Pada Seminar Pendidikan yang diselenggarakan di Universitas Katolik Musi Charitas Senin (18/7) lalu, Mgr. Yohanes Harun Yuwono menjadi pembicara pertama yang menyampaikan materinya. Dalam pemaparannya, Bapa Uskup menyoroti keprihatinan terhadap sekolah Katolik di zaman sekarang. Beliau mengatakan bahwa saat ini sekolah-sekolah Katolik mengalami kekurangan murid dan juga tidak lagi memunyai nama harum seperti dulu. Selain itu, banyak pula anak-anak dari keluarga Katolik yang setelah menamatkan sekolah menengah tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi.
“Pepatah latin mengatakan ‘non scholae sed vitae discimus’, kita belajar bukan untuk sekedar sekolah, melainkan untuk hidup,” tuturnya.
Menyadari hal ini, maka maka yayasan melakukan kebijakan subsidi silang bagi murid tidak mampu di sekolah Katolik milik Keuskupan Agung Palembang. Selain itu, diharapkan ke depannya yayasan keuskupan membuka sekolah-sekolah tingkat dasar di daerah-daerah pinggiran.

Sejak zaman dulu sampai sekarang, ada sekolah yang dilengkapi dengan asrama, baik yang dikelola oleh keuskupan maupun yang dikelola oleh kongregasi religius. Hal ini bisa menjadi solusi bagi para orangtua yang tinggal jauh dari sekolah yang memilih memasukkan anak-anak mereka di sekolah Katolik yang dilengkapi dengan asrama.
Di asrama anak-anak akan aman dari berbagai tindakan kejahatan yang marak di zaman ini dan orang tua tentu akan lebih tenang bekerja untuk mencarikan biaya pendidikan anak-anaknya karena tahu anak-anaknya dalam keadaan aman. Jadi, asrama bukan hanya dimanfaatkan sebagai fasilitas untuk mencari murid namun menghasilkan manusia berkarakter.
Bercermin pada Yohanes Pembaptis dan Yesus, para murid di ‘sekolah’ Yesus diajak tinggal bersama Yesus. Tidak hanya berdoa, namun Yesus mengajarkan ‘ilmu’ dan pendidikan karakter agar para murid bisa menghadapi masa depan yang berat. Di ‘sekolah’ Yesus ini, para murid harus bisa lulus dengan predikat ‘cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati’.
Bapa Uskup mengimbau pada para umat agar tidak puas menjadi warga negara kelas rendah. Umat harus bisa mengambil teladan dari para murid Yesus yang mau belajar dan ditempa oleh Yesus. Selain itu, umat juga harus mengambil spirit dari pahlawan nasional yang telah berjuang mengisi kemerdekaan bangsa ini.
“Sesuaikan dengan zaman. Umat harus berkepribadian, tidak hanya pintar dan pandai. Orang Katolik harus berusaha agar anaknya menempuh pendidikan sampai perguruan tinggi. Orang Katolik jangan menjadi warga negara kelas 2 karena tidak berpendidikan,” tegasnya.
Bapa Uskup juga menggarisbawahi pendidikan karakter yang harus ditanamkan dalam diri peserta didik, sesuai dengan rumusan Kementrian Pendidikan Nasional tentang 18 Nilai Karakter.
“Panggilan untuk ambil bagian dalam pendidikan karakter ini juga menjadi panggilan semua elemen dan institusi masyarakat, sipil maupun religius, negeri maupun swasta. Hidup terbelenggu sikap mental sectarian harus ditinggalkan dan diganti dengan sikap mental sosial kemanusiaan yang beradab,” katanya.
** Maria Sylvista
