“Dilema kita adalah kita membenci perubahan dan menyukainya pada saat yang sama; apa yang benar-benar kita inginkan adalah hal-hal tetap sama, tetapi menjadi lebih baik,” kata Sydney J. Harris.
Seorang pria tinggal di desa. Tetapi tidak ada seorang pun warga yang suka dengannya. Ia adalah seorang pemarah, pemurung, dan selalu mengeluh. Akhirnya perlahan warga desa menjauhinya, satu demi satu tetangganya memilih pindah untuk tinggal di kota, karena tidak tahan dengan perilaku pria tersebut.
Setelah puluhan tahun, ada kabar bahwa desa yang mereka dulu tinggalkan, sekarang ramai dan makmur. Warga yang dulu meninggalkan desa tersebut, karena kesal dengan pria yang menjengkelkan pun bingung. “Kok ada yang mau tinggal bersama pria tersebut?” tanya mereka.
Para warga kembali ke desa tersebut dan kaget. Pria tersebut sekarang menjadi kepala desa dan sangat ramah. Ia menyambut para warga dengan senyuman. Warga yang bingung dengan perubahan 180 derajat dari pria tersebut bertanya, “Apa yang terjadi denganmu, pak tua?”
“Saat kalian meninggalkanku, aku sadar bahwa aku tidak bisa menggantungkan kebahagiaanku pada orang lain. Sudah 70 tahun aku mencari kebahagiaan dan itu ternyata sia-sia. Aku memilih untuk berhenti mengejar kebahagiaan dan menikmati hidup. Aku merasa damai dan bahagia sekarang,” jawab pria yang berusia uzur itu.
Berubah demi Kemajuan Bersama
Tidak ada yang memungkiri bahwa setiap orang mencari dan mengejar kebahagiaan. Untuk itu, banyak orang bekerja keras dengan mengorbankan berbagai hal bagi tercapainya cita-cita mereka. Langkah-langkah positif maupun negatif diambil untuk memenuhi cita-cita menjadi bahagia.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berani berubah demi meraih cita-cita hidup yang bahagia. Pria itu sadar bahwa sikap hidupnya menyebabkan eksodus masyarakat dari desanya ke kota. Karena itu, dia mesti membuat strategi yang mampu mengembalikan dirinya ke hal-hal yang positif. Dia memilih untuk berubah. Perubahan itu membawa kemajuan bagi desanya. Orang-orang yang dulu meninggalkan desa dan dirinya kemudian mengagumi pria itu.
Dalam hidup ini, sering orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Seolah-olah pencapaian kebahagiaan itu menjadi usaha diri sendiri. Ternyata pandangan seperti ini keliru. Kalau pandangan seperti ini dipertahankan, orang akan terjerumus ke dalam egoisme diri. Orang hanya mementingkan diri sendiri yang mengakibatkan orang lain akan menyingkir dari hidupnya.
Kebahagiaan itu dicapai melalui suatu proses hidup bersama yang harmonis. Ketika orang tidak bisa diandalkan dalam hidup bersama, orang mesti cepat-cepat menyadarinya. Artinya, orang seperti ini mesti berani berubah menjadi lebih baik. Tentu saja hal ini tidak mudah, karena berubah berarti orang mesti meninggalkan hal-hal yang membuat dirinya merasa senang.
Orang beriman mesti berani berubah menjadi lebih baik demi meraih kebahagiaan dalam hidup. Mengapa mesti berubah? Karena perubahan itu mampu memberi sukacita dalam hidup diri dan orang lain. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
