Tabuhan Gong Waning, alat musik tradisional Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, mengiringi prosesi arak-arakan keenam imam, Rabu (18/10). Mereka merayakan pesta 25 tahun imamat di kampung halaman Romo Frans de Sales SCJ, salah seorang pestawan. Kelima pestawan lain adalah Romo Yoseph Sutrisno Amirullah SCJ, Romo Christianus Hendrick SCJ, Romo Fransiskus Xaverius Kusmaryadi SCJ, Romo Yulius Sunardi SCJ, dan Romo Fransiskus Asisi Purwanto SCJ.

Berawal dari para imam dikalungkan selendang penyambutan, lantas mereka menaiki mobil bak terbuka. Pastor paroki dan rekan yang berkarya di Paroki Roh Kudus, Nelle juga turut menyambut di batas paroki. Sementara umat dan masyarakat Sikka berdiri sembari melambaikan tangan, tatkala tiga mobil, yang masing-masing mengangkut dua orang imam melewati rumah mereka.

Setelah berarak sekitar 5 kilometer jauhnya, mereka tiba di Kode, di kompleks rumah Romo Frans. Di sana mereka disambut secara adat, serta direciki air kelapa. Setelahnya, Tarian Soka Papak mengiringi mereka berjalan menuju rumah.




Umat Paroki Roh Kudus, mengaku bangga atas kesetiaan Tuhan, yang terpancar dalam hidup keenam imam. Bahkan, mereka sudah menunggu sejak pukul 14.00 WITA. Para imam dan rombongan dari Sumatera baru berarak sekitar pukul 17.00 WITA.

Romo Yoseph, mewakili para pestawan mengaku sangat bahagia atas antusiasme umat Katolik di sini. “Senang sekali, karena kami belum pernah. Mungkin juga karena umat di sini sangat menghormati pastor, sangat menokohkan. Terutama ya, kami berenam baru bisa berkumpul lagi setelah 25 tahun inilah, karena setelah tahbisan kami langsung mencar ke mana-mana. Baru jam 5 inilah kita bisa kumpul lagi berenam,” katanya sembari tersenyum.



Romo Frans, sesampainya di rumah, menyalakan lilin di atas empat makam. Dua di antaranya adalah makam orang tuanya. “Dua puluh lima tahun, saya katakan ‘ini baru imam!’ kalau kami, ‘ini imam baru.’ Saya tadi bilang sama diakon, apakah kita sampai (usia imamat ke-25),” kata Pater Fabianus MSsCc.





Romo Frans memperkenalkan para imam pestawan. Mereka ada yang berkarya sebagai dosen, komisi keuskupan, serta di paroki. Dia juga memperkenalkan kongregasi di mana mereka mempersembahkan diri, yaitu Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ).

Rangkaian acara penyambutan para imam pestawan ini ditutup dengan makan malam bersama. Keesokan harinya, mereka akan merayakan Ekaristi di stasi-stasi. **Kristiana Rinawati
