Setiap tahun, Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) mengadakan Memorial Day. Tepat pada bulan arwah tahun ini, Sabtu (26/11) belasan imam SCJ yang berkarya di Kota Palembang merayakan Ekaristi di Taman Getsemani, Charitas Hospital Palembang.

Taman Getsemani merupakan kolumbarium (makam) sekaligus kapel milik para suster Kongregasi Fransiskus Charitas (FCh). Di Taman Getsemani ini, beristirahat para biarawati, juga sejumlah biarawan dan imam SCJ serta diosesan Keuskupan Agung Palembang.

Romo Andreas Suparman SCJ, Provinsial SCJ Indonesia, memandang mereka yang beristirahat di sekat-sekat dinding kolumbarium. Ia mengatakan, bahwa begitu banyak kurban yang diberikan oleh para imam, biarawan, dan biarawati yang telah meninggal. Bicara soal kurban, ia juga mengajak semua yang hadir untuk belajar dari Pater Andre Prevot SCJ dan Tuhan Yesus tentang arti kurban.
“Pater Andre Prevo SCJ ingin menjadi imam yang berkurban bagi Hati Kudus Yesus. Itu dihayati dengan askese-nya (tindakan mati raga) yang luar biasa, dengan menyiksa diri, menghayati dirinya sebagai kurban,” kata Romo Suparman SCJ.

Dia menyayangkan, bahwa di zaman ini, semangat berkurban semakin berkurang.
“Siapa mau berkurban dengan rela hati? Kurban sering dipahami dengan keterpaksaan saja. Kurban tidak lagi dihayati sebagai persembahan diri kepada cinta kasih Allah sendiri,” tuturnya.


Romo Suparman menjelaskan bahwa Bahasa Latin dari berkurban adalah sacrificum.
“Berkurban (dengan) membuat sesuatu yang suci, yang kudus dalam hidup, dengan segala taruhannya. Ini makna kurban yang sesungguhnya. Tapi saat ini, nilai kurban semakin merosot. Pater Andre Prevot mengingatkan kembali akan kurban itu. Karena dengan kurban, kita melakukan sesuatu yang kudus bagi Allah dan Gereja-Nya,” jelas Romo Suparman dalam homili Ekaristi siang itu.



Arti kurban berpuncak pada diri Yesus sendiri. Romo Suparman mengajak puluhan yang hadir, para imam, biarawan, biarawati, dan umat, untuk belajar pada Yesus.
“Dia (Yesus) tidak membuang salib-Nya, tapi menghayatinya sebagai kurban kepada Bapa dan manusia,” jelasnya.
“Maka nilai kurban hendaknya kita hayati bukan sebagai nasib buruk dalam hidup kita, tapi sebagai yang kudus, yang harus kita lakukan dengan penuh cinta kasih,” tutur Romo Suparman mengakhiri homilinya.
** Kristiana Rinawati
