Imam SCJ Melayani Para Imam Lansia di Amerika Serikat (2)

Pemeliharaan Kebun dan Taman

Selain tugas untuk memperhatikan pastor-pastor pensiun, taman dan kebun kami sangat luas untuk ukuran lokasi di kota besar. Karena letaknya di kota besar, maka kami harus mengikuti aturan yang berlaku di kota.  Sebagi contoh, rumput harus tetap hijau, tak boleh lebih tinggi daripada lima inci, cabang-cabang pohon harus dipangkas rapi. Bahkan jumlah pohon dan tanaman di pekarangan pun harus diinventarisir. Pada awal tahun baru lalu tercatat ada 131 pohon besar dan kecil di taman dan kebun kami. Ada 10 pohon oak dan pinus yang berumur 150 tahun. Mereka sudah tumbuh tinggi ketika lokasi dibeli dari rancher pada tahun 1978.

Di bagian depan dari pekarangan difungsikan sebagai taman saja. Selain pohon oak dan pinus yang ditanam kira-kira 40 tahun lalu, di taman tumbuh aneka tanaman, khususnya berbagai jenis palem yang memang tanaman asli Florida. Di tengah taman terdapat danau buatan yang tak pernah sepi dari aneka burung elang dan itik. Karena letaknya yang strategis dan satu-satunya taman yang berada di tengah kota, maka taman kami sering dikira sebagai taman umum. Bahkan beberapa bulan lalu kami menemukan alat-alat pancing dan jaring yang masih relatif baru. Barangkali alat-alat itu tertinggal karena pemiliknya takut tertangkap basah dan dilaporkan ke polisi.

Di bagian belakang tidak lagi berfungsi sebagai taman, tetapi kami menjadikannya kebun buah. Karena udara di Pinellas Park, Florida, sudah mendekati sub-tropis, maka kami menanam aneka pohon buah-buahan seperti jeruk nipis, jeruk buah, alpokat, mangga, nangka, papaya, dan pisang. Tahun lalu kami panen mangga sebanyak kurang lebih 200 buah. Sedangkan, marquisa, pepaya, pisang, dan jeruk nipis bisa berbuah hampir sepanjang tahun. Semua hasil kebun kami konsumsi sendiri. Panen pisang sering melimpah. Maka sekali dikonsumsi sebagian besar yang lain kami bikin roti (banana bread).

Pelayanan ke Luar

Sebelum pandemi virus COVID-19 dua orang dari kami membantu mempersembahkan misa di paroki tentangga, yaitu Paroki Hati Kudus dan Paroki St. Matius. Saya lebih sering diminta untuk membantu di Paroki St. Matius yang berjarak 10 menit dengan mobil dari rumah. Paroki ini mungkin jumlah umatnya sekitar 3000 orang, dilayani oleh dua pastor diosesan setempat. Walaupun COVID – 19 sudah mulai mereda, misa kudus baik harian maupun mingguan belum berjalan normal sepenuhnya. Dengan alasan bahwa saya tinggal bersama pastor-pastor tua yang rentan terhadap pelbagai penyakit, maka selama ini saya belum memutuskan untuk membantu misa di luar biara. Saya masih menunggu persetujuan dari komunitas.

Kecuali itu, saya juga membantu Komunitas Katolik Indonesia (KKI Florida) dengan empat kali misa dalam setahun. Umatnya tidak hanya terdiri dari orang-orang Indonesia asli, tetapi juga orang-orang Amerika yang menikah dengan orang Indonesia. Mereka terdiri dari para keluarga senior yang datang ke Amerika sekitar tahun 1950 hingga 1970. Kelompok ini berbahasa Indonesia dikacaukan dengan Bahasa Belanda dan Inggris. Kelompok kedua, ialah mereka yang datang sekitar tahun 1970 hingga 1990. Kelompok ini kebanyakan dokter (Chinese) yang lulus kuliah di Indonesia, tetapi tidak mendapat pekerjaan di Indonesia. Karena ingin meningkatkan taraf hidup, maka mereka berimigrasi ke Amerika. Sedangkan, kelompok ketiga sebagian besar mereka yang lari post kerusuhan 1998 dan mereka yang menikah atau dapat jodoh online. Orang perempuan Indonesia mendapat pasangan orang Amerika.

Konsekuensi dari melayani mereka ialah banyak dari mereka khususnya orang keturunan Indonesia generasi kedua dan ketiga tidak lagi berbahasa Indonesia. Karena itu, homili atau kotbah harus disampaikan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Homili yang disampaikan dalam Bahasa Indonesia saja membuat mereka yang tak mengerti Bahasa Indonesia menjadi penonton. Bukan hanya itu, tetapi juga ketika diadakan acara makan bersama atau acara potluck menu makanan Indonesia dan Amerika disediakan. Tak dapat dipungkiri orang-orang yang lahir dan besar di Indonesia tetap saja menyukai makanan Indonesia kendati sudah tinggal di Amerika selama puluhan tahun. Namun tidak demikian dengan orang-orang keturunan Indonesia atau mereka yang datang ke Amerika masih usia TK atau sekolah dasar.  **

Vincent Suparman SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.