Berjalan Bersama: Eksplor Potensi di Keuskupan Agung Palembang

Selasa (27/9) menggoreskan sejarah bagi Keuskupan Agung Palembang. Selama tiga hari kedepan, akan berlangsung Puncak Sinode III Keuskupan Agung Palembang. Perayaan Ekaristi sore, membuka rangkaian acara yang berlangsung di Xaverius Centrum Studiorum Palembang. Lebih dari tiga ratus orang ikut dalam Ekaristi konselebrasi, yang dipimpin oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang.

Dalam homilinya, Mgr. Harun mengajak para peserta sinode untuk berani melihat ke masa depan. Ini sejalan dengan tema Sinode III Keuskupan Agung Palembang, yakni Berjalan Bersama: Semakin Beriman dan Berbuah Limpah.

Para imam berkonselebrasi dalam Ekaristi Pembuka Puncak Sinode III Keuskupan Agung Palembang

Mengeksplor Hal-hal Positif

Uskup Agung Harun mengutip pesan Injil hari itu, “Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, ke masa depan. Kita juga harus mengarahkan pandangan kita ke masa depan, bukan masa lalu. Barangkali masa depan kita akan sulit, setelah pandemi, kita akan maju tertatih-tatih. Seperti Yerusalem, akan ada derita, bahkan belum sampai Yerusalem, baru sampai Samaria, Dia sudah ditolak orang. Namun Dia tidak mundur. Dia tetap melihat ke depan.”

Meski akan banyak tantangan, namun jangan fokus akan itu. Lebih bermanfaat jika kita mengembangkan hal-hal positif, daripada hanya sibuk melihat kekurangan yang ada.

“Barangkali kita tidak perlu memikirkan jumlah umat kita yang sangat sedikit, kurang dari 1%. Sumber daya manusia juga sangat terbatas. Namun bagaimana yang sedikit itu bisa diberdayakan, barangkali itu yang harus kita cari. Kita tidak perlu mengeluhkan jarak pelayanan stasi yang terlalu jauh dari paroki, tapi memikirkan bagaimana cara menumbuhkan panggilan, agar semakin banyak pelayan kita di tempat yang terpencil,” ajak Uskup Harun.

Sebagai minoritas, jika kehadiran kita ditolak, jangan minder. “Kita tetap semartabat sebagai anak bangsa. Jangan sedakep (berdiam diri) tapi berpartisipasi. Mari seperti Yesus, yang tidak pernah menyerah tapi berani dan penuh semangat,” katanya.

Mengkatekesekan Perbuatan

Jangan membalas perbuatan tidak baik yang kita dapatkan. Kita ini murid Yesus, harus mengikut teladan-Nya. Sewaktu Yesus ditolak di Samaria, Dia memilih lewat jalan lain. Bahkan dia menasihati murid-murid yang ingin membinasakan orang Samaria.

Kebaikan Yesus terhadap sesama-Nya terjadi karena pandangan-Nya. Bagi Yesus, sesama manusia adalah sahabat. Lebih dari itu, bahkan saudara-saudari. Kebaikan Yesus tidak hanya berhenti pada diri-Nya, namun juga diajarkan-Nya kepada para murid. Model pengajaran Yesus pun perlahan tapi pasti.

Koor Seminari Menengah St. Paulus Palembang dalam Ekaristi Pembuka Puncak Sinode III Keuskupan Agung Palembang

“Sifat-Nya dikatekesekan secara perlahan, agar kita tidak syok. Murid adalah hamba dalam budaya Yahudi saat itu. Yesus tidak mengubahnya (dengan tergesa-gesa), tapi setelah tiga tahun, Dia baru mengubah status itu. Sahabat berarti sederajat dengan Dia, Sang Guru. Predikat sahabat hanya bertahan 3 hari. Setelah bangkit dari kubur, Dia memberi predikat kepada para murid sebagai saudara-saudari,” tutur Mgr. Harun.

Relasi antara Yesus dan murid-Nya, kita semua pun semakin intim, saat Dia memberikan Tubuh dan Darah-Nya. Melalui persatuan ini, kata Bapak Uskup, harus mampu membuahkan kebaikan dalam hidup kita.

“Maka kita harus memperlakukan orang lain seperti Dia memperlakukan kita. Mari kita senasib seperjuangan, seiring sejalan, agar kita berbuah limpah,” ajak Mgr. Harun. **

Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.