“Criticism comes to those who stand out” – Rio SCJ
Dalam hidup ini Tuhan yang nentuin, kita yang jalani, orang lain yang komentari. Begitulah realitanya. Akan selalu ada orang yang suka dan selalu ada orang yang menyukai kita. Komentar boleh, mengkritik boleh, nggak suka boleh, suka pun boleh, bahkan nyinyir pun juga boleh asal semua itu membangun bukan merendahkan bahkan membunuh psikis.

Suatu hari pernah saya makan di sebuah warung sederhana. Satu kalimat dari pemilik warung makan itu yang masih melekat sampai saat ini. Kalimat itu saya suka. “Kalau masakan kami enggak enak. Kasih tau kami. Kalau masakan kami enak. Kasih tahu temanmu”. Sebuah kalimat bijak yang mengajari kita bijak dalam mengungkapkan pendapat, penilaian, komentar, maupun kritikan.
Kalau kita mau mengkritik orang langsung ke orangnya. Jangan main belakang, apalagi ngrumpi sana-ngrumpi sini. Nyinyir sana nyinyir sini, bahkan membuka aib orang di depan semua orang. Sebaliknya kalau kita mau memuji orang nggak papa, walau nggak ada orangnya.
Kritik memang diperlukan, asal dilakukan dengan bijak. Ia menasehati tanpa bikin sakit hati. Memberi masukan tanpa merendahkan. Mengritik dengan kata-kata yang tak menyakitkan. Menyampaikan kritikan tanpa hujatan, emosi dan kebencian.
Nggak perlu baperan saat datang kritikan. Nggak usah putus asa bila datang buly-an, nyinyiran bahkan komentar orang. Sebuah realita hidup, akan ada selalu orang suka dan tak suka. Jalani aja, tetap tebarkan kebaikan. Maafkan dan jadikan sebuah pembelajaran. Just keep moving forward.
Luaskan hati, besarkan cinta. Sukacita dan bahagia itu sederhana kok. Ketika hati punya penampang yang luas tuk mengasihi. Saat kasih lebih besar dari kebencian, saat pengampunan lebih besar dari emosi dan sakit hati. Bahagia akan dirasakan. Ingat rumus tekanan. P=F/A. Hidup akan penuh tekanan, kebencian, nggak nyaman bila kita kebanyakan gaya. Sementara hidup akan bahagia dan penuh sukacita. Hidup akan mengalami sedikit tekanan bila luas penampang hidup kita lebih luas dari gaya, kebencian, sakit hati, luka, dan membanding-bandingkan. Do ordinary things with extra ordinary love. Deo gratias.
** Edo/ Rio SCJ
