30 Langkah Menuju Kekudusan (31)

Penderitaan Mendekatkan Kita pada Yesus

(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.)

Doa

“Ya Tuhanku,
Aku rindu menyentuh luka di HatiMu.
Membiarkan darahMu membasahi luka hidupku.
Hanya di sana aku menemukan damai
Sedikit demi sedikit, kasihMu menguasai hatiku.
Aku akan bersukacita walau aku menangis!” Amin.

Penderitaan mendekatkan kita pada Yesus | Foto: Pinterest

Pengajaran

Kapan kita dicambuk oleh Allah dengan tongkat hukuman? Tidak pernah! Justru kita langsung mengingat wajahNya yang berlumuran darah. Tangan dan kakiNya yang bolong karena dipantek dengan paku yang tajam. Dia yang kita cambuki bukan kita yang dicambuki! Semua terjadi, karena Dia mencintai kita yang jahat dan berdosa. Sungguh rencana Allah adalah rencana keselamatan. Apa yang Dia rindukan dengan rela menderita seperti itu? Ia ingin kita tahu berterimakasih – membalas cintaNya. Seluruh hidup dan karyaNya hanya mempunyai satu tujuan akhir, yaitu keselamatan jiwa kita. Ia sendiri telah menderita, supaya Dia dicintai oleh mereka yang menderita. Ia merindukan agar penderitaan yang kita alami semakin mendekatkan kita dengan Dia yang telah menderita demi kasihNya kepada umat manusia.

Kita ingat kisah anak hilang! Ketika ia haus, lapar dan terbenam dalam penderitaan, yang dia ingat adalah sukacita di rumah bapanya. Memori sukacita itulah yang membakar dia untuk bangkit pulang ke rumah bapa dan melemparkan diri ke dalam pangkuan bapanya yang penuh belas kasih. St Fransiskus de Sales berkata, “Allah Pencipta telah memerintahkan kepada semua ciptaan untuk tidak memuaskan kerinduan hati manusia. Tujuannya agar kita terdorong untuk kembali kepada Allah. Sangat disayangkan, sering kita kembali kepada Allah hanya karena desakan situasi daripada dorongan cinta tulus. Syukurlah Dia selalu menerima kita dengan tulus dan lembut!”

St Clemen dari Alexandria berkata, “Hati Allah itu seperti dada seorang ibu yang sangat mencintai anaknya. Tatkala kita membenamkan kepala di dadanya, semua penderitaan hilang musnah!” Di dada ibu, tangis dan derita lenyap.

St Fransiskus de Sales mengajak kita agar “Kita jangan hanya memikul salib penderitaan, tetapi juga harus mengikuti Tuhan kita. Kalau tidak, kita seperti penyamun yang disalib bersama Yesus di sebelah kiriNya. Dia tidak bertobat. Dia menerima hukuman salib, tetapi tidak mau mengikuti Yesus. Akhirnya tetap menderita. Hidup sebagai penyamun, dan matipun tetap sebagai penyamun. Demikian juga kita! Kalau kita hanya bersedia memikul salib tanpa bertobat dan mengikuti Yesus, serta semakin dekat denganNya, kita tidak mendapat keselamatan dan sekaligus hidup kita semakin buruk dan tetap menjadi orang berdosa!”

Karena itu, tatkala penderitaan tidak bisa lagi dihindari, terimalah dia sebagai duta damai. Lekaslah cium tangan yang melukai kita dengan menyadari bahwa itu adalah tangan kudus dan penuh kasih; lekaslah tundukan kepala dan buka hati untuk Allah yang penuh belaskasih. Ia sedang datang mengunjungi kita. Dialah penyelamat dan sekaligus sahabat kita. Kita menunjukkan kasih kepadaNya dengan rela menderita demi dan dalam Dia diiringi sikap menyembah, merendahkan diri dan menyerahkan diri secara total kepadaNya.

St Fransiskus de Sales memberi prinsip, “Semakin kita merendahkan diri, di sana Allah semakin dimuliakan! – the less of self there is the more of God!” Di situ Allah yang sebenarnya ada dalam diri kita dan Yesus adalah Allah! Di dalam Dia kita bisa menemukan penghiburan secara sempurna! Dialah segala-galanya.

Hanya dalam Allah, kerinduan hati terpenuhi. Di sana damai sejati kita rasakan! Ketika kita berlutut di depan salib untuk menceritakan aneka derita dan kegagalan masa lampau, di sana kita merasakan kelegaan dan damai! “Oh Tuhan Juru Selamatku, inilah aku dan aku berserah diri dan bersyukur secara total kepadaMu!”

Buchet Rohani

“Biarlah aku semakin kecil, dan Allah semakin besar!”

Yohanes Haryoto SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.