Pikiran memengaruhi segala potensi yang ada. Berpikir positif mengarahkan manusia kepada tindakan yang positif.
Seorang pria muda selalu berpikir yang negatif tentang gadis-gadis yang mendekatinya. Pria muda itu berasal dari keluarga kaya raya dan memiliki perusahaan sendiri. Dia masih lajang. Setiap ada gadis yang mendekatinya, dia selalu memikirkan tentang akan kehilangan hartanya. Akibatnya, dia sulit sekali mendapatkan pasangan hidup. Padahal orangtuanya sudah lama menginginkan dia menikah.
Suatu hari, ibunya bertanya kepadanya,
“Nak, apa yang kamu takutkan terhadap gadis-gadis itu? Bukankah sudah banyak yang mendekatimu? Pilihlah salah satu dari mereka yang cocok dengan dirimu. Ibu memberi kebebasan kepadamu.”
Pria itu berkata,
“Sejak dulu ibu selalu mengajari saya untuk fokus pada pekerjaan. Ibu juga selalu menasihati saya untuk menjaga harta kekayaan kita sebaik-baiknya. Jangan sampai ada yang merampasnya. Jadi saya menuruti nasihat ibu.”
Ibunya terkejut mendengar kata-kata putranya. Ternyata putranya salah menanggapi sampai-sampai dia memiliki pikiran yang negatif tentang gadis-gadis yang mendekatinya.

Tetap Tulus
Kekuatan pikiran ternyata sangat dahsyat. Pikiran mampu mempengaruhi seluruh hidup seseorang. Apa yang dipikirkan orang akan mempengaruhi apa yang akan dilakukan. Karena itu, yang dibutuhkan manusia adalah terus-menerus berpikir positif.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tidak membangun hidup di atas pikiran yang negatif. Pemuda itu memikirkan hal-hal yang tidak-tidak. Dia takut kehilangan harta kekayaannya yang banyak. Padahal kalau saja dia memiliki pasangan hidup yang baik, harta kekayaannya juga digunakan untuk kepentingan diri dan keluarganya.
Kita mesti membangun hidup di atas pikiran positif yang mampu memberi arah kepada kita untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar. Kita tidak membangun hidup kita dengan landasan materi atau kekayaan yang banyak. Kita mesti membangun landasan hidup kita di atas cinta dan kesetiaan.
Dua hal ini tidak mudah dibangun. Orang mesti memiliki suatu konsistensi dalam hidup. Orang mesti berani memegang komitmen untuk tetap mencintai dalam kesulitan hidup dan setia meski ada pihak yang kurang setia.
Orang beriman membangun cinta dan kesetiaan berdasarkan cinta dan kesetiaan Tuhan. Mengapa? Karena cinta dan kesetiaan itu tulus dan tidak lekang oleh waktu. Tuhan tetap mencintai dan setia kepada kita, meski kita sering menolak cinta dan kesetiaanNya. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
