Pernah ga sih kalian ditanyain, Eh, kalian orang Katolik nyembah patung ya?
Nah, jawaban kalian apa nih?
Yang benernya, orang Katolik itu nggak nyembah patung, guys!
Kalau begitu, kok di Gereja Katolik banyak banget patung, ikon, dan gambar-gambar rohani? Bukankah Tuhan dalam Kitab Keluaran berfirman, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya,” (Keluaran 20:4–5).

Lantas, apakah kita, umat Katolik melanggar perintah Tuhan ini?
Yuk, kita lihat maksud perintah Tuhan ini. Well, Tuhan melarang umat-Nya untuk menyembah patung. Kalau kita dengar perintah Tuhan tadi, jangan ‘membuat patung, sujud menyembah, dan beribadah kepada patung.’
Lalu kita lihat, apakah umat Katolik membuat patung, lantas sujud, dan beribadah kepada patung? Jelas tidak! Umat Katolik tidak menyembah dan beribadah kepada patung !
Lantas kalau membuat patung tidak dengan tujuan disembah apakah boleh?
Dalam Alkitab, beberapa kali Tuhan memerintahkan umat Israel untuk membuat patung. Misalnya dalam Kitab Keluaran, Tuhan memerintahkan umat Israel membuat dua buah kerub atau patung malaikat dari emas.

“Dan haruslah kaubuat dua kerub (patung malaikat) dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya. Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu.” (Keluaran 25:18–20).
Lalu, kisah ular tembaga. Saat Musa menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir, saat mereka digigit ular, Tuhan menyuruh Musa untuk membuat ular tedung dan meletakkannya di atas sebuah tiang. Musa membuar patung ular tembaga. Lantas mereka yang memandang ular tembaga itu tetap hidup, meskipun digigit ular.

“Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.” Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. (Bilangan 21:8-9)
Dari kedua contoh ini kita dapat melihat kalau Tuhan Allah tidak melarang pembuatan patung dalam ritual keagamaan, selagi patung itu tidak untuk disembah. Ini yang terjadi dalam Gereja Katolik. Kita tidak menyembah patung atau ikon-ikon suci. Sebaliknya, patung dan ikon-ikon suci membantu kita untuk semakin memusatkan pikiran kita pada Tuhan.

Lagi pula, Allah mengungkapkan diri-Nya kepada manusia. Daniel dalam kitabnya melihat Allah dengan sosok yang memakai pakaian putih, berambut seperti wol murni, duduk di takhta dengan api yang menyala-nyala. Lantas ini menjadi dasar penggambaran sosok Allah Bapa.
“Saat aku melihat, takhta-takhta ditempatkan dan yang Lanjut Usianya duduk; pakaiannya putih seperti salju, dan rambut kepalanya seperti wol murni; tahtanya adalah api yang menyala-nyala, roda-rodanya menyala-nyala.” (Daniel 7:9)

Lantas Allah Roh Kudus menyatakan diri-Nya dalam rupa Burung Merpati saat Tuhan kita dibaptis.
“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya” (Matius 3:16; lihat juga Markus 1:10; Lukas 3:22; Yohanes 1:32).
Roh Kudus mengurapi para murid Tuhan saat Pentakosta dalam rupa lidah-lidah api.
“Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.” (Kisah Para Rasul 2:1-3).
Ini menjadi dasar Roh Kudus digambarkan dengan ikon burung merpati dan lidah-lidah api.

Dan yang lebih penting adalah inkarnasi Allah Putera menjadi manusia, dalam diri Tuhan Yesus. Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose mengatakan bahwa Kristus adalah gambar (Yunani: ikon) Allah yang tidak kelihatan.
“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.” (Kolose 1:15).
Jadi jelas ya, membuat patung tidak sama dengan menyembah patung. Sekali lagi, Gereja Katolik tidak pernah menyembah patung, ikon, atau gambar rohani. Karena itu, saat patung-patung dihancurkan, kita tidak pernah kehilangan iman akan Allah, karena yang kita sembah adalah Allah bukan patung. **
Kristiana Rinawati
