Meditasi Minggu, 28 Agustus 2022 – Hari Minggu Biasa XXII Tahun Liturgi C

“Belajar Rendah Hati dan Ramah”

Sir.3,17-18.20.28-29; Ibr.12,18-19.22-24a; Luk 14,1.7-14

Yesus dan para murid-Nya mendapat undangan untuk perjamuan Sabat. Tuan rumah yang mengundang Yesus adalah “salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi” (Luk 14,1). Selain Yesus dan para murid-Nya, ada juga tamu undangan lain yang masuk ke rumah orang Farisi itu. Tentu sudah bisa diduga bahwa mereka yang diundang itu adalah anggota komunitas orang-orang Farisi. Penginjil Lukas mengindikasikan bahwa mereka yang diundang untuk ikut perjamuan Sabat bersama Yesus saat itu adalah para sahabat, saudara-saudara, kaum keluarga dan tetangga-tetangga yang kaya dari orang Farisi itu (Luk 14,12).

Hari Sabat Yahudi mulai pada Jumat petang sesudah matahari terbenam dan berakhir pada Sabtu petang. Pada Jumat petang itu Yesus datang memenuhi undangan perjamuan Sabat. Biasanya, dalam perjamuan Sabat dimulai dengan nyanyian “Shalom Aleichem”, sebuah kidung menyambut para malaikat yang menurut Talmud mengunjungi setiap rumah orang Yahudi di awal Sabat atau Jumat malam. Kemudian mereka menyanyikan “Eishet Chayil”, sebuah kidung yang merupakan penghormatan kepada wanita Yahudi atas kebijaksanaan dan kerja kerasnya yang membuat rumahnya menjadi tempat yang indah dan terpelihara (bdk. Am 31).

Sesudah kidung “Eishet Chayil”, tuan rumah atau pemimpin perjamuan membacakan “kiddush”, yaitu doa berkat sambil memegang secangkir anggur atau jus anggur. Semua orang yang hadir juga menerima beberapa teguk anggur untuk diminum. Ini adalah praktik Yahudi dalam menguduskan hari Sabat. Setelah “kiddush”, dilanjutkan dengan mencuci tangan dan doa berkat atas roti challah (roti yang terbuat dari adonan yang sebagian kecilnya telah disisihkan sebagai persembahan). Challah diiris, dicelupkan ke dalam garam, dan dimakan. Perjamuan berlanjut dengan makanan pesta, seringkali dengan nyanyian dan berbagi pemikiran Torah. Kurang lebih seperti itulah perjamuan Sabat.

Tempat Terhormat

Setelah mengajar orang-orang Farisi tentang kewajiban untuk berbelas kasih pada hari Sabat (Luk 14,1-6), Yesus beralih ke tema lain yaitu kesombongan. Dalam perjamuan Sabat itu, Yesus menyaksikan para tamu menuju kursi kehormatan (Luk 14,7). Kursi kehormatan biasanya terletak di sebelah tuan rumah atau pemimpin perjamuan. Sepertinya, para tamu undangan itu memilih tempat duduk untuk diri mereka sendiri.

Bisa jadi, meja perjamuan Sabat itu berbentuk U, sebagaimana kebiasaan pesta makan dalam Yudaisme. Dalam budaya manapun, kursi tuan rumah adalah kursi kehormatan. Tuan rumah duduk di bagian bawah U, di tengah antara dua sayap U; kursi yang paling terhormat adalah di sebelah kiri dan kursi terhormat berikutnya adalah di sebelah kanan. Tempat duduk itu menunjukkan pangkat atau peringkat seseorang dalam masyarakat. Biasanya tamu terhormat itu cenderung datang setelah sebagian besar tamu lainnya tiba.

Apa yang Tidak Boleh Dilakukan

Ketika Yesus melihat para tamu bergegas mengambil tempat duduk terhormat, Ia mengatakan sebuah perumpamaan tentang pesta perkawinan kepada mereka (Luk 14,8). Nasihat Yesus sangat jelas: “pada pesta pernikahan atau perjamuan besar, jangan pergi ke kursi kehormatan, kalau-kalau ada orang yang lebih terkemuka yang diundang untuk menduduki kursi kehormatan itu”.

Kehati-hatian dan kebijaksanaan akan membuat seseorang tidak cemas apakah dia menduduki kursi kehormatan atau tidak. Yesus melukiskan pembalikan yang memalukan: tempat duduk terhormat yang dipilih sendiri di depan umum menghasilkan rasa malu yang besar saat tuan rumah menyambut tamu yang lebih terhormat dan meminta orang yang pertama untuk pindah ke kursi “paling tidak terhormat”. Di depan mata semua orang, tamu itu harus bangun dan pindah ke kursi yang tersisa di ujung meja. Yesus ingin memberi tahu mereka bahwa lebih baik tidak melebih-lebihkan kepentingan diri, yang dapat menempatkan seseorang pada risiko aib publik yang besar.

Apa yang Harus Dilakukan

Yesus menyarankan tindakan yang berlawanan: “ambillah tempat duduk yang paling rendah” (Luk 14,10). Dengan mengambil tempat terakhir, reaksi tuan rumah mungkin sama sekali berbeda. Mungkin dia akan meminta orang tersebut untuk mengambil tempat duduk yang lebih baik. Dengan demikian, orang itu akan dihormati di hadapan semua orang yang hadir dalam perjamuan.

Bagi Yesus, masalah yang sebenarnya di sini adalah kerendahan hati. Allah akan meninggikan orang yang rendah hati dan akan merendahkan orang yang meninggikan diri (Luk 14,11). Kerendahan hati adalah jalan terbaik dalam segala urusan. Kebijaksanaan seperti itu bukan hanya perkara praktis tetapi juga memiliki nuansa spiritual dan eskatologis. George Herbert dalam salah satu bait syairnya mengungkapkan kebijaksanaan spiritual itu: “Kita harus rendah hati, jika ke surga kita pergi; / Tinggi atapnya di sana, tapi gerbangnya rendah (Humble we must be, if to heaven we go; / High is the roof there, but the gate is low).”.

Siapa yang Tidak Diundang dan Siapa yang Harus Diundang

Setelah bicara tentang kesombongan dan kerendahan hati, Yesus beralih ke gambaran lain tentang keramahan kepada mereka yang tidak bisa membalas budi. Yesus menyarankan untuk tidak mengundang teman, keluarga, kerabat, dan tetangga kaya untuk makan malam. Sebaliknya, undanglah mereka yang tidak mampu membayar Anda kembali. Undangan kepada teman hanya akan menjadi sebatas “pembaayaran kembali” dalam hal mengundang makan bersama di rumahnya. Tetapi tindakan yang lebih ramah yang Yesus sarankan memiliki upah yang lebih besar, lebih permanen, yakni upah dari Allah di surga. Keramahan seperti itu diberikan tanpa memperhatikan timbal balik dan karena itu menyenangkan hati Tuhan.

Pesan Singkat

Lukas 14,7–14 menampilkan dua karakteristik yang menonjol, yaitu kerendahan hati dan keterbukaan kepada semua orang atau keramahan. Saat duduk di perjamuan Sabat, Yesus memperhatikan para undangan berupaya menduduki kursi kehormatan. Sebaliknya, Yesus menyarankan untuk mengambil kursi paling yang bawah. Orang yang mengambil kursi yang lebih tinggi mungkin akan kehilangan kursi itu dan pergi dengan rasa malu. Lebih baik menjadi rendah hati dan membiarkan orang lain menghormati Anda.

Quezon City-Philippine 2022 @donjustin

Leave a Reply

Your email address will not be published.