Peresmian Paroki St. Aloysius Gonzaga: Prihatin Banyak Umat Lompat Pagar

Tiga kali pukulan gong, sembari menyerukan nama Allah Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putera, dan Roh Kudus, Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, meresmikan status Kuasi Paroki St. Aloysius Gonzaga menjadi paroki. Ini terjadi pada Kamis, (28/9) di Sungai Lilin, sekitar 90 kilometer dari pusat Kota Palembang.

Sebelum meresmikan Paroki St. Aloysius Gonzaga, Bapak Uskup mengaku bahwa ia terlebih dahulu berkeliling ke stasi-stasi milik paroki ini.

Mgr. Yohanes Harun Yuwono memimpin Ekaristi peresmian Paroki St. Aloysius Gonzaga, Sungai Lilin | Foto: KOMSOS KAPal

“Saya ingin keliling melihat stasi-stasi dari paroki ini dan itu terjadi minggu lalu dari Talang Nyamuk, karena pernah ada cerita, Romo Laton dikerubungi nyamuk. Dari Talang Nyamuk sampai Karang Agung, dari yang paling jauh, sampai yang paling berdebu,” katanya.

Hasil blusukan Uskup Harun ini ternyata menghasilkan satu keprihatinan.

“Ada berbagai macam masukkan, tentu ada berbagai macam keistimewaan dari masing-masing tempat, tetapi juga ada satu keluhan, yang hampir semua mengatakan kepada saya, umatnya pada lompat pagar,” kisahnya.

Lompat pagar adalah istilah mereka yang mengingkari atau keluar dari iman Katolik mereka peluk selama ini.

“Pagarnya tidak tahu terbuat dari apa, tapi OMK-nya pandai-pandai lompat pagar. Mengapa lompat pagar? Karena tidak menemukan orang yang seusia, yang seiman untuk dijadikan jodoh.”

Fenomena lompat pagar OMK ini pun ditanggapi Uskup Harun. Pada malam sebelum peresmian paroki, dia sempat berwawan hati dengan OMK paroki ini.

“Tadi malam kepada OMK saya mengatakan, kalau tidak menemukan orang yang seusia untuk dijadikan jodoh, kenapa tidak jadi suster saja? Kenapa tidak jadi pastor saja?” tanyanya.

Romo Andreas Yudhi Wiyadi, O. Carm, Pastor Kepala Paroki St. Aloysius Gonzaga | Foto: KOMSOS KAPal

Minoritas di Tengah Mayoritas: Belajar dari Iman Petrus

Bacaan Injil yang dipilih adalah pengakuan iman Petrus akan kemesiasan Tuhan Yesus.

“Bacaan Injil hari ini memberikan nasehat pada kelompok kecil, yang hidup di tengah kelompok besar. Petrus di Filipi mengatakan Engkau adalah Putra Allah yang hidup,” kata bapak uskup.

Dia mengisahkan, kalau penduduk di Kota Kaisarea Filipi mayoritas menyembah berhala. Berbagai jenis patung mereka buat. Namun, di tengah mayoritas, St. Petrus berani bersaksi dengan lantang.

“Petrus mengatakan kepada Yesus, Engkau adalah Putra Allah yang hidup. Tak peduli kepercayaan yang lain. Saya percaya Engkau adalah Putra Allah yang hidup.”

“Kalau OMK dari semua stasi kita mengatakan seperti Petrus, Gereja ini bukan hanya akan mempunyai umat 1.000 orang. Pastilah sudah mempunyai umat berlipat-lipat, karena iman kepada Yesus tak tergoyahkan, seperti Petrus,” katanya di hadapan sekitar 700 umat Katolik.

“Sekali lagi, Petrus mengaku Yesus sebagai Putra Allah yang hidup, sebagai Tuhan di tengah orang yang berkepercayaan lain dan mereka hanya 12 orang, itupun diwakili oleh Petrus. Yang lain belum sepaham, belum sedalam iman Petrus, tetapi Petrus dengan lantang mewakili 12 orang mengatakan, ‘Engkau adalah Putra Allah yang hidup. Saya percaya kepada-Mu dan tak tergoyahkan sedikitpun oleh berbagai pesona dewa-dewi dari berbagai dunia yang disembah di sini.’ Bukankah luar biasa? Maka pantas layak Yesus mengatakan, ‘di atas batu karang ini, di atas dirimu Petrus, yang tak tergoyahkan imannya itu, Aku akan mendirikan gereja-Ku’.”

Petrus, kata bapak uskup, Petrus bukanlah seorang yang sempurna. Dia pun berdosa, bahkan pernah menyangkal Yesus. Namun dia bertobat dan mengakui Kristus lagi.

Tiga kali pemukulan gong menandai peresmian Paroki St. Aloysius Gonzaga | Foto: KOMSOS KAPal

Untuk Para Imam dan Pamong Jemaat

Uskup Harun mengatakan, “Para ketua stasi, pengurus stasi, para prodiakon, ‘gembalakanlah domba-domba’. Banggalah Anda sekalian. Mewakili para imam, mewakili saya, gembalakanlah domba-domba, di stasi yang terpencil itu, di gereja yang panas itu, yang (letaknya) jauh-jauh.”

Dia mengingatkan peristiwa awal transmigrasi. Saat belum ada kendaraan yang memadai.

“Mereka menyalakan obor. Berjalan di antara pematang sawah, tanpa sepeda, tanpa sepeda motor. Berdoa, mewariskan iman kepada anak-anak, kepada Anda sekalian.”

Sikap ini haruslah diwariskan kepada generasi mendatang.

“Kalau Anda bisa meyakinkan umat juga untuk mewariskan iman kepada anak-anaknya, dengan rajin berdoa dalam keluarga, dengan rajin berdoa untuk lingkungan, doa stasi, yakinlah, anak-anak Anda pasti tidak akan lompat pagar.”

Santo Aloysius Gonzaga

Uskup Harun meminta umat yang hadir meneladani orang kudus pelindung paroki, yaitu Santo Aloysius Gonzaga.

“Kita tahu dia adalah seorang anak bangsawan kaya raya. Sejak usia 4 tahun, dia sudah dididik untuk mewarisi harta kekayaan dan status sosial ayahnya. Pada usia 7 tahun, dia menyadari bahwa kehidupan ini penuh dosa. Perlombaan antar keluarga untuk menyingkirkan yang lain menggunakan cara-cara licik, pisau beracun, pembunuhan di antara orang yang sungguh berkelimpahan harta duniawi. Kesadaran itu membawanya meninggalkan dunia, sama seperti Petrus hanya kepada Yesus. Pada usia yang sangat muda dia masuk Serikat Yesus dan memberikan seluruh hidupnya untuk melayani orang-orang yang menderita,” ceritanya.

“Jadikanlah (dia) teladan dan mohonkanlah doa terus-menerus dari Santo Aloysius Gonzaga, agar iman kita tak tergoyahkan, pun kalau ada pesona duniawi yang begitu besar, menggoda terus-menerus,” nasehatnya.

Selain peresmian paroki, dalam Ekaristi ini juga dilantik dewan pastoral paroki dan prodiakon yang akan melayani selama satu periode.

**Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.