Tentu tidak dong! Ajaran Gereja Katolik berdasar Kitab Suci. Namun, Kitab Suci bukanlah satu-satunya sumber iman Gereja Katolik. Kalau begitu, apa saja sumber-sumber iman Gereja Katolik? Kitab Suci, Tradisi Apostolik atau yang sering juga disebut Tradisi Suci, dan Magisterium.
Ketiganya adalah warisan Tuhan Yesus bagi Gereja-Nya. Dan baik Kitab Suci, Tradisi Apostolik, dan Magisterium tidak pernah saling bertentangan, melainkan saling mendukung. Mari kita lihat ketiga sumber iman ini dalam perkembangan Gereja.
Sejak awal, Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan tentang kebenaran (bdk. 1 Timotius 2:4). Maka, sebelum naik ke surga, Tuhan Yesus memerintahkan para rasul untuk pergi, menjadikan semua bangsa murid-Nya, dan membaptis. Yesus berjanji akan menyertai mereka sampai akhir zaman.
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20)
Setelah Yesus naik ke surga, para rasul melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Mereka mengajar dan membaptis orang-orang. Nah, saat itu, para rasul mengajar orang-orang secara lisan, karena Kitab Suci Perjanjian Baru, yang berisi ajaran-ajaran Tuhan Yesus belum ditulis. Ajaran lisan ini berdasarkan Tradisi Apostolik. Yuk, kita mengenal apa itu Tradisi Apostolik.
Kata Tradisi berasal dari bahasa latin Tradere, artinya ‘menyerahkan’. Tradisi Apostolik merupakan Sabda Allah yang tidak tertulis yang isinya adalah kebenaran-kebenaran yang wahyukan Tuhan secara lisan kepada para rasul. Para rasul, mewariskannya kepada para pengganti mereka, yang saat ini kita kenal dengan para uskup. (bdk. KKGK 12).
Nah, lantas seiring perkembangan Gereja, umat semakin banyak dan tersebar di mana-mana, barulah ajaran-ajaran Tuhan ini ditulis dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Jadi sejatinya, Kitab Suci Perjanjian Baru mengalir dari Tradisi Apostolik dalam terang Roh Kudus. Mengapa Roh Kudus? Karena Roh Kudus-lah yang membawa kita pada seluruh kebenaran, sesuai dengan perkataan Yesus (bdk. Yohanes 16:13). Lalu diadakanlah kanonisasi atas Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan jadilah Alkitab seperti yang sekarang kita gunakan.
Dengan demikian, Tradisi Apostolik dan Kitab Suci menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan ataupun bertentangan, meskipun sebagian Tradisi Apostolik tidak tercatat dalam Kitab Suci. Sebagaimana Santo Paulus menasehati jemaat di Tesalonika.
“Berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan maupun secara tertulis.” (2 Tesalonika 2:15).
Lalu bagaimana dengan Magisterium? Magisterium adalah kuasa mengajar dalam Gereja Katolik. Siapa yang punya kuasa atas ini? Mereka adalah suksesor apostolik atau penerus para rasul yang adalah para uskup yang dipimpin oleh paus.
Kok gitu? Jadi gini, Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Santo Patrus, yang menjadi paus pertama Gereja Katolik. Tuhan menjanjikan perlindungan atas Gereja-Nya, serta memberinya kuasa.
“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Aku akan memberikan kepadamu kunci Kerajaan Sorga dan apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga” (Matius 16:18-19)
Jadi, Magisterium Gereja adalah otoritas yang dianugerahkan Tuhan Yesus kepada Gereja-Nya. Gunanya apa? Untuk menjaga kemurnian ajaran iman Kristen, termasuk di dalamnya otoritas menafsirkan Kitab Suci.
Seperti yang dikatakan Santo Petrus sendiri, “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” (2 Petrus:20-21).
Buah ketaatan kepada ketiga sumber iman: Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium yang tentunya dibawah bimbingan Roh Kudus, telah membuat Gereja Katolik bertahan hingga sekarang ini, meskipun tidak dapat dipungkiri, bahwa Gereja adalah himpunan umat Allah yang berdosa, namun sekaligus tidak dapat dipungkiri juga, Tuhan Yesus akan selalu menjaga Gereja-Nya.
Karena itu, jika kamu Katolik, tetaplah setia pada Tuhan dalam Gereja-Nya, sama seperti Kristus yang setia kepada Bapa dan setia menyertai Gereja-Nya. **
