Kalau bicara tentang emak-emak (ibu-ibu), khususnya dalam konteks masyarakat kita di Indonesia, mungkin dulu kita hanya mengenal perkumpulan ibu-ibu yang tergabung dalam kegiatan PKK, kelompok ibu-ibu pengajian, dan kelompok ibu-ibu yang sedang berkumpul untuk arisan.

Hari ini, cerita di seputar emak-emak semakin tidak terduga dan selalu penuh dengan kejutan. Mulai dari cerita tentang ibu-ibu yang bergaya ala anak muda untuk jualan bakso sampai fenomena menguasai jalanan ketika membawa motor. Mulai dari komunitas ibu-ibu yang nongkrong di sekolah sambil nungguin anak mereka selesai belajar di sekolah, sampai ibu-ibu yang mulai dan bahkan selalu membanggakan-banggakan atau memamerkan kelebihan anak-anaknya. Mulai dari kelompok ibu-ibu yang suka memamerkan perhiasan dan barang-barang mewahnya, sampai dengan ibu-ibu yang bangga sebagai ratu dalam rumah tangga, hingga suaminya terpuruk dalam komunitas “suami-suami takut istri.” Dan aneka macam fenomena lucu dan membagongkan (mengagetkan) lainnya, yang sering menjadi viral.
Dari aneka fenomena itu, yang mengagetkanku secara pribadi, adanya sekelompok ibu-ibu yang tergabung dalam group WA, khusus ibu-ibu yang anak mereka bersekolah di seminari. Sungguh mengejutkanku, karena di zamanku menjadi seorang seminaris, aku yakin orangtuaku bersama orangtua seminaris lainnya tidak akan heboh. Mereka akan sungguh mempercayakan semuanya pada penyelenggaraan ilahi. Doa! Itulah yang mereka persembahkan kepada anak-anaknya yang terpanggil. Tapi ibu-ibu dalam group WA ini sangat heboh, serasa mereka harus terus memantau dan bila perlu terlibat dalam mendidik anak-anaknya.
Salah satu dari ibu yang ada dalam group WA itu pusing tujuh keliling, bahkan bertanya kepadaku, bagaimana caranya keluarga group WA tanpa diketahui kalau ia keluar. Bukan soal cara keluar dari group, yang kemudian kami bicarakan, tetapi keherananku tentang apa saja yang membuat ibu itu menjadi pusing. Katanya, apa saja kegiatan di seminari, selalu jadi bahan pembicaraan dalam group WA. Tanpa sadar mereka mengkritik pendidikan di seminari, mengkritik pastor-pastor pembimbing, dan menjadi “pembimbing bayangan” untuk anaknya di seminari.
Salah satu kasus, anak-anak seminaris akan berziarah ke salah satu gua Maria dengan berjalan kaki selama belasan kilometer. Ibu-ibu heboh! Mereka takut anaknya nanti begini dan begitu. Pastor pembimbing dihubungi, entah apa yang diminta. Anaknya dibekali ini dan itu, termasuk nasihat-nasihat yang tak terputuskan. Aku yang mendengarkan keluh kesah ibu itu, berujar dalam hati, “Waduh, Gereja akan seperti apa ini nanti, kalau calon-calon gembalanya merupakan anak-anak mami, yang terus-menerus ‘dikelonin’ maminya!”
Memang zaman berubah! Tetapi haruskah mentalitas kemandirian, tahan banting, dan berdiri di atas kakinya sendiri tidak lagi dibutuhkan? Tentu saja itu tidak boleh terjadi. Di sisi lain, aku ingin berseru kepada ibu-ibu tersebut, “Wahai ibu-ibu, yang terpanggil untuk menjadi romo itu anakmu atau dirimu?” Jangan-jangan kehendak orangtua yang dipaksakan kepada anaknya. Seandainya benar mereka memaksakan kehendak, memangnya ada apa sih di belakang kehendak itu?
“Bangga ya mempunyai anak yang menjadi romo?”
Tentu kebanggaan yang wajar. Tapi jangan-jangan, ini bukan soal kebanggaan kepada anaknya, melainkan bangga terhadap dirinya sendiri. Mereka akan bangga karena akan dianggap sebagai keluarga yang suci — layaknya keluarga kudus dari Nazareth, yang melahirkan panggilan Tuhan kepada anak-anaknya.
“Bu,” kataku kepada ibu yang berkeluh-kesah, “Jangan keluar group WA. Tapi ajak ibu-ibu itu untuk keluar dari “seminari.” Tinggalkan anak-anak di seminari untuk bertumbuh, tanpa bayang-bayang pengaruh ibunya. Biarlah Allah yang bekerja, di dalam ketidakagresifan kalian, tetapi di dalam doa dan penyerahan diri kalian yang total.” **
Hong Kong, 2 Juni 2021 (Agustinus Guntoro SCJ)
