“Selamat malam Romo Dani… mohon maaf bude mau membagi kenangan-kenangan indah yang tak mungkin terlupakan. Begini… hari ini, 42 tahun yang lalu, kami telah dipersatukan dalam pernikahan suci oleh Rm. A. Poedjohandoyo, Pr di Gereja Katolik San Inigo, Dirdjodipuran Solo, Jawa Tengah, Indonesia. Dalam menjalani hidup perkawinan, Tuhan telah memberikan kami sepasang putra putri dan tiga cucu yang lucu.
Saya sangat bersyukur kepada Tuhan atas semuanya itu. Selama menjalani hidup bersama dalam perkawinan ada beragam sukacita. Ada juga dukacita. Tidak sedikit juga rintangan, hambatan, dan kerikil-kerikil tajam.
Hari-hari yang dilalui, kami usahakan isi dengan senyuman, tertawa, dan bahagia. Namun tidak jarang kami lalui juga dengan tetesan-tetesan air mata, pedih, bahkan sakit. Tetapi, aku yakin Tuhan telah memberikan kepada keluarga kami berkat yang berlimpah serta kekuatan dan ketabahan sehingga semuanya bisa kami lalui. Dan kami ingin menghaturkan puji syukur atas pernikahan kami yang ke-40 dalam pesta kecil dan sederhana. Itu rencana kami.
Kami telah membuat beberapa persiapan kecil. Namun Tuhan menghendaki lain, 6 bulan sebelum HUT perkawinan kami ke-40, Tuhan telah memanggil suamiku untuk kembali ke hadiratNya. Suamiku pergi tanpa pesan, tanpa sakit, bahkan saat meninggal, hari itu, ia masih mendampingi cucu kami untuk terapi, dan meninggal di dalam klinik.
Mengapa Tuhan? Mengapa? Kami sangat kehilangan. Kami sangat sediiiih. Tetapi Tuhan, kami percaya bahwa Engkau akan memberikan yang terindah pada hidup kami….Terima kasih Rm. Antonius Budiman OSC, yang hari ini telah berkenan mempersembahkan Misa Suci dengan intensi untuk mendoakan suamiku yang telah dipanggil Tuhan.”

Itulah pesan yang disertai beberapa foto seorang saudari kepadaku, yang dikirim melalui handphone, beberapa waktu yang lalu. Aku mencoba menanggapinya. “Terima kasih Bude atas sharingnya. Bude, aku kagum dengan bude yang punya pengalaman unik dalam berkeluarga. Semua memang karunia dari Tuhan… Dan adalah sebuah misteri dan peristiwa iman, di kala kehendak atau rencana Bude berbeda dengan rencanaNya. Kita doakan semoga pakde berbahagia di surga dan menjadi pendoa bagi keluarga yang ditinggalkan; anak-anak dan cucu-cucu, yang masih berziarah. Sekali lagi, terimakasih bude atas sharingnya. Semoga bude selalu sehat dan penuh berkat Tuhan.”

“Terima kasih Romo Dani atas dukungan, dan doa-doanya untuk kami yang di Tangerang terlebih doanya untuk Pakde Nono. Doa Romo sungguh menguatkan saya untuk lebih bangkit dan semangat dalam menjalani sisa peziarahan ini semoga kami lebih bisa bersyukur, dan bisa mendampingi dan membimbing anak-anak dan cucu-cucu, sampai titik akhir nanti.
Semoga keluarga kami selalu sehat dan baik. Saya hanya berusaha selalu berserah diri menurut kehendakNya. Ya, walaupun kadang-kadang juga sedih kalau ingat suami yang sudah meninggal, saat Natal atau Paskah, atau saat melihat teman-teman suami yang juga meninggal. Tetapi ya, sekali lagi, saya berusaha bersyukur atas keluarga saya, karena ada banyak orang yang hidupnya lebih susah daripada keluarga saya. Dan saya juga merasa didukung oleh keluarga besar, sahabat-sahabat, tetangga-tetangga dan umat lingkungan.
Saya merasa Tuhan selalu memberkati saya sekeluarga melalui orang-orang di sekitar saya. Semoga Tuhan juga memberkati romo Dani. Matur nuwun Romo Dani …. Berkah Dalem.”

“Maaf Bude, saya mau minta ijin.. apakah percakapan kita ini boleh saya catat dan nanti kukirim ke Majalah FIAT? Saya yakin, sharing bude bisa memberi inspirasi bagi pembaca.”
“Monggo….. silakan, kalau romo mau membuat tulisan. Jika romo membutuhkan foto-foto yang lainnya, nanti bisa kukirim lagi.

“Iya Bude terimakasih. Nanti kalau saya liburan, saya tak main ke rumah Bude lagi ya?”
“Oh iya romo… silakan.” **
Aloysius Tri Mardani SCJ
