Romo Teja yang terkasih, pertama-tama mengikuti presentasi dalam kolom konsultasi dalam Tabloid KOMUNIO, saya menjadi semakin mantap sebagai orangtua dari anak-anak saya yang hidup di zaman modern. Saya semakin sadar bahwa menjadi orangtua di zaman modern, atau orang bilang ‘di zaman now’ itu tidak gambang. Menjadi orangtua sekarang ini semakin menantang menghadapi perubahan generasi yang lain dari zaman jadul.
Romo, nama saya Rina. Saya dari Palembang, saya juga ibu muda, anak-anak saya masih di usia sepuluh tahunan. Saya ingin minta pencerahan dari romo.
Menghadapi anak-anak zaman sekarang ini sikap-sikap yang harus saya buat atau butuhkan, sehingga saya tidak menyerah menghadapi anak-anak saya ini. Apakah yang harus saya sadari, pahami, mengerti dan kalau perlu saya rubah dalam sikap saya sebagai orangtua modern. Mohon tanggapan romo. Dan maaf bila saya merepotkan romo dengan pertanyaan ini. Mohon berkat bagi keluarga kami.
Rina, Palembang.

Mbak Rina yang terkasih, saya harus jujur mengatakan bahwa pertanyaan Anda ini sangat baik. Meski banyak teori Parenting sudah kita mengerti dan pahami, kalau sikap orangtua tidak mau berubah, semua itu sia-siap belaka. Karena itu, pertanyaan Anda sangat bermutu dan cerdas. Saya menjawab berdasarkan pendapat para ahli mengenai sikap yang dibutuhkan untuk menjadi orangtua ‘zaman now’. Ada lima hal dari sikap dan tindakan kita yang harus kita ubah dan dalami, supaya kita bisa berelasi dengan anak-anak kita secara lancar.
Sikap pertama adalah ‘berusahalah’ untuk saling memahami sudut pandang masing-masing. Mengerti dan memahami serta menerima akan membantu orangtua untuk mengatasi gap dan misunderstading dalam komunikasi dengan anak zaman now. Hal ini harus dipelajari dengan sabar bahwa anak-anak zaman now mengalami perubahan.
Kedua, mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa meremehkan dan menghakimi. Ini sikap dan tindakan yang sulit dilakukan oleh orangtua. Apalagi kalau mereka mempunyai konsep bahwa anak harus taat dan patuh kepada orangtua. Menjadi orangtua yang rendah hati itu sangat diperlukan; tidak hanya bersikap egois dan menang sendiri.
Ketiga, mengasah kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan ekspresi, perhatian dan mengulangi. Inilah ilmu-ilmu modern yang perlu kita kembangkan dalam keluarga kita. Sesuatu yang sudah kita lakukan, tetapi perlu penghayatan yang serius dan terus-menerus.
Keempat, ketika bertindak menjadi pendengar, jadilah pendengar yang baik. Menjadi pendengar yang baik pun sangat diperlukan untuk menjadi orangtua. Cobalah pahami lebih dalam bahwa kemampuan mendengar yang baik itu berarti bisa mendengar fisik dengan telinga, dengar batin kita dan lewat tingkah laku kita. Ingalah, jangan pernah menempatkan diri lebih unggul, sok menggurui, menganggap remeh seseorang dan menghindar dari menjawab.
Jangan memberi nasihat bila mereka tidak meminta, orang yang sedang bermasalah tidak ingin orang lain memperbaiki masalah mereka. Mereka hanya ingin seseorang menunjukkan kepedulian kepada mereka.
Kelima, disadari semua bahwa menjadi orangtua zaman now itu harus ekstra cerdas, melindungi dan sabar. Yang pertama harus lebih cerdas, artinya kita boleh terlahir di zaman jadul, tapi pola pikir kita di atas anak zaman now, dengan cara terus menambah literasi, baik itu digital maupun pengetahuan parenting. Dalam mendidik anak, kita harus pandai menempatkan emosi, saat di mana kita harus mempertahankan aturan, dan pada saat mana kita harus mengikuti keinginan anak. Ibarat dalam bermain layang-layang, kapan kita harus mengulur, kapan harus disentakkan dan kapan harus ditarik kencang.
Yang kedua harus selalu melindungi anak-anak dari intimidasi dan krisis percaya diri, karena kekurangan yang dimiliki anak tersebut, dengan cara terus memotivasi untuk menggali kemampuan lain yang dimilikinya.
Yang Ketika, akhirnya harus diakui pula bahwa menjadi orangtua zaman sekarang ini harus ekstra sabar. Artinya, sebagai orangtua zaman now kita dituntut untuk ekstra sabar dalam memahami keinginan dan tingkah pola anak yang de fakto sangat berbeda dengan sikap zaman kita. Maka kita tidak boleh memaksakan kehendak. Bila hal itu terjadi, gap relasi dengan anak akan terjadi, kita akan kehilangan anak kita dengan segala kepribadiannya.
Kita sadar bahwa modal utama menjadi orangtua adalah ‘iman dan cinta’ telah kita miliki dari Tuhan. Tetapi disadari betul bahwa untuk menjadi orangtua yang baik di zaman modern ini tidaklah segampang yang kita pikirkan. Kita perlu cerdas, bersifat melidungi dan harus extra sabar. Mari kita banyak berlajar dalam hal ini. Kalau Tuhan memanggil kita untuk menjadi orangtua, pasti Dia pula telah menyiapkan jawaban bila kesulitan itu kita hadapi.
Semoga bantuan para ahli keluarga, mendorong kita untuk terus belajar dan belajar dari sumber yang benar dan baik. Semoga keluarga kita selalu bahagia dan damai. **
V Tejo Anthara SCJ
