. Mereka berdoa dengan rendah hati! Apa yang membuat orang rendah hati? LOVE – kasih!

Kasih juga akan menimbulkan semangat melayani, berdevosi dan dalam pemberian diri. Kasih akan Allah dan sesama akan terus segar bila kita tekun berdoa yang kita lakukan dengan sepenuh hati sebagai sahabat Yesus. Para orang kudus menyadari bahwa “Waktunya telah genap!” (Mrk 1:15). Mereka berdoa dengan gembira seperti seruan pemazmur, “bergembiralah dalam Tuhan karena Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mzr 37:4). Tentu semua itu dilandasi oleh kesempurnaan dalam percaya kepada-Nya.

Mari kita berdoa sebagai sahabat Yesus seperti yang dilakukan oleh Abraham. Dalam berdoa, Abraham seperti berbicara dengan sahabatnya, mengadakan tawar-menawar. Tuhan berkata, “Jika ada 50 orang benar ditemukan di kota ini, Aku tidak akan memusnahkannya…” Abraham menawar, “Bagaimana kalau ada sepuluh orang benar?” Tuhan berkata, “Demi 10 orang benar itu Aku tidak akan memusnahkannya!” (lih Kej 18:22-33), dst.

Kita juga ingat doa wanita Kanaan, ”Benar Tuhan, namun anjing makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya!” Yesus kagum akan iman ibu itu dan berkata, “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki!” Dan seketika itu juga anaknya sembuh (lih Mat 15:21-28). Dia memohon seperti kepada sahabatnya yang bisa mengubah hatinya. Demikian juga doa Maria, saudara Lazarus, ”Tuhan dia yang Engkau kasihi, sakit!” (Yoh 11:3). Maria “memperlakukan” Yesus sebagai sahabat yang mempunyai empati.

St Teresia mendifinisikan doa sebagai sebuah percakapan dua sahabat yang saling mencintai, baik rumusan doanya maupun mental yang perlu kita miliki. Pernah ia berdoa seperti orang bodoh. Suatu saat dia mendoakan saudaranya yang sedang sakit. Dia berdoa demikian, “Tuhan, jika Engkau mempunyai saudara yang membutuhkan bantuan – seperti aku membutuhkan Engkau, niscayalah Engkau akan mengabaikan. Bagaimana mungkin Engkau dapat membiarkan orang itu sakit menderita?” Dalam batin, St Teresia tertawa karena Tuhan Yesus berseloroh “dasar orang kudus brengsek!” sambil mengabulkan doanya.

Kita sering mengira bahwa doa yang baik adalah doa yang panjang-panjang, harus sesuai dengan rumusan dalam buku doa, kalimatnya harus bagus. Akibatnya doa kita kering, menyita waktu kerja, dan menjadi beban. Mari kita ubah pikiran kita – kita adalah sahabat Yesus dan di mana-mana bersama Dia. Kita perlu mengikuti kata St Teresia, “Perlakukan Dia sebagai ayah, teman dan mempelai yang sangat mencintai!” St Jane Frances de Chantal berkata, “Rahasia terbesar dalam berdoa adalah iman yang baik dan ungkapan sederhana!”

Bucket Rohani

Tuhan berbicaralah kepadaku, dan biarkan aku berbicara kepadaMu seperti seorang sahabat yang saling mengasihi!

** Yohanes Haryoto SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.