25 Tahun Menghidupi Persahabatan

“25 tahun lalu, saya diminta kakak-kakak (rekan tahbisan) saya ini, membuat kartu kenangan. Saya buat dua. Yang satunya adalah gambar Yesus yang memeluk manusia. Yesusnya bercahaya seperti malaikat. Satunya lagi gambar tangan yang bersalaman,” kisah Romo Yulius Sunardi SCJ, dalam sambutan di akhir Ekaristi malam itu, Jumat (20/10).

Kiri Romo Sunardi SCJ, kanan Romo Yoseph SCJ | Foto: Majalah FIAT KOMSOS KAPal

Pelukan bermakna intimate, antara Allah dan makhluk yang dipanggil-Nya, dalam hal ini adalah imam. Sedangkan berjabat tangan, bermakna hubungan baik antar sesama manusia, yaitu imam dengan umat yang dilayani, bahkan masyarakat maupun lingkungan sekitar. Baik relasi kepada Allah maupun manusia, semuanya ini diikat dalam persahabatan.

Keenam imam dehonian yang merayakan 25 tahun imamat | Foto: Majalah FIAT KOMSOS KAPal

“Sebelum ditahbiskan, kami mengikuti retret. Dalam retret itu, kami merefleksikan kata-kata yang sangat indah. ‘Aku tidak lagi menyembut kamu hamba, melainkan sahabat’,” kata Romo Sunardi, yang kini berkarya di Skolastikat SCJ Yogyakarta ini, mengutip perkataan Yesus dalam Injil Yohanes.

Romo Kusmaryadi SCJ memberikan homilinya | Foto: Majalah FIAT KOMSOS KAPal

Sahabat, menurut Romo Fransiskus Xaverius Kusmaryadi SCJ, lebih dekat dari sekedar hamba. Dia membagikan kisah pelayanannya di India, terkait persahabatan.

“Di India, kasta adalah budaya yang kental,” katanya membuka homili Ekaristi di kediaman keluarga Romo Frans de Sales SCJ.

Kasta, yang mengkotak-kotakkan sejumlah golongan, menghambat persahabatan. Misalnya saja, orang yang kastanya tinggi, tidak mau bersahabat dengan orang yang kastanya rendah.

“Saya mengatakan kepada para frater, kehadiran kita, SCJ, baru akan bermakna kalau di tempat ini bisa bersahabat satu sama lain,” katanya.

Pestawan berkunjung ke Gereja Tua Sikka | Foto: Majalah FIAT KOMSOS KAPal

Persahabatan antara seorang imam dan Allah, dengan imam dan umat ada bedanya. Ini ditegaskan oleh Romo Sunardi. Imam dengan Allah, katanya, tidak berjarak. Maka dia melukiskannya dengan pelukan. Imam dengan umat dan sesama, berjarak, maka dilukiskan dengan berjabat tangan. Jarak ini bukan sembarang jarak. Namun, jarak yang dimaksud Romo Sunardi, selebran utama pada malam itu, adalah demi merawat panggilan seorang imam.

“Karena kita hidup bersama. Kita harus saling jaga,” tandasnya.

Perayaan Ekaristi di rumah ini dirayakan karena Romo Sunardi tidak dapat mengikuti puncak pesta 25 tahun imamat, pada Minggu (22/10). Keenam imam dehonian yang akan berpesta adalah Romo Yulius Sunardi SCJ, Romo Fransiskus Xaverius Kusmaryadi SCJ, Romo Christianus Hendrick SCJ, Romo Frans de Sales SCJ, Romo Fransiskus Asisi Purwanto SCJ, dan Romo Yoseph Sutrisno Amirullah SCJ. Turut berkonselebrasi Romo Albinus Rupa Pr., Pastor Paroki Roh Kudus, Nelle.

Rencananya, Sabtu pagi (21/10) mereka akan mengadakan sharing untuk menyegarkan kembali panggilan mereka. Sebelumnya, mereka berkunjung ke rumah uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, untuk memohon berkat atas kasula baru, yang akan mereka kenakan. Sorenya, mereka akan merayakan Ekaristi di stasi-stasi Paroki Roh Kudus, sebelum merayakan puncak pesta imamat.

Selain itu, mereka juga mengunjungi tempat-tempat ziarah maupun wisata di Pulau Flores. Pesta imamat 25 tahun ini terselenggara berkat kerjasama pastor paroki dan rekan, diakon, serta umat Katolik Paroki Roh Kudus, keluarga besar, dan banyak orang yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

“Terima kasih atas perhatiannya untuk kami. Semoga kehadiran kami membawa berkat bagi Anda sekalian,” kata Romo Frans de Sales SCJ, yang adalah putra Paroki Roh Kudus. **Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.