Membangun Kualitas Waktu

Membangun kualitas waktu dalam hidup bersama merupakan suatu keniscayaan. Mengapa? Karena hal ini semakin mempererat relasi satu sama lain.

Sejak istrinya mengandung, seorang suami merantau ke negeri orang. Di sana ia bekerja untuk mengumpulkan uang untuk penghidupan istri dan anaknya yang kemudian lahir ketika ia berada di rantau. Bertahun-tahun ia berada di tanah rantau. Meski begitu ia tetap setia mengirim uang untuk istrinya di kampung.

Waktu – Foto: images.everydayhealth.com


Ketika anaknya berusia sepuluh tahun, sang ayah pulang ke kampungnya. Ia rindu terhadap istri dan anaknya. Ia naik kapal laut, agar bisa ngirit uang. Dengan demikian, ia dapat bawa pulang banyak uang untuk keluarganya. Sebelum masuk pelabuhan, ia telah mengontak istrinya untuk menjemput di pelabuhan.


Semuanya berjalan normal-normal saja sampai di pelabuhan. Sang istri menumpahkan kerinduannya dengan memeluk dan mencium sang suami. Hampir sepuluh tahun mereka tidak bertemu, sehingga kerinduannya begitu mendalam. Semuanya kemudian berjalan normal-normal saja sebelum sang ayah memasuki rumah.


Ketika dia memasuki rumah, putri semata wayangnya sedang belajar. Sang ibu ingin membuat kejutan bagi putrinya itu. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ketika hendak dipeluk oleh ayah kandungnya, ia menolak. Dia melompat pergi untuk menghindari ayahnya.


“Dia bukan bapak saya. Saya tidak punya bapak seperti dia,” katanya dengan lantang. Hari itu anak itu meninggalkan rumah. Dia pergi ke rumah neneknya dan tinggal di sana hingga ayahnya berangkat ke tanah rantau.

Memupuk Kasih Sayang
Kasih itu mesti dipupuk terus-menerus. Kasih tidak bisa diandaikan. Ternyata keberadaan dan waktu yang berkualitas itu juga menentukan kedekatan satu sama lain. Relasi satu sama lain mesti dibangun dengan perjumpaan yang intens dan bermutu.


Kisah tadi memberi kita inspirasi untuk membangun kualitas waktu dalam menjalin relasi. Gadis kecil itu tidak memiliki kualitas waktu bersama sang ayah. Dia bahkan tidak merasakan kasih sang ayah, karena ia masih berada dalam kandungan. Tidak ada elusan kehangatan dari tangan sang ayah, ketika ia bergerak-gerak dalam perut ibunya.


Kualitas waktu berarti orang dapat menikmati waktu bersama orang-orang yang dicintai. Kualitas waktu merupakan salah satu bahasa cinta yang mesti diungkapkan dalam menjalin relasi dengan orang-orang yang dicintai. Rasa cinta dapat terpenuhi, karena orang dapat menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai.


Untuk itu, dibutuhkan komunikasi yang mampu membangun kualitas waktu dalam membangun relasi. Misalnya, saling bercerita, bercanda bersama, sampai membicarakan hal-hal yang serius. Dengan demikian, komunikasi dapat menjaga hubungan dengan orang yang dicintai.


Mari kita menciptakan kualitas waktu yang baik dalam membangun relasi di antara kita. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.