Materi dari Yoseph Handoko, S.T., M.T., pada sesi keempat, menutup Seminar Pendidikan dalam rangka Dies Natalis ke-7 UKMC. Bapak Handoko adalah anggota media komunikasi ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia) DPC Kota Palembang.
Bapak Handoko memaparkan data tentang Komposisi sekolah swasta, jumlah guru, dan jumlah murid di Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Berdasarkan data-data tersebut, beliau menganalisa bahwa pertama, jumlah sekolah TK Swasta selalu lebih banyak dari TK Negeri, tetapi komposisi ini menjadi berbeda saat masuk ke SD. Kedua, komposisi jumlah Sekolah Swasta SD-SMK selalu naik, artinya tingkat partisipasi Swasta di SMA dan SMK itu lebih tinggi dibandingkan SMP dan SD. Ketiga, terjadi penurunan drastis jumlah sekolah, guru, dan murid SMP Negeri dan juga penurunan drastis jumlah pada SMA Negeri dibandingkan kategori sebelumnya.

Keempat, tidak terjadi perubahan mencolok pada jumlah sekolah SD dari 2003 sampai sekarang. Penambahan mencolok hanya pada SMP dan SMA. Kelima, komposisi jumlah SMK di Sumsel tahun 2003 sampai sekarang tidak berubah. Jumlah sekolah SMK Swasta lebih banyak dari SMK Negeri, tetapi jumlah guru dan murid SMK Negeri sekarang jauh lebih banyak daripada SMK Swasta.
Selain itu, Bapak Handoko juga memaparkan data sekolah Katolik dibandingkan dengan sekolah swasta non-Katolik dan negeri di Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Ternyata, jumlah sekolah Katolik masih sangat sedikit.
“Apakah ini ancaman? Apakah ini peluang? Semuanya tergantung persepsi kita,”
Kondisi masa depan (pesaing) sekolah Katolik akan semakin banyak menarik murid untuk sekolah di tempat mereka, karir progresif, pasar lebih spesifik, berkolaborasi, dan guru lebih pintar. Guru lebih menjadi fasilitator. Digitalisasi sekolah sangat penting. Jika ini tidak diambil oleh sekolah Katolik, maka akan diambil oleh pesaing.
Bapak Handoko menyatakan, bahwa lembaga pendidikan Katolik harus memiliki perubahan budaya yang harapannya mampu meningkatkan jumlah anak didik dan menjadi nilai tambah. Selain itu, birokrasi dalam lembaga pendidikan juga mesti dievaluasi, terutama yang berkaitan dengan komunikasi, pembayaran, penanganan keluhan, penerimaan anak didik, dan otomatisasi.
Peningkatan kualitas bagi lembaga pendidikan Katolik dapat diraih dengan kolaborasi antar sekolah, antar yayasan, antar komisi, yayasan dengan umat (knowledge sharing).
“Dalam hal ini, banyak sekali umat yang bisa membantu lembaga pendidikan Katolik lebih berkembang lagi. Dampak kolaborasi adalah kita tidak perlu menerima pegawai lagi. Bisa saling memaksimalkan. Antar sekolah bisa saling membantu, bisa kolaborasi guru, pusat studi, atau bahkan bisnis baru,” katanya.
Selain itu, LPK juga butuh terbuka pada inovasi dari berbagai kalangan. Menerima feedback pun dirasa sangat perlu untuk memaksimalkan kinerja dalam LPK. Feedback ini dapat didapatkan dari pegawai, anonym, feedback melalui konsultan, maupun feedback dari pengguna.
Menarik umat untuk memilih sekolah-sekolah Katolik juga dapat dilakukan melalui promosi melalui sosial media, ikatan alumni, brosur, promosi peluang kerja, seminar pendidikan gratis, talk show, podcast, ataupun Youtube.
“Visi tanpa eksekusi adalah halusinasi. Kalau Pak Jokowi bilang ‘Kerja! Kerja! Kerja!’ maka saya bilang ‘Eksekusi! Eksekusi! Eksekusi!’,” kata Bapak Handoko. **
Maria Sylvista
