Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih. Kalimat ini menjadi titik permenungan perjalanan hidup panggilan Rm Yoseph Sutrisno Amirullah SCJ. Beliau bersama Rm Frans de Sales SCJ merayakan 25 tahun imamat dalam misa syukur Sabtu (14/10) lalu di Gereja Santo Fransiskus de Sales.
Dalam hidup ini, sebenarnya kita semua dipanggil, tapi sedikit dari kita yang memilihnya. Seperti pengalaman Romo Yoseph yang berawal dari 31 orang seminaris hingga menuju tahbisan, hanya tersisa 7 orang tapi dari 5 angkatan.

Dalam menjawab panggilan sebagai imam, Romo Yoseph menempatkan dirinya seperti kata Santo Paulus: segala perkara dapat kutanggung karena Dia yang memberikan kekuatan padaku. Seperti Santo Paulus, dalam perjalanan pertobatan dan pelayanannya, dia mengalami banyak peristiwa dan pengalaman. Dia mampu memaknai seluruh pengalaman bukan hanya berdasar pengalaman, rasa namun iman. Di samping keterbukaannya untuk menerima rahmat Tuhan, ada sekian banyak orang yang terbuka padanya.
“Romo berusaha terbuka pada panggilan Tuhan. Romo menyadari bahwa ada sangat banyak orang terlibat dalam panggilan romo,” akunya.

Romo Yosep sedikit flashback ke masa kecilnya. Seorang anak bernama Trisno yang kini menjadi romo. Tidak pernah terpikir bahwa Trisno kecil yang dulu berjualan jagung itu akan menjadi seorang gembala.
“Dulu di tahun 80-an, kami harus bayar 85 ribu (di seminari). Tapi bapak saya tidak mampu, hanya mampu bayar separuh. Sisanya dari umat. Dulu ada Pansos juga membantu lewat orangtua asuh. Saya ingat orangtua asuh dari Amerika. Jadi dari segi dana saja sudah banyak orang yang terlibat untuk membantu saya,” kenang Romo Yoseph.

Trisno kecil yang hidupnya hanya berjualan kue dan sekolah ini pernah berpikir tentang hidupnya yang berbeda dengan anak-anak lainnya.
“Saya tanya sama Tuhan, kenapa hidup harus seperti ini? Hidup saya susah sekali. Tapi saya merasa Tuhan mengatakan bahwa memang harus ada orang yang berani memberikan diri untuk menghasilkan hidup yang baru. Itulah yang menjadikan saya berani memberikan diri.”
Keberanian untuk mengabdikan hidup bagi Gereja dan umat ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan keluarga serta teman-temannya. Cinta Tuhan yang luar biasa dirasakan oleh Romo Yoseph dan ditanggapi melalui pemberian diri yang total bagi Gereja dan keluarga.

“Tuhan mengambil saya dari tengah keluarga, mengkhususkan saya untuk dikembalikan kepada kelurga dan melayani keluarga dengan segala kekurangan dan kelemahan saya. Usia imamat 25 tahun tidak perlu ada yang dibanggakan kecuali kesetiaan. Mohon doanya agar tetap setia menjalani panggilan Tuhan.”




Usai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan ramah tamah di basement gereja. Selain merayakan pesta perak Romo Yoseph dan Romo Frans, umat Paroki Santo Fransiskus de Sales juga merayakan pesta 23 tahun imamat Rm Florentinus Heru Ismadi SCJ. **
Maria Sylvista
