
Kamis Putih mengawali tri hari suci Paskah. Ada berbagai sebutan dari beragam bahasa di dunia ini untuk Kamis Putih. Dua yang paling popular di antaranya adalah Maundy Thursday dan Holy Thursday. Kata maundy merupakan kependekan dari kata mandatum, yang dalam Bahasa Latin berarti mandat atau perintah, sementara kata holy artinya suci. Gereja Katolik lumrah menggunakan sebutan Holy Thursday dalam Bahasa Inggris. Sedangkan di Indonesia, dikenal dengan Kamis Putih.
Liturgi Kamis Putih memiliki beberapa kekhasan yang sarat akan makna. Berikut beberapa makna dari perayaan Kamis Putih.

Penetapan Sakramen Imamat
Kisah pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus kepada para rasulnya ada dalam Yohanes 13:1-15. Setidaknya ada dua peristiwa besar dalam Upacara Pembasuhan Kaki yang dilakukan Yesus. Pertama, pembasuhan kaki menjadi peristiwa di mana Yesus menahbiskan kedua belas rasul-Nya sebagai imam.
Sebagaimana kata Yesus kepada Petrus dalam Yohanes 13:8, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Rahmat tahbisan yang sama diturunkan para murid kepada para uskup, yang memangku jabatan para rasul, hingga sekarang.
Makna pembasuhan kaki yang kedua mencakup perintah saling mengasihi. Yesus yang adalah Tuhan dan guru, menanggalkan kemuliaan-Nya dan merendahkan diri
Katekismus Gereja Katolik No. 1337 berbunyi, “Karena Tuhan mengasihi murid-murid-Nya, Ia mengasihi mereka sampai kesudahannya. Karena Yesus tahu bahwa saat-Nya telah tiba untuk beralih dari dunia ini dan kembali kepada Bapa, maka pada waktu makan Ia membasuh kaki murid-murid-Nya dan memberi kepada mereka perintah cinta kasih.”

Kelahiran Sakramen Ekaristi
Kamis Putih secara spesifik mengenangkan peristiwa Perjamuan Malam terakhir. Injil Lukas 22: 14-20 dan Matius 26:26-28 menuliskan peristiwa di mana Yesus menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya kepada murid-murid-Nya, ketika Dia mengangkat Roti dan Anggur seraya berkata “Inilah tubuh-Ku, inilah darah-Ku. Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (bdk. Lukas 22:19-20). Perintah yang sama, dilaksanakan Gereja Katolik secara turun-temurun dalam Perayaan Ekaristi.
Peristiwa Yesus menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya memenuhi peran-Nya sebagai korban Paskah, guna menyelamatkan semua makhluk.
Baik Imamat maupun Ekaristi, menjadi dua sakramen yang tak terpisahkan. Katekismus Gereja Katolik No. 1337 mengatakan dalam Peristiwa Kamis Putih, Yesus meninggalkan jaminan cinta kasih bagi para murid-Nya. Yesus mengundang mereka mengambil bagian dalam Paska-Nya, Dia menetapkan Ekaristi sebagai kenangan akan kematian dan kebangkitan-Nya dan menugaskan Rasul-rasul-Nya, yang waktu itu Ia tahbiskan sebagai imam-imam Perjanjian Baru, (Konsili Trente: DS 1740), untuk merayakannya sampai Ia datang kembali.

Tuguran
Usai Ekaristi, altar langsung dibersihkan dari segala dekorasi. Sakramen Mahakudus dalam sibori diarak meriah untuk dihormati di tempat yang telah disediakan. Ini dinamakan dengan tuguran, di mana Gereja beradorasi di hadapan Sakramen Mahakudus, berjaga bersama Tuhan, selama penderitaan-Nya di Bukit Zaitun. Ini sesuai dengan permintaan Tuhan Yesus kepada murid-muridnya dalam Matius 26:40, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” ** Kristiana Rinawati
