Melayani Sesama melalui Kekuasaan

Kepuasan itu lahir dari rasa cukup atas apa yang dipunyai dan berbahagia karena apa yang ada.

Seorang raja yang sedang berkuasa merasa hidupnya kurang bermakna. Mengapa? Karena dia merasa bahwa dia lebih banyak mengurusi orang lain. Rakyatnya bahagia dan menikmati kesejahteraan. Namun dia sendiri kurang menikmati kebahagiaannya. Dia merasa bahwa apa yang dia perjuangkan itu untuk orang lain, untuk rakyatnya.

Suatu hari, sang raja memanggil para penasihatnya. Dia mengungkapkan keprihatinannya. Bahkan sang raja menyatakan kepada mereka untuk memerintah satu tahun lagi, tidak seumur hidup. Sang raja ingin menyepi. Sang raja ingin menemukan kebahagiaan bagi dirinya.

Salah seorang penasihatnya berkata, “Tuanku raja mesti mempertimbangkan baik-baik keputusan tuanku raja. Sejauh saya mengalami, tuanku raja telah melakukan banyak hal baik untuk kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat. Itulah sebenarnya sumber kebahagiaan tuanku raja.”

Sang raja tersenyum mendengarkan kata-kata penasihatnya itu. Dia pun berjanji untuk merasakan nikmatnya kesejahteraan yang telah dialami oleh rakyatnya.

Presiden Joko Widodo melayani masyarakat lewat jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia | Foto: https://img.gesuri.id/

Senantiasa Membahagiakan

Dalam buku King Henry VI, William Shakespeare menulis begini, “My crown is called content. A crown it is that seldom kings enjoy.” Artinya, mahkotaku adalah rasa puas. Itulah mahkota yang para raja jarang menikmatinya. Ada banyak penguasa yang rakus kekuasaan, namun tidak menikmatinya. Mereka hanya mau menunjukkan kekuasaan itu kepada orang lain.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk mengalami dan merasakan hidup yang sejahteraa bersama orang lain. Raja itu gelisah, karena perbuatan-perbuatan baiknya seolah-olah hanya dirasakan dan dialami oleh rakyatnya. Sedangkan dia sendiri merasa kesepian alias kurang bahagia.

Banyak orang mengatakan bahwa kekuasaan itu nikmat. Kekuasaan itu membuat diri seseorang berarti. Namun sebenarnya kekuasaan itu diberikan untuk melayani orang lain. Kekuasaan itu hadir untuk membawa orang-orang yang dikuasai kepada hidup bahagia dan sejahtera. Karena itu, kekuasaan yang otoriter hanya membawa penderitaan bagi banyak orang.

Mari kita menggunakan kekuasaan yang kita miliki demi kebahagiaan orang-orang yang kita layani. Dengan demikian, hidup kita semakin berguna bagi diri dan orang lain. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.