Misa Kudus Sangat Alkitabiah

Orang Katolik sangat mencintai Kitab Suci. As you guys know, kalau Misa Kudus adalah sumber dan puncak hidup Kristiani. Dan semua yang kita lakukan dalam Misa Kudus setiap hari, ada dalam Alkitab!

Kita mulai dengan Tanda Salib. Doa Tanda Salib berasal dari perintah Yesus kepada para rasul-Nya, untuk pergi, menjadikan semua bangsa murid-Nya, dan membaptis mereka, “dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus” (bdk. Matius 28:19).

Salib Fransiskan

Tahukah kamu, kalau gerakan Tanda Salib sebenarnya juga sangat Alkitabiah lho! Tuhan memerintahkan Nabi Yehezkiel untuk Berjalan dari tengah-tengah kota Yerusalem dan menulis huruf T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah, karena segala perbuatan keji yang dilakukan di sana (bdk. Yehezkiel 9:4). Nah, tanda T ini dimaksudkan untuk menandai sisa-sisa umat yang setia kepada Allah, agar menyelamatkan mereka dari murka dan penghakiman Allah. Tanda T dalam huruf Yunani: (read: taf), bentuknya T. Bentuk yang sama diadopsi oleh Salib Fransiskan.

Selanjutnya, imam akan mengucapkan salam ke umat, ‘Tuhan bersamamu’, atau ‘Tuhan sertamu’. Ini bukan salam biasa, tapi adalah salam dari Malaikat (bdk. Hakim-hakim 6:12, Lukas 1:28). Lalu kita menjawab ‘dan bersama rohmu’ atau ‘dan sertamu juga’ 2 Timotius 4:22. Maknanya apa? Ketika imam mengucapkan salam kepada umat, artinya kita semua turut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah: menjadi saksi-Nya sampai ke ujung dunia (bdk. Kisah Para Rasul 1:8). Ketika kita membalas salam imam, berarti kita mengakui juga panggilan mereka yang unik, yang menghadirkan kembali Kristus di altar suci.

Young adults pray during eucharistic adoration Dec. 9 at St. Patrick’s Cathedral in New York City. The Archdiocese of New York’s Young Adult Outreach office sponsored an evening that included eucharistic adoration, confession and a Mass celebrated by New York Cardinal Timothy M. Dolan. More than 2,000 people attended the event. (CNS photo/Gregory A. Shemitz)

Dalam Ritus Tobat kita berdoa, “Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa”. Kitab Imamat mengatakan jika orang bersalah, maka ia harus mengakui dosa yang diperbuatnya (bdk. Imamat 5:5). Umat Israel sebelum beribadah, terlebih dahulu berdiri dan mengaku dosa-dosa mereka (bdk. Nehemia 9:2).

Setelah Ritus Tobat, kita memadahkan Kidung Kemuliaan. “Kemuliaan kepada Allah di surga, dan damai di bumi kepada orang yang berkenan kepada-Nya” (bdk. Lukas 2:14, versi Douay Rheims). Merupakan kalimat yang disampaikan malaikat Tuhan saat kelahiran Tuhan Yesus.

Lalu pujian-pujian kepada Allah Tritunggal seperti Bapa yang Makuasa (bdk. Mazmur 68:14, 91:1), Raja Surgawi (bdk. Mazmur 98:6, 99:4; Yes 43:15), Tuhan Yesus Kristus Putera Yang Tunggal (bdk. Yohanes 3:16), Anak Domba Allah (bdk. Yohanes 1:29), Yang Kudus (bdk. Wahyu 3:7), keseluruhan Madah Kemuliaan ada dalam Alkitab.

Liturgi Sabda berisi Sabda Tuhan, yang dalam Hari Minggu terdiri dari 2 bacaan dari Perjanjian Lama (Bacaan I dan Mazmur Tanggapan), dan 1 bacaan dari Perjanjian Baru.

