Permisi Rekoleksi

Saat saya menulis ini, Desember 2022, di seluruh negeri Vietnam ada 16 misionaris dari Indonesia. Mereka adalah tiga romo Vokasionis, yaitu Rm Fabianus Hane Seran SDV, Rm. Kasianus Nana SDV, Rm. Valentinus Robi SDV), satu frater Scalabrini, yaitu Fr. Andrinus Paku CS), dua romo Dehonian, yaitu Rm. Aloysius Tri Mardani SCJ dan Rm. Suryadi Halim SCJ, tiga romo Capusin, yaitu Rm. Fransico Win Turnip OFMCap, Rm. Norbert Osten Ambarita OFMCap, Rm. Rudi Sartomo Manullang OFMCap.

Selain itu, masih ada tujuh suster dari beberapa kongregasi, yaitu Sr. Veronika Gandang OLSS-SM, Sr. Chatrin Endang Rusmini PBHK, Sr. Mariana Maja MCSS, Sr. Yuliana Antin Kaswarini MCSS. Sr. Bernadeta Nunur RMI, Sr. Jackline Wisye Astrid Tulus CB, dan Sr. Cecilia FSE.

Awal tahun 2020 yang lalu, kami berkumpul dan membuat nama untuk kelompok ini. Kami sepakat memberi nama Permisi, yaitu Persaudaraan Misionaris Indonesia di Vietnam. Ya itu nama kami, Permisi.

Salah satu program rutin yang juga ditunggu-tunggu adalah rekoleksi bersama sekali setahun. Seperti yang kami lakukan minggu ketiga Adven tahun ini, 17-18 Desember 2022. Rekoleksi kali ini dipandu oleh Rm. Norbert Osten Ambarita OFMCap. Dalam rekoleksi ini, Romo Norbert mengajak kami merenungkan tokoh Miryam, yang ada dalam Kitab Suci Perjanjian Lama.


Dalam kitab Bilangan 26:59; dikatakan bahwa istri Amram adalah Yokhebed. Dalam kitab I Tawarihk 6:3 dikatakan, “Anak-anak Amram ialah Harun, Musa dan Miryam. Di dalam Keluaran 15:20-21 ia dinyatakan sebagai seorang nabiah, yang menyanyikan lagu kemenangan pada Laut Teberau. Dan di padang gurun Kadesy, Miryam meninggal (Bilangan 20:1)


Pertama-tama, kami diajak untuk merenungkan kisah Miryam saat ia diminta ibunya untuk mengawasi bayi Musa yang dimasukkan ke dalam kotak dan dihanyutkan di tengah-tengah teberau di tepi Sungai Nil (Kel 2:3-4). Ketika bayi itu ditemukan oleh Putri Firaun, Miryam menyarankan ibunya sebagai inang penyusu.


Kami juga diajak untuk merenung tentang Miryam yang terkena kusta (Bilangan 12:1-16). Dalam perikopa itu; Miryam dan Harun berontak melawan Musa, karena Musa menikahi perempuan Kush. Namun hanya Miryam yang terkena kusta. Miryam hanya diam menerima sakit kusta itu, walaupun sebenarnya ia bisa saja protes kepada Tuhan, mengapa Harun tidak kena kusta? Selain itu, kami juga diajak untuk merenungkan bahwa Miryam meninggal di padang gurun, dalam perjalanan menuju Tanah terjanji.


Dari Miryam kita bisa belajar tentang kesetiaan, ketenangan dan fokus dalam menjalankan tugas; sikap menerima dan pasrah saat menderita sakit; dan berusaha menguatkan dan menghibur saudara-saudari seiman; yang menantikan Tanah Terjanji. Itulah beberapa kata kunci yang kupetik, dari rekoleksi Permisi, beberapa hari lalu. **

Aloysius Tri Mardani SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.