Apakah Frater SCJ di Yogyakarta akan dipercayai untuk memiliki gawai pribadi? Ini menjadi salah satu topik yang dibahas dalam Temu Akbar Formator dan Koordinator Kelompok Kategorial Dehonian. Pertemuan yang diselenggarakan di Aula St. Lusia, Rumah Retret Giri Nugraha Palembang Senin sampai Rabu (11-13/12) diikuti oleh 30 formator SCJ.

Para formator adalah mereka yang berkarya di rumah pendidikan calon imam, baik seminari, postulat, novisiat, skolastikat maupun lapangan. Kreatif dan bijak menggunakan teknologi dan bermedia, menjadi harapan untuk para formator (pembimbing) maupun formandi (mereka yang dibimbing).

Teknologi informasi adalah amanat kapitel SCJ Indonesia.
“Setiap tingkat formasi dilakukan program pembinaan, agar terbentuk pribadi-pribadi yang dewasa dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. (Ini) dilakukan (dengan) pembinaan berkelanjutan (on going formation) tentang literasi digital dan etika bermedia,” kata Romo Yohanes Rasul Susanto SCJ, ketua Komisi Formasio SCJ Indonesia.

Amanat kapitel ini diwujudkan oleh subjek formasio (pembinaan). “Siapa saja subjek formasio?” tanya Romo Andreas Suparman SCJ.
Subjek utama formasio adalah Allah Tritunggal. Menurut Provinsial SCJ Indonesia ini, Allah Tritunggal menjadi inisiator utama proses formasio.

“Ini tidak boleh kita lupakan dari seluruh proses pendampingan kita. Saya kagum terhadap konfrater yang membimbing, tapi ragu dengan orang yang didampingi, lalu mengatakan, ‘siapa tahu Tuhan punya rencana lain terhadap orang ini’,” katanya.
Pribadi kedua adalah formandi, sedangkan formator berada di paling bawah. “Fungsinya hanya sebagai fasilitator dialog antara Allah dan pribadi itu sendiri (formandi),” jelas Romo Suparman.
Keterlibatan pihak-pihak lain seperti keluarga, menjadi hal penting. “Keluarga menjadi subjek. Kita melihat juga latar belakang keluarga. Keterlibatan keluarga juga penting. Di seminari, mereka juga mengunjungi keluarga. Maka hubungan dengan keluarga jangan dihilangkan. Lalu Gereja dan Masyarakat, dan pihak-pihak yang berperan,” kata Romo Suparman.

Kepada para formator, Romo Suparman mengingatkan nilai yang harus dihidupi oleh seorang SCJ. Ini dituangkan dalam visi SCJ Indonesia yang intinya mewujudkan komunitas persaudaraan Dehonian dalam cinta kasih. Semuanya demi kehadiran Kerajaan Hati Kudus Yesus di dunia ini.
“Dalam kapitel lalu ditekankan berkaitan dengan tantangan teknologi informasi, baik di tingkat formasio awal maupun formasio lanjut dan gaya hidup yang penuh kasih, menunjukkan seorang selibater (orang yang selibat atau tidak menikah), jujur, dan sederhana.”
Pertemuan ini diisi dengan sharing dan dialog para formator SCJ dari berbagai tempat. Selain pemakaian teknologi, mereka juga berbagi soal sikap yang harus dibentuk seorang SCJ, misalnya komunikasi antaranggota komunitas dan hidup doa.

Para formator juga dibekali dua input tentang bagaimana kreatif dan bijak bermedia sosial dalam formasio. Input ini akan diberikan oleh Prof. Dr. Eko Indrajit dan Rm. Dr. Yosep Susanto, Pr. Input ini akan memperkaya output pertemuan ini, yaitu rekomendasi.

“Mungkin juga baik setelah kita mendapat input dari para narasumber, (kita) memikirkan para formandi kita, khususnya para frater di Yogya, apakah dimungkinkan untuk masing-masing formandi dipercayai untuk memiliki HP? Ini tentu saja memikirkan pendampingan, risikonya,” saran Romo Suparman SCJ. **
Baca juga: Paus Tandaskan Kewaspadaan Ekstrim Diperlukan dalam Perang Melawan Korupsi di Vatikan
Kristiana Rinawati

One thought on “Frater SCJ Punya Gawai, Emang Boleh?”