Paus Mengangkat Evangeliarium

Setelahnya dimadahkan Alleluia, dalam Bahasa Ibrani artinya “Terpujilah Tuhan”. Kita bisa temukan kata ini dalam Mazmur 111-113. Pujian yang sama yang dimadahkan dalam liturgi Paskah Yahudi untuk memuji Yahweh atas bebasnya mereka dari Mesir. Kata Alleluia juga ditemukan dalam penglihatan surgawi Santo Yohanes, di mana para malaikat memuji Allah atas karya keselamatan-Nya dalam diri Kristus, sekaligus hari perjamuan kawin Anak Domba (bdk. Wahyu 19:1-9). Karena itu, setiap kita memadahkan Alleluia sebelum bacaan Injil mengisyaratkan Perjamuan Paskah Baru yang tergenapi dalam diri Yesus, sekaligus kesiapan kita menyongsong Hari Tuhan yang diumpamakan dalam perjamuan kawin Anak Domba.

Umat berdiri saat Injil diwartakan oleh imam dalam Misa

Liturgi Sabda Ini memuncak pada Bacaan Injil. Saat Bacaan Injil, kita berdiri. Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa Nehemia 8:5, di mana seluruh jemaat berdiri ketika Ezra, mulai membaca dari kitab perjanjian, setelah mereka kembali ke Yerusalem dari pembuangan. Sama seperti orang Israel yang berdiri untuk membaca Hukum Musa yang lama, kita, orang-orang Kristen berdiri untuk membaca Hukum Yesus yang baru dalam Injil.

Dalam Liturgi Ekaristi, sebelum Doa Syukur Agung, ingat kan, imam mencuci tangannya. Ini tradisi Perjanjian Lama, di mana Musa memerintahkan para imam Lewi untuk mencuci tangan mereka sebelum melakukan tugas imamat mereka dan memasuki kemah pertemuan (bdk. Keluaran 30:18-21). Imam Katolik mencuci tangan mereka sebelum memasuki ‘kemah surgawi’ yang menghubungkan surga dan bumi, saat Doa Syukur Agung didaraskan.

Sebelum Doa Syukur Agung didaraskan, Gereja memadahkan “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah segala kuasa…” Dalam Perjanjian Lama, nabi Yesaya melihat malaikat bernyanyi di tahta Allah, madah serupa (bdk. Yesaya 6:3). Dalam Perjanjian Baru, Santo Yohanes melihat madah yang sama dilambungkan di tahta Anak Domba (bdk. Wahyu 4:8). Maka setiap kita menyanyikan Madah Kudus, kita bergabung bersama seluruh Gereja di bumi, dan semua isi surga untuk memuji Allah.

Misa Kudus: saat imam memberkati roti dan anggur

Lalu, kita masuk dalam Doa Syukur Agung. Kata-kata konsekrasi “Ini tubuh-Ku dan inilah darah-Ku” dapat kita temukan dalam Injil dan surat Santo Paulus (bdk. Matius 26:26-28, Markus 14:22-24, Lukas 22:19-20, 1 Korintus 11:24-25).

Yesus: Anak Domba Paskah Perjanjian Baru

Lalu ada kalimat “darah perjanjian yang baru dan yang kekal” mengingatkan kita pada perkataan Tuhan Yesus, “perjanjian baru dalam darah-Ku” (Lukas 22:20). Ini menghubungkan kita pada Perjanjian Lama, di mana kata-kata “darah perjanjian”, mengesahkan Perjanjian Lama antara Tuhan dengan umat Israel (bdk. Keluaran 24:8). “Darah perjanjian” yang diucapkan Tuhan Yesus menandakan pengesahan atas Perjanjian Baru suatu karya penebusan Kristus atas seluruh alam ciptaan yang rusak akibat dosa. Dan setiap kali kita mengikuti Misa Kudus, ambil bagian dalam Perjanjian Baru ini.

Well, begitulah makna dari setiap Misa Kudus yang kita rayakan. Misa Kudus merangkum seluruh isi Kitab Suci. Maka ikutilah setiap bagian Misa secara utuh dan dengan penuh penghayatan. **

Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.