Kaul Kekal Suster Kongregasi FCh: Penyerahan Diri Tanpa Syarat 

Sembilan Suster Kongregasi Santo Fransiskus Charitas (FCh) bersyukur atas kaul mereka, Kamis (8/12). Tiga suster yang merayakan profesi kekal adalah Sr. M. Louista FCh, Sr. M. Valensia FCh, dan Sr. M. Fidelia FCh. Empat suster yang merayakan 25 tahun hidup membiara yaitu Sr. M. Fabiola FCh, Sr. M. Amanda FCh, Sr. M. Tarsisia FCh, dan Sr. M. Archangela FCh. Sedangkan Sr. M. Laurentia FCh merayakan pancawindu hidup membiara dan Sr. M. Agustina FCh merayakan pesta emas hidup membiara.

Syukur dirayakan dalam Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang. Turut berkonsebrasi juga Uskup Agung Emeritus, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, serta puluhan imam. 

Penyematan cincin tanda kaul kekal | Foto: KOMSOS KAPal

Kaul Tidak Bermental Nazar

Nazar dan kaul sepintas punya kesamaan, karena soal janji. Namun keduanya sangat berbeda. Nazar menurut Uskup Agung, adalah perkara barter. Menghitung untung rugi kepada Tuhan, tentang tawar menawar. Ini tidak dibolehkan dalam Kitab Suci. 

“Kaul berbeda dengan nazar, berbeda dengan sumpah. Kaul adalah penyerahan diri tanpa syarat. Kaul adalah pasrah sumarah kepada Allah. Kaul tidak mencari keuntungan dalam situasi apapun kaul harus dihayati dengan rela, baik ketaatan, kemiskinan, maupun kemurnian,” jelas Mgr. Harun.

Kaul yang tidak mencari keuntungan dihayati Sr. M. Valensia FCh. “Ada yang bertanya di media sosial, ‘Suster, mengapa suster hingga saat ini tetap menjadi biarawati?’ Pertanyaan ini disambung oleh teman-temannya. ‘Iya. Jadi suster itu nggak digaji, nggak menikah, kenapa tetap mau menjadi suster? Emang suster punya kekuatan apa untuk menjalani janji-janji seperti itu?’,” kata Sr. Valen.

Jawaban atas pertanyaan ini sama seperti ungkapan Mgr. Harun.

“Biarawati tidak sama dengan nazar atau sumpah. Jadi tidak bisa dihitung-hitung gajinya berapa, keuntungannya apa, tapi dalam refleksi saya, menjadi biarawati karena sudah banyak untungnya, maka saya tetap menjadi biarawati, karena Tuhan itu baik, amat baik dan sangat baik. Saya tidak tahu lagi cara lain untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan, selain meniadi biarawati,” ungkap Sr. Valen.

Tentang kemampuannya, dia mengaku tidak tahu apa kemampuannya. Tapi satu yang ia percayai, yaitu Tuhan akan mengirimkan penolong. 

Para suster menerima Tubuh Kristus | Foto: KOMSOS KAPal

Kaul Itu Janji Tanpa Pamrih

Janji dalam ketiga kaul, kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan adalah kerelaan tanpa pamrih. Ini harus dihayati setiap saat.

“Pun dalam mengikuti Allah harus menderita, harus kehilangan segalanya, bahkan kalau harus kehilangan nyawanya sendiri. Kaul tidak boleh kehilangan ‘roh’nya. Dalam kaul, orang tidak memperhitungkan untung rugi, bahkan dalam kaul orang siap menderita, siap melupakan dirinya sendiri,” kata Mgr. Harun.

Pengikraran Kaul Kekal Kongregasi FCh | Foto: KOMSOS KAPal

Meneladan Bunda Maria 

Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu (Lukas 1:38). Kesediaan Bunda Maria harus menjadi teladan bagi para suster.

“Dalam pasrah bongkokan, tidak berarti pasrah pasif. Maria setelah mengatakan fiatnya, dia bangun dan bergegas mengunjungi dan membantu Elisabeth. Dia bersukacita memberikan dirinya bagi perutusan. Dia siap sedia melupakan dirinya, angan-angannya, mimpi-mimpinya mungkin, tanpa syarat. Itu juga bahkan ketika dia tidak faham semuanya, akan kehendak Allah,” kata uskup agung. 

Sr. M. Henrika FCh, pimpinan umum Kongregasi FCh juga berpesan agar para suster meneladan Bunda Maria.

“Agar kita boleh terus melangkah sambil meneladan Bunda Maria. Agar kita semakin suci dalam melangkah, walau kita tahu dalam setiap langkah kita, ada saja hal-hal yang merintangi langkah hidup kita, namun ketika kita setia, kita akan dibantu Sang Bunda yang menjadi teladan kita dalam kesetiaan,” pesannya.

Koor Para Suster FCh | Foto: KOMSOS KAPal

Hati-hati Menghidupi Kaul

Hati-hati! Kaul yang tidak dihidupi dengan benar, menurut Mgr. Harun, maknanya akan sama dengan nazar, janji, maupun sumpah. Oleh karena itu, kaul harus dihidupi dengan konsisten guna lebih memanusiakan mereka yang mengikrarkannya.

“Konsisten terhadap kata-kata atau sabda yang kita ucapkan, terhadap iman yang kita ungkapkan, terhadap Allah yang selalu menyertai kita dengan segala kekayaan berkat rohani di surga,” katanya.

Konsisten berarti setia. Para suster setia karena Allah yang lebih dulu setia dan baik kepada manusia.

Tentang tema yang diangkat dalam Ekaristi ini: tidak terpandang tetapi terpilih, pimpinan umum Kongregasi FCh, Sr. M. Henrika FCh 

Ikrar kaul kekal dan pembaruan kaul dilaksanakan usai homili oleh kesembilan suster di hadapan uskup dan pimpinan umum Kongregasi FCh. Penyematan cincin menandai kaul kekal para suster. Kaul kekal berarti para suster selamanya secara tulus dan sadar menghidupi ketiga kaul. 

Para suster Kongregasi FCh selama ini memiliki concern terhadap pelayanan sosial pendidikan dan kesehatan.

** Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.