Tidak Ada Jalan Buntu dalam Hidup

“Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan yang kemudian kamu dapat,” kata seorang bijaksana.

Suatu hari, seorang anak muda mendatangi gurunya. “Guru, bisakah engkau tunjukkan di mana jalan menuju sukses?” tanya sang murid.

Jalan Buntu – Foto: geotimes.id

Sang guru menatap matanya tanpa mengucapkan sepatah kata. Lalu sang guru menunjuk ke arah sebuah jalan. Anak muda itu segera berlari menyusuri jalan yang ditunjukkan sang guru. Ia tidak mau membuang-buang waktu lagi meraih kesuksesan.

Setelah beberapa saat melangkah, tiba-tiba ia berseru, “Ha! Ini jalan buntu!”

Benar, di hadapannya berdiri sebuah tembok besar yang menutupi jalan. Ia terpaku kebingungan. “Barangkali saya salah mengerti maksud sang guru,” katanya.

Lantas ia berbalik menemui sang guru untuk bertanya sekali lagi, “Guru, yang manakah jalan menuju sukses.”

Sang guru tetap menunjuk ke arah yang sama. Anak muda itu kembali berjalan ke arah itu lagi. Namun yang ditemuinya tetap saja sebuah tembok yang menutupi jalan. Ia berpikir, ini pasti hanya gurauan. Ia merasa dipermainkan.

Emosi dan dengan penuh amarah, ia menemui sang guru. “Guru, aku sudah menuruti petunjukmu. Tetapi yang aku temui adalah sebuah jalan buntu. Sekali lagi saya bertanya padamu, yang manakah jalan menuju sukses? Kau jangan hanya menunjukkan jari saja, bicaralah!” katanya dengan suara meninggi.

Sang guru akhirnya berbicara, “Di situlah jalan menuju sukses. Hanya beberapa langkah saja di balik tembok itu.”

Langkahi Tembok Penghalang

Sering orang merasa buntu dalam hidupnya. Mengapa? Karena orang hanya menggunakan persepsinya tentang sesuatu. Orang tidak mau berusaha untuk meraih keinginan dirinya. Orang merasa bahwa telah memikirkan sesuatu itu sudah cukup. Tidak perlu melakukan suatu tindakan konkrit.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berani mencari dan menemukan sesuatu yang ada di balik tembok yang sering menjadi penghalang hidup kita. Anak muda itu merasa hidupnya berada di jalan buntu, ketika berhadapan dengan tembok. Ia tidak berani melangkahi tembok untuk menemukan kesuksesan hidup.

Kita hidup dalam dunia yang tidak mudah. Sejak dua tahun lalu saja kita bergulat dengan pandemi Covid-19. Seolah-olah kita semua berada di jalan buntu bertembok tebal. Namun sebagai manusia yang diberi akal oleh Sang Pencipta, kita memiliki kesempatan untuk menghadapi pandemi ini.

Tujuan akhir bukan pada menghilangnya Covid-19. Tujuan akhir dari hidup kita adalah kebahagiaan hidup bersama. Kita berjuang untuk meraih kebahagiaan dalam hidup. Karena itu, kita mesti berani menghadapi aral yang melintang pukang di hadapan kita dengan keyakinan bahwa kebahagiaan itu akan kita raih.

Mari kita terus-menerus berjuang untuk meraih kebahagiaan yang kita dambakan secara pribadi maupun bersama orang lain. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